3/29/09

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Sebuah kisah tentang orang aneh

Matahari telah melenggang di ufuk barat dengan sinarnya yang mulai redup, meski hangat masih kurasakan saat tersadar bahwa diriku sudah melayang di atas Janti flyover. Perjalanan dari kantor sedari tadi layaknya rutinitas yang karena sudah biasa sehingga sudah hafal di luar kepala. Selama ini, aku memang masih memercayakan arah yang kutuju pada hafalan di kepala, meskipun aku pernah salah arah, gara-gara hafalan di kepala dan tempat yang kutuju berbeda. Ya, waktu itu seharusnya aku ke Timur, ke arah Jawa Tengah, tetapi otakku yang sudah terotomatisasi mengarahkan laju motorku ke arah kota Jogja; arah yang berlawanan. Ah... memang orang aneh mempunyai hal-hal anehnya sendiri-sendiri.

Motorku mulai melayang menuruni jembatan hingga sampai di pertigaan Mirota, tapi tetap saja ingatanku masih belum lepas dari masalah kehamilan. Ya, selama sepekan ini aku berkutat dengan masalah kehamilan. Bahkan siang tadi aku sibuk browsing berburu bahan-bahan yang berhubungan dengan hamil, melahirkan, hingga proses membesarkan anak.

Pikiran itu tetap saja memenuhi benakku sepanjang perjalanan. Sampai tiba-tiba kulihat seorang kakek tua bungkuk berdiri dipinggir jalan sambil melambai-lambaikan tangannya pada sebuah angkot yang melaju beberapa meter di depanku. Angkot itu sepertinya tidak menghiraukannya dan memilih berjalan meninggalkan sang kakek. Kakek yang malang itu tetap membungkuk, pakaiannya terlihat lusuh. Di belakangnya ada beberapa karung yang tak kalah lusuhnya dari sang kakek. Entah apa isinya, sama sekali tak ingin kutahu.

Dengan penampilan yang seperti itu, tak mengherankan jika angkutan itu tidak menghiraukannya, apalagi ditunjang gaya lambaian sang kakek yang sambil membungkuk, tidak seperti orang mencegat angkutan; pastilah tidak ada angkot yang akan berhenti.

Deg... perasaan iba muncul. Sekilas kulihat kakek itu dari jauh, kucoba menurunkan laju motorku agar aku bisa mengamatinya atau bahkan berhenti. Tapi ternyata egoku lebih besar dari ibaku, motorku tetap saja melaju meninggalkan kakek malang itu. Sampai di sini pembaca boleh menyalahkanku. Kadang, semua memang tidak datang seketika.

“Ah…ternyata memang susah..!” Ingatanku kembali terseret pada momen tadi pagi saat dengan paksa disodori buku Jalan Cinta Para Pejuang dan diminta untuk membuat resensinya. Pfffuih…! Ku terima buku itu dan kubaca lembar demi lembarnya. Aku kurang bersemangat membacanya, sampai mataku menangkap bahasan mengenai sebuah kisah, tentang orang samaria, sebuah kisah dalam bible Lukas yang dirampok, digebuki dan dibiarkan terlantar dalam penderitaannya di pinggir jalan antara Jerussalem dan Jericho. Dalam kisah itu, seorang imam dan seorang Levi –dua manusia dari kelompok ’terhormat’- lewat, tapi bukannya berhenti, mereka malah menjauh dan pura-pura tidak tau. Tetapi justru orang Samaria –suku yang dianggap berkasta rendah, berperilaku hina, dan minoritas dalam tradisi Israel- mendatangi dan merawat luka-lukanya.

“Ah…! Itu hanya kisah…!” Pikirku.

Tak terasa satu kilo meter sudah aku lewat dari sang kakek tapi tetap saja aku masih bimbang.

“Ah… nanti juga ada yang menolong kakek itu,” bisik hatiku.

“Berbaliklah..! Mungkin kakek itu sudah berada di sana lama, Apakah kau akan seperti seorang imam dan seorang Levi itu? Meninggalkan orang yang seharusnya engkau tolong??? “

Sepeda motor kuhentikan, tapi dengan bimbang aku lajukan kembali… “Ah mungkin kali ini aku harus kalah…!”Begitu pikirku. Sesampainya di sebuah belokan, entah kenapa tiba-tiba aku berbelok.. ya, berbelok ke jalur sebelah dan kembali lagi ke tempat sang kakek berdiri. Masih kulihat sang kakek berdiri membungkuk. Entah sampai kapan ia akan seperti itu. Orang-orang yang berada tak jauh darinya seakan tidak menyadari kalau sang kakek ada di sana.

Segera kuparkir motorku, kusapa beliau seramah mungkin,

Mau nyegat Angkot ya, Mbah?? Tanyaku tapi dengan bahasa jawa ngoko halus.

Tak kudengar jawaban beliau, yang kutangkap hanyalah kata “iya”, dari guratan wajah dan sikap tubuhnya.

“Mbah, sudah lama nyegat angkotnya?” Lagi lagi aku bertanya, tapi yang ku dapat hanyalah isyarat aneh yang tak kumengerti. Dan sekali lagi kuanggap bahwa itu berarti “iya”. Sejurus kemudian kulihat di arah barat ada angkot mendekat, segera kucegatkan angkot itu untuk beliau, dan beliau segera naik. Sejenak aku ingat di belakang beliau ada 2 buah karung, apakah ini punya kakek ini?

Kutanyakan lagi, tapi lagi-lagi jawabannya tidak dapat ku mengerti. “ Ah…pasti iya…!” pikirku setelah melihat karung itu. Segera saja kunaikkan ke angkot. Sejenak sebelum angkot melaju, sang kakek sempat mengatakan sesuatu, “Terima kasih ya…!”

Aku agak lega, namun satu hal yang membuatku masih cemas adalah…apakah sang kakek mempunyai uang untuk membayar? Namun sebelum ini sempat kuutarakan, angkot itu telah melesat meninggalkanku, di sini…!



----------------------------------------------------)i(----------------------------------------------------

Silakan meninggalkan komentar Anda di sini
Emoticon Emoticon

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- Melayang --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-1793065522891176" data-ad-slot="5011446128" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>