12/10/08

PERANG PEMIKIRAN ALA PEDHET DAN KAMBING

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Pagi itu, kang Paijo pergi ke pasar hewan yang terletak tidak jauh dari pasar Prambanan. Letaknya tepat di sebelah selatan rel kereta api. Ada apa gerangan? Ternyata, Kang Paijo sedang mencari pedhet (anak sapi). Dari rumah ia sudah menyiapkan uang untuk membeli pedhet. Sesampainya di pasar, kang paijo segera mencari hewan yang dimangsud.

Kang paijo: “Kang aku lagi nyari pedhet ni... Ada yang bagus gak?

Penjual : Wah ada kang, ini dia... bagus! Weh...di sini, ini yang paling bagus, ga ada yang nyaingilah!

Kang paijo: Ya, bagus. Tapi, ini pedhet tenan tho? Bukan kambing?

Penjual: Ya Iya lah, mosok beli pedhet dikasih kambing, sampeyan kan tau sendiri kalo ini anak sapi, bukan kambing!!

Kang paijo: Wah, yo wis...Berapa harganya kang...?

Setelah selesai tawar menawar, akhirnya kang paijo berhasil membawa pulang pedhet tadi. Ia pun menuntun pedhetnya menuju rumahnya karena tidak kuat menyewa kendaraan untuk mengangkut pedhetnya. Ya, lumayanlah sambil untuk jalan-jalan dan olahraga.

Dalam perjalanan menuju rumah tersebut, kang paijo berpapasan dengan banyak orang yang bertanya-tanya tentang hewan yang sedang dituntunnya itu. Anehnya pertanyaannya mirip:

 "Kang kambingnya besar banget belinya di mana? tanya orang lewat. Kang paijo, sambil bersungut-sungut menyanggah, "Saya tidak beli kambing mas, jadi tidak tau brapa harganya".

"Lha itu yang dituntun itu kan kambing..!" tukas orang itu sambil menunjuk ke arah hewan yang dituntunnya.

"Ini pedhet mas, bukan kambing...!" sergahnya sambil terus berlalu tanpa memerhatikan celotehan orang tadi.

Jarak beberapa meter sudah ada lagi yang bertanya "Kambingnya beli di mana kang?". Ini bukan Kambing, tapi Pedhet..!" kata kang Paijo geram sambil buru-buru mempercepat langkahnya.

Sudah dua kilo ia berjalan dari pasar tadi, dan sampai disini sudah 10 orang lebih menanyakan perihal yang hampir sama, berapa harga kambingnya, belinya di mana, dsb..

Akhirnya kang paijo pun jadi ragu juga, sebenarnya yang ia beli ini pedhet atau kambing? Berkali-kali ia mengucek matanya, sambil memegangi hewannya tersebut, penasaran apakah hewan ini benar-benar pedhet seperti kata penjualnya tadi, ataukah ini memang kambing seperti yang dikatakan orang-orang yang ditemuinya dijalan tadi.

Sambil berjalan menuntun hewannya, kang paijo masih saja mendapati pertanyaan yang sama perihal hewannya itu, dan semuanya menyebut hewan itu sebagai kambing, bukan pedhet. Maka ia kembali ragu, masak orang-orang yang banyak itu tadi salah sebut sih? Kok semuanya menyebut hewan ini sebagai kambing, jangan-jangan ini memang kambing..!

Ditengah kebingungannya itu, kang Paimin yang tetangga sebelah rumahnya menyahut, "Eh kang, wah...kambingnya besar banget beli di mana nih? Sampai di sini maka yakinlah ia, bahwa yang dibeli tadi adalah memang kambing. Sambil tergagap kang paijo menjawab, "Di pasar Prambanan mas..!"

Sesampainya di rumah, ia segera mengikat hewan itu di kandang. Istrinya yang kaget melihat suaminya, bertanya" Dari mana Pak?"

“Dari beli kambing di Prambanan, tu sekarang tak iket di kandang" jawab kang Paijo.

Istrinya yang pensaran segera menuju kandang untuk melihat kambing itu, karena tadi pagi suaminya tidak bilang-bilang kalau mau beli kambing. Namun, setelah sampai kandang, tiba-tiba ia berteriak, Pak…Maling…Maling…kambing kita hilang Pak…!”

Kontan, kang paijo langsung menuju sumber suara, tapi dilihatnya hewan yang dibelinya tadi masih di sana.

“Wo…dasar sontoloyo..! Kambinge sopo sing ilang? Ha wong itu masih di depanmu itu kok”

Istrinya yang bingung segera mengarahkan pandangan ke depannya, tapi yang ia temukan hanyalah pedhet.

 --------------------------------------------Selesai--------------------------------------------------

Ya, itulah cerita kang Paijo yang dengan mudahnya digoyang dari keyakinannya yang benar dengan modus yang kelihatannya sederhana, seperti metodenya orang-orang tadi menyebut kambing, padahal itu pedhet. Mereka memberondong kang Paijo dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kang Paijo ragu bahwa hewan yang dibelinya adalah pedhet. Lama kelamaan, kang paijo menjadi bingung, dan bahkan kemudian menjadi yakin bahwa yang ia bawa itu adalah kambing, bukan pedhet. Padahal akal normal akan tetap mengatakan bahwa itu adalah pedhet.

Kiranya, kondisi yang dialami oleh kang paijo tadi juga banyak dialami Umat Muslim dalam kehidupannya. Umat sedikit-demi sedikit mulai difamiliarkan dengan gaya hidup orang barat. Awalnya pakaian-pakaian minim yang kekurangan bahan itu masih dianggap seronok—dalam taraf ini masih dianggap tidak normal dan tidak wajar. Tetapi karena pakaian-pakaian itu sering ditampilkan, bahkan dengan gencar dipromosikan, maka pakaian-pakaian kurang bahan itu pun menjadi wajar ( tetapi tetap saja tidak normal). Begitupun tayangan-tayangan seronok model layar biru atau gambar-gambar bokep menjadi sesuatu hal yang—mungkin—biasa-biasa saja alias dianggap wajar (tetapi tetap saja akal sehat tidak akan menganggap itu normal).

Dalam hal lain misalnya, kebiasaan judi dan minum-minuman keras yang sudah mendarah daging juga telah dianggap wajar. Bahkan, takhayul, zina, prostitusi, pamer aurat, dan hal-hal negative lainnya boleh jadi akan menjadi sesuatu hal yang wajar suatu saat, karena ribuan kali diulang-ulang dan ditanamkan dalam pikiran bawah sadar kita. Seperti kata pepatah, “kebohongan yang diulang-ulang berkali-kali akan menjadi kebenaran”.

Dalam tataran lebih canggih, kebohongan ini dikemas seolah-olah sebagai sesuatu yang benar, atau dalam istilah al-Qur`an disebut sebagai talbisul haqq bil baathil (Q.s al-Baqarah [2]: 42). Umat mulai dibiasakan dengan istilah-istilah rumit untuk memelintir kebenaran. Kesesatan ahmadiyah yang seharusnya sudah final cap kafirnya, dibiaskan permasalahannya pada masalah kebebasan berpendapat, masalah pornografi dan pornoaksi juga disempitkan pada kebebasan berpendapat ini. Kesesatan metode dan cara berfikir dalam memahami Islam dibungkus dalam istilah Islam kontekstual atau bahkan liberal. Sampai pada penggunaan makna semiotika dalam suatu kata atau kalimat. Maka, jaman dulu kita mengenal yang namanya darmogandul dan gatholoco.

Kita kutipkan gabrulannya gatoloco misalnya:

“Santri berkata: Engkau makan babi. Asal doyan saja engkau makan, (engkau) tidak takut durhaka.

   Gatoloco berkata: Itu betul, memang seperti yang engkau katakan, walaupun daging anjing, ketika dibawa kepadaku, aku selidiki. Itu daging anjing baik. Bukan anjing curian.

    Anjing itu kupelihara dari semenjak kecil. Siapa yang dapat mengadukan aku? Daging anjing lebih halal dari daging kambing kecil. Walaupun daging kambing kalau kambing curian, adalah lebih haram. Walaupun daging anjing, babi atau rusa kalau dibeli adalah lebih suci dan lebih halal”

Lha, dasar ngawur, yang namanya haram ya tetap haram..! ha wong mau bilang “biarin makan yang haram, terserah gue”  aja kok pake muter-muter , mbahas kambing curian…ha yo jelas ngoyoworo, jelase ra nyambung tho yo…!

Ya, inilah perang pemikiran yang sudah ada disekitar kita. Tiap hari kita menghadapi ribuan peluru dan bom dilancarkan melalui tinta-tinta media, atau tayangan-tayangan televisi. Dan boleh jadi kita tidak sadar, bahwa pemikiran kita sedang dicuci sedikit demi sedikit, yang pada akhirnya pikiran kita akan berubah, seperti berubahnya Kang paijo dalam cerita di atas.

Silakan meninggalkan komentar Anda di sini
Emoticon Emoticon

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- Melayang --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-1793065522891176" data-ad-slot="5011446128" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>