5/12/12

Sapaan Pengingat: Kecil Tapi Bermakna

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online


sumber: syamatahari.com

Sore itu, selepas shalat Ashar, di mushalla kantor, seorang kawan berdiri. Tampaknya hendak mengerjakan shalat sunnah ba'diyah. Seorang teman senior di dekatnya lalu menjawilnya menanyakan, "Mau shalat apa?" Maka terjadilah diskusi kecil itu. Sang kawan yang hendak shalat sunnah ba'da Ashar tadi akhirnya tahu bahwa tidak ada shalat sunnah selepas 'Ashar. Tidak hanya itu, ia juga akhirnya mengerti kapan saja waktu yang diperbolehkan untuk melaksanakan shalat sunnah Rawatib. Sebuah pengingat kecil, tetapi mencerahkan. Menyelamatkan seorang Muslim dari kesalahan.

Di lain waktu, hari Jumat, menjelang shalat Jumat, saya melihat empat orang menggelar sajadah di bawah pohon. Letaknya sekitar 10an meter dari lokasi masjid tempat dilaksanakannya shalat Jumat, padahal di dalam masjid masih tersedia cukup tempat. Di samping itu, tidak ada jamaah yang meluber ke halaman. Hanya mereka saja yang memisahkan diri, mencari tempat teduh. Hati saya terusik meski tetap berjalan ke arah yang lain. Tetapi, nurani saya menang kali ini, saya berbalik, mendatangi mereka. Setelah meminta maaf terlebih dahulu, saya menjelaskan bahwa posisi mereka semacam itu sudah bukan lagi dalam kategori makmum. Sebabnya, selain jarak mereka yang agak jauh dari jamaah, juga tidak ada sambungan shaf di depan mereka. Saya pun berlalu ketika mereka terlihat mengerti maksud saya. Sebuah pengingat kecil, dan semoga mampu mencegah rusaknya amal dikarenakan ketidaktahuan.

Sementara itu, selepas salam shalat Maghrib itu, seorang bapak di samping saya berujar, mengingatkan untuk menutupi dengan tangan ketika menguap karena itu datangnya dari setan. Saya iyakan saja, meski saya lupa apakah tadi menguap atau tidak. Sebuah pengingat kecil, tetapi bermakna.

Mengingatkan, barangkali tidak harus pada hal-hal yang besar. Banyak hal kecil yang di dalamnya perlu dibudayakan semangat saling mengingatkan. Shalat misalnya, saya merasa beruntung karena selalu ada rekan kantor yang mengingatkan untuk shalat, jadilah kami saling mengingatkan. Dalam perjalanan menuju mushala, tak jarang rombongan kami bertambah banyak, juga karena saling mengingatkan.

Ya, mengingatkan. Bukankah mahallul khatha' wan nisyaan: manusia itu tempat salah dan lupa? Di samping itu, bukankah mengingatkan saudara muslim dalam kebaikan adalah kewajiban? Jika saja setiap kita bisa saling mengingatkan hal-hal dalam kebaikan, baik itu yang terlewat, yang belum diketahui, atau hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan, sekecil apa-pun, niscaya masyarakat kita akan menjadi masyarakat islami yang tidak ada kejahatan di dalamnya. Sebabnya, semua peduli dengan mengingatkan orang lain. Namun, semua itu tidak bisa terwujud kecuali dimulai dari diri kita, sekarang. Mari ingatkan diri dan saudara kita, semampu kita.  :)

Silakan meninggalkan komentar Anda di sini
Emoticon Emoticon

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- Melayang --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-1793065522891176" data-ad-slot="5011446128" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>