6/19/12

Bangsa Indonesia Bangsa Poliglot

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Barangkali ada yang bertanya, “Apa itu poliglot?” Yang jelas poliglot tidak ada hubungannya dengan poligami atau poliandri. Poliglot adalah sebuah istilah kebahasaan. Untuk memperjelas akan saya hadirkan definisinya di sini. Menurut Kamus Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa, poliglot diartikan sebagai “dapat mengetahui, menggunakan, dan menulis dalam banyak bahasa; atau orang yg pandai dalam berbagai bahasa.” Maknanya bahwa seorang poliglot memiliki kemampuan untuk memahami berbagai bahasa.
Lantas apa hubungannya dengan bangsa Indonesia? Tentu saja hubungannya baik-baik saja sangat erat. Bangsa Indonesia pada dasarnya adalah bangsa yang memiliki tingkat keterbukaan bahasa (welcomitas)[1]yang begitu besar. Hal ini dapat dipahami mengingat sejarah bahasa yang digunakan oleh bangsa ini memang tergolong unik. Kawasan nusantara sejak dahulu merupakan pusat pertemuan berbagai bangsa di dunia. Mereka datang untuk menjual dagangan sekaligus mencari berbagai komoditi yang mereka butuhkan di negeri asal mereka. Persinggungan berbagai bangsa dengan beragam bahasa ini tentu saja membutuhkan sebuah bahasa yang mampu menampung kebutuhan komunikasi antar bangsa tersebut. Sejak itu hadirlah  sebuah lingua franca yaitu bahasa melayu yang merupakan embrio dari bahasa Indonesia.
Lingua franca ini kemudian berkembang pesat dengan majunya kerajaan Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Bahkan kemudian bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bangsa lain: Sansekerta, Arab, Persia, India, China, dan lain-lain. Karena itu tidak heran jika saat ini banyak terdapat kata-kata yang sebenarnya bukan asli dari bahasa Indonesia. Artinya bakat poliglot (mengucapkan berbagai bahasa) sudah diwariskan oleh para pendahulu kita.
Masyarakat kemudian menjadi terbiasa memakai istilah yang berasal  dari  bahasa asing  asal 'tampak' seperti  bahasa Indonesia. Akhirnya kini marak penggunaan kata-kata yang aslinya tidak ada. Seperti welcomitas yang saya sebutkan di atas. Asal cocok dan dapat ditangkap maknanya, maka tiada masalah jika harus menggunakan kata-kata itu. Sebagai contoh, kita lebih mengenal kata efektif dan efisien daripada sangkil dan mangkus. Atau lebih sreg menggunakan kata ‘software’ daripada memakai kata ‘perangkat lunak,’ lebih enak memakai kata ‘welcome’ daripada ‘selamat datang’ di keset.
Bahkan Alif Danya Munsyi merespon fenomena welcomitas bahasa Indonesia ini dengan membuat buku berjudul: 9 Dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing (KPG, 2003), sebuah buku yang menguak fakta-fakta menggelitik tentang banyaknya kata yang selama ini dianggap ‘asli’ Indonesia, tetapi ternyata setelah ditelusuri silsilahnya, kata itu merupakan kata impor dari negeri asing.
Sebagai contoh, kata ‘meleset’ ternyata berasal dari bahasa Perancis ‘malaise’ yang artinya sulit, ramai digunakan dengan pelafalan ‘meleset’ setelah keadaan ekonomi dunia yang sulit (malaise) akibat Perang Dunia I. Contoh lain, kata ‘cinta’ yang sekilas merupakan asli Indonesia, buktinya ada pantun:
Dari mana datangnya lintah
Dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati

Tapi ternyata, pantun ini tidak sejati alias tidak benar, sedangkan yang benar menurut Van Ophuysen  dalam Pantun Melayu, Balai Pustaka, no.424 adalah:
Dari mana punai melayang
Dari kayu turun ke padi
Dari mana kasih sayang
Dari mata turun ke hati.

Contoh di atas hanya sebagian kecil kata yang bukan ‘asli’ Indonesia. Masih banyak kata lain yang diimpor dari bahasa Sansekerta, Arab, Belanda, Inggris, Italia, dan lain-lain.
Lantas apa sebenarnya yang menjadi poin bahasan “Bangsa Indonesia Bangsa Poliglot” ini? Yaitu bahwa sebenarnya sebagai bangsa yang poliglot dan diwarisi kepoliglotan, dalam era globalisasi yang menuntut kita untuk berkemampuan poliglot, bangsa ini sangat mungkin untuk eksis, paling tidak dari segi bahasa. Karena bagaimanapun bahasa merupakan kunci dari banyak hal: ilmu, jaringan, kekuasaan, dll.
Namun demikian, potensi poliglot saja tidak cukup, harus ada kemauan keras untuk maju, pikiran terbuka, dan iman yang membaja. Dan yakinlah Indonesia akan jaya. Bangga menjadi Muslim Indonesia.

*the closing is somehow out of tune… I’m sorry..


[1] Welcomitas adalah istilah karangan saya sendiri, gothak gathuk mathuk.

formerly posted on my multiply and wordpress blog

Silakan meninggalkan komentar Anda di sini
Emoticon Emoticon

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- Melayang --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-1793065522891176" data-ad-slot="5011446128" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>