Ruang Tunggu: catatan
Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts

4/23/13

Istriku Bidadari


Sudah cukup lama saya tidak mengupdate blog ini. Bahkan, beberapa update terakhir pun tidak benar-benar memuat tulisan serius melainkan sebatas “update” status berupa catatan fotografi aktivitas saya di India. Selepas kepulangan saya ke Indonesia pun, blog ini tidak juga bisa saya update. Status baru yang saya sandang semenjak tengah tahun 2012 lalu, yaitu status sebagai mahasiswa pascasarjana membuat saya cukup sibuk untuk sekadar dapat membuat tulisan dan mempostingnya di blog. Aktivitas saya praktis hanya monoton terkait urusan kerja dan kuliah.

Bahkan di semester dua ini, agaknya urusan kuliah lebih mendominasi segenap aspek hidup saya dikarenakan banyaknya tugas yang harus saya kerjakan di tengah kesibukan bekerja. Tak jarang, urusan kuliah juga menyita jatah waktu kerja saya. Sebuah hal yang dilematis sebenarnya, mengingat idealnya keduanya harus dipisahkan. Akan tetapi, kondisi di lapangan kadangkala susah untuk dikompromikan, kedua hal tersebut—kerja dan kuliah—sama-sama tugas kantor. Ya, kuliah saya adalah tugas belajar yang dibiayai oleh kantor.Tidak kurang, bahkan sabtu dan minggu pun kadang saya masih perlu berjibaku memikirkan kuliah itu. Ya, itulah hidup, semuanya harus dilalui dengan perjuangan.

Saya tidak hendak mengeluh di postingan ini, justru saya ingin menyemangati diri saya sekaligus berterima kasih kepada seseorang yang begitu pengertian dan berjasa mengantarkan saya tetap bertahan pada hari-hari sibuk seperti ini. Artikel ini tidak saya tulis dalam rangka memperingati hari kartini, tapi benar, saya ingin berterima kasih kepada seorang perempuan. Seorang perempuan yang sangat kuat. Seorang perempuan yang pengertiannya laksana bumi yang tak pernah mengeluh kita injak setiap hari. Seorang perempuan calon penghuni surga (insya Allah). Bayangkan saja, seminggu setelah saya nikahi, perempuan tersebut sudah harus menanggung kesendirian akibat saya tinggal ke Jakarta. Meski setidaknya dua minggu sekali atau kadang seminggu sekali saya pulang, akan tetapi pasti ia tetap merasa kesepian, apalagi dalam usia pernikahan yang sebegitu muda. Kondisi seperti ini berlangsung sejak bulan September hingga November 2012. Bulan Desember 2012 menjadi rekor kebersamaan kami sejauh ini.

Namun, cinta dan sayang kami akhirnya mendapatkan ujian juga. Pertengahan bulan Januari sampai dengan akhir Maret 2013, oleh kantor saya ditugaskan ke India untuk mengikuti diklat. Waktu tersebut akhirnya menjadi rekor perpisahan kami yang terlama sejauh ini. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik, kami bisa saling mengenal karakter masing-masing. Saya yakin, ia amat merindukan saya sebagaimana saya juga merindukannya. Akan tetapi kenyataan harus tetap berjalan. Untunglah, masa perpisahan itu akhirnya berakhir juga. Saya pulang tanggal 24 Maret kemarin.

Rupanya kebersamaan kami kali ini pun juga tak luput dari cobaan. Tugas kuliah dan penyusunan usulan proposal tesis seolah menjauhkan kebersamaan kami. Bahkan saya pun sampai meninggalkannya di Jakarta guna pencaian bahan proposal tesis ke Jogja selama dua hari. Tetapi hati saya lega setelah mengetahui bahwa istri saya rela melepas kepergian saya, bahkan meski selama dua hari tersebut saya jarang menghubunginya karena fokus mencari bahan tesis di perpustakaan UGM. Hingga hari ini pun, saya masih seakan menomorduakannya dibanding tugas kuliah. Dan dengan sabar ia terus saja mengerti. Saya merasa beruntung bahwa di tengah situasi seperti ini ia mampu memahami kesulitan saya, memotivasi dan mendorong saya untuk tetap maju.

Saya hanya bisa berdoa kepada Allah: “Ya Allah, muliakanlah istriku, karuniailah ia dengan keridhaanmu, hiasilah ia dengan akhlak terbaikmu dan tempatkanlah ia di tempat terbaik kelak di sisi-Mu.”

Terima kasih istriku.
 
Telah jarang mungkin HP-mu tersambangi kata-kataku,

sapa atau sekadar ukiran senyum mengemuka,

atau sebongkah sajak puitis tanpa pigura,

tapi yakinlah, hatiku berkhidmat untukmu, wahai bidadari surga.

B 232013

Suamimu


3/11/13

Kalau Guling Tiup itu Ada, Saya Beli Dua!


Sesaat setelah pesawat tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta, saya teringat sesuatu yang tertinggal: bantal tiup. Saya punya dua buah, yang satu untuk penyangga leher, dan yang satu layaknya bantal biasa. Saya pikir akan sangat berguna jika saya membawanya, sekadar berjaga jika tidak mendapat bantal saat di pesawat, di kereta atau di bus nantinya.

Sesampainya di India, saya mendapati tempat tidur dengan bantal dan selimut tetapi tanpa guling. Kiranya akan sangat nyaman kalau ada guling tiup. Saya tinggal membawa guling tiup dan sarungnya, meniupnya atau menggemboskannya jika diperlukan. Praktis dan sangat membantu menghadirkan kenyamanan dalam tidur.

Bantal tiup memang ada, tetapi guling tiup saya belum pernah mendengarnya. Penasaran akan hal ini mendorong saya mencarinya di internet, barangkali ada yang menjual. Tetapi bukannya mendapat informasi lapak yang menjual guling tiup, saya justru mendapatkan informasi bahwa guling hanya ada di Indonesia, Belanda dan Jepang. Silakan cermati kutipan berikut:

"Manusia  Indonesia  hidup  dengan  getaran  perasaan. Kamilah  satu-satunya  bangsa  di  dunia  yang mempunyai  sejenis  bantal  yang  dipergunakan  sekedar  untuk  dirangkul. Di setiap  tempat tidur  orang Indonesia  terdapat  sebuah  bantal  sebagai  kalang  hulu  dan  sebuah  lagi  bantal kecil  berbentuk  bulat panjang yang dinamai guling. Guling ini bagi kami gunanya hanya untuk dirangkul sepanjang malam."

Kalimat ini tercantum dalam Biografi Soekarno yang ditulis oleh seorang wartawan senior Amerika, Cindy Adams. Hal ini menyiratkan bahwa Soekarno ingin menjelaskan hakikat guling kepada Cindy Adams karena ia belum mengenalnya. Cerita lengkapnya silakan baca di situs berikut http://jakartaisme.blogspot.com

Saya belum mengkonfirmasi hal ini kepada teman-teman dari negara lain tentang fenomena guling ini apakah mereka mengenalnya atau tidak, akan tetapi mengingat globalisasi yang terjadi pada dasawarsa ini, barangkali kini setiap negara memilikinya, mungkin namanya saja yang berbeda. Hanya saja, di India ini saya tidak (belum) menemuinya. Atau mungkin India adalah pengecualian, saya tidak tahu. Anyway, bagi saya, tidur tanpa guling itu seperti makan tanpa kerupuk. he..he.Dan kalau guling tiup itu ada, saya akan beli dua.


sumber gambar: frizbaby.blogspot.com

3/10/13

Antara Latihan dan Medan Nyata


Pekan kemarin, Institute tempat saya menjalani training mengadakan serangkaian kegiatan olahraga. Salah satu yang ditandingkan adalah bulutangkis, cabang olahraga yang saya gemari dan sering saya mainkan sewaktu kecil sekadar untuk menghabiskan waktu di sore hari. Meskipun pada waktu itu untuk memainkannya saya hanya berbekal raket dan kok murahan serta lapangan yang sebenarnya merupakan halaman belakang rumah minus net sebagai pemisah pemain satu dan pemain yang lain. Akan tetapi, kami tetap bersemangat. Begitu populernya olahraga ini, sehingga bisa dikatakan sebagian besar orang pada waktu itu suka dan dapat memainkannya. Apalagi pada waktu itu Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti sedang jaya-jayanya memuncaki tahta  perbulutangkisan dunia.

Berbekal pengalaman sewaktu kecil itulah, saya bersemangat mendaftarkan diri dalam pertandingan bulu tangkis di India tersebut. Ketika ditanya apakah saya tahu peraturannya, saya jawab dengan mantab, "Ya". Selain karena sering memainkannya, saya juga sering menonton pertandingan bulutangkis di televisi, dan sejauh ini saya tahu bagaimana permainan ini berjalan: mulai dari servis, penentuan skor, dan sebaginya. Apalagi sebelumnya saya juga sudah googling mengenai peraturan permainan ini, dan pengetahuan saya dikonfirmasi oleh hasil pencarian saya tersebut.

Adanya masalah baru saya sadari ketika pertandingan telah dimulai. Saya baru menyadari bahwa pertandingan dengan net dan lapangan betulan ternyata tidak semudah permainan di lapangan seadanya tanpa net di halaman rumah seperti dahulu. Saya pun sempat keteteran di awal pertandingan meski kemudian berhasil memenangkannya dengan skor tipis. Saya pun maju ke babak selanjutnya meski akhirnya harus mengakui keunggulan lawan yang berasal dari India.

Meski harus menelan kekalahan, saya memperoleh pelajaran yang berharga dari pengalaman ini. Bahwa latihan yang tidak standar, apalagi tanpa adanya kesadaran seperti apa medan nyata nantinya tidak akan cukup berguna ketika dihadapkan pada medan nyata yang berat. Apalagi jika latihan itu hanya dilakukan setengah hati. Ya, pengalaman ini saya catat dalam hati dan akan saya amalkan dalam bidang-bidang yang relevan.  

1/21/13

Makanan India yang Kumakan Setiap hari


Genap seminggu saya berada di India untuk mengikuti program training bertajuk "Management Development" yang diadakan oleh pemerintah India.  Dan selama satu minggu itu saya makan makanan India, tapi hal itu ternyata masih belum bisa membuat lidah saya terbiasa dengan makanan yang tersedia. Rasa bumbunya masih saja terlalu tajam. Dan satu hal yang membuat saya begitu heran adalah menu yang seragam. Maksud saya seragam di sini adalah, pada saat yang bersamaan, mereka menyediakan nasi putih dengan sayur kentang dan sayur jagung (atau semacamnya) di mana semuanya adalah karbohidrat.

Kami disuguh makan 3 kali sehari dan 2 kali snack. Menu makan hampir sama, tapi biasanya berkisar pada nasi goreng (nasi gorengnya beda jauh dengan nasi goreng Indonesia), nasi putih, roti bakar, chapati, mie, kentang, dsb.

Nah, daripada mendengarkan panjang lebar penjelasan saya, langsung saja kita lihat penampakannya:




Pisang, Roti Bakar dan Roti Entah Apa Namanya :)

Snack sore: Nasi Goreng dan Chai (Teh India)

Chapati, Bakmi, Sayur kentang dan semacam sayur jagung. Oya, ada juga ubi.

Chapati, Semacam sayur jagung dan pisang

1/20/13

Nyanyian Rindu Dari Negeri Bharata

12 Januari 2012, 12.55 pm, Bandara Soeta menjadi saksi perpisahan kita. Engkau terbang ke Jogja dan aku ke negeri Barata, India. Ada banyak rasa yang belum sempat terkemuka, waktu seolah begitu tega memisahkan kita tanpa sempat bertukar kata selain lewat pesan belaka. Tapi lihatlah, setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Maafkan aku, Cinta.

Bangkok, pukul 16.25, hari yang sama, mengingatkanku pada nama-nama, meski belum genap sehari aku meninggalkannya: namamu dan Indonesia. Semua tak seperti sebelumnya, rasa asing mengemuka.

Dini hari keesokan harinya, aku tiba di Mumbai, India. Mahasuci Allah yang telah menciptakan manusia bersuku-suku, kesempatan itu datang padaku, sekadar menginjakkan kaki di negeri baru. Asing semakin menyergap dan memburu, tersebab tampilan fisik yang berbeda, perhatian orang-orang tertuju padaku.

Rasa rindu meringkusku, entah apakah aku mampu bertahan hingga 10 minggu, di sini tanpamu.




For my love  +Yuni Setyaningrad

10/17/12

Belajar Mengatur Keuangan Keluarga

Semenjak menikah, pengeluaran saya semakin besar. Sebabnya saya pikir-pikir timbul dari pola hubungan saya dan istri yang berjauhan satu-sama lain. Efeknya,  harus ada pos anggaran "rindu" agar kami dapat bertemu secara teratur a.k.a untuk membeli "jarak" itu, belum lagi anggaran bulanan yang harus kami keluarkan masing-masing sehingga kurang efisien. Jika hal ini tidak diatur secara baik, tentu akan menimbulkan kebangkrutan, apalagi jika diikuti dengan pola hidup konsumtif.

Sebagai suami, saya memegang teguh prinsip "harta suami adalah harta istri, harta istri adalah harta istri", sehingga meskipun istri saya juga bekerja sebagai apoteker di Jogja, saya tidak mau mengutak-atik penghasilan yang diperolehnya. Saya berharap bahwa penghasilannya itu bisa ia simpan untuk kebutuhannya sendiri nanti, atau untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang hadir sewaktu-waktu. Praktis, penghasilan saya harus cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berdua, ongkos rindu, dan harus tetap ada sebagian yang disisihkan untuk tabungan.

Tentu saja, agar kantong tidak jebol, kami harus mampu mengatur penggunaan penghasilan saya sebagai PNS yang tidak seberapa itu. Belum lagi dengan impian kami untuk memiliki rumah sendiri di Jakarta. Wah, tambah mumet kalau hanya dipikirkan. Perlu usaha untuk melakukan manajemen yang tepat agar semua kebutuhan terpenuhi di samping untuk saving sebagai antisipasi kebutuhan di masa depan.


Pertama, perlu dipilah dulu mana kebutuhan yang tidak bisa tidak dipenuhi dan kebutuhan yang optional. Untuk kebutuhan seperti biaya hidup sehari-hari, angsuran kredit motor, biaya kos dan ongkos rindu, kami tak bisa menawarnya, artinya itu harus dipenuhi.  Dan itu menghabiskan kurang lebih seperdua bagian dari penghasilan saya. Artinya paling tidak ada sisa seperdua bagian lain yang tersedia untuk ditabung. Tetapi saya tidak ingin nilai uang yang saya tabung itu turun, sebab inflasi akan memengaruhi daya beli/nilai uang, bahkan jika memungkinkan nilai uang saya itu naik. Tapi adakah yang semacam ini? 

Setelah dimusyawarahkan, akhirnya kami berikhtiar untuk melakukan saving dalam bentuk logam mulia, dalam kasus ini, saya menyimpannya dalam bentuk dinar. 1 dinar, adalah emas 22 karat dengan berat 4,25 gram. Sebagaimana diketahui bahwa harga emas cenderung stabil dan relatif tidak terpengaruh inflasi,bahkan nilainya cenderung naik, maka menyimpan tabungan dalam bentuk logam mulia/dinar merupakan salah satu solusi. Sebagai contoh, pada pertengahan Agustus 2012 lalu saya membeli dinar untuk mahar pernikahan saya, 1 dinar sekitar 2.240.000an, sekarang (17/10/2012) 1 dinar telah mencapai 2.323.245. Artinya dalam waktu tidak sampai dua bulan telah terjadi peningkatan nilai hampir 90.000.

Lantas saya mendapat gambaran biaya ONH dalam rupiah berbanding nilainya dalam satuan gram emas sebagai berikut:
2,323,245
  1. Tahun 2001 Kepres no. 97 tahun 2000 ONH Rp.22.000.000 setara 258gr emas
  2. Tahun 2002 Kepres no. 99 tahun 2001 ONH Rp.25.358.798 setara 316gr emas
  3. Tahun 2003 Kepres no. 55 tahun 2002 ONH Rp.25.799.728 setara 276gr emas
  4. Tahun 2004 Kepres no. 45 tahun 2003 ONH Rp.22.998.800 setara 244gr emas
  5. Tahun 2005 Kepres no. 49 tahun 2004 ONH Rp.26.143.353 setara 220gr emas
  6. Tahun 2006 Kepres no. 70 tahun 2006 ONH Rp.26.733.873 setara 142gr emas
  7. Tahun 2007 Kepres no. 20 tahun 2007 ONH Rp.26.215.316 setara 141gr emas
  8. Tahun 2008 Kepres no. 53 tahun 2008 ONH Rp.32.026.130 setara 129gr emas
  9. Tahun 2009 Kepres no. 41 tahun 2009 ONH Rp.33.479.248 setara 108gr emas
  10. Tahun 2010 Kepres no. 51 tahun 2010 ONH Rp.30.443.108 setara 88gr emas
  11. Tahun 2011 Kepres no. -    tahun 2011 ONH Rp.30.822.332 setara 62gr emas
Perhatikan tahun 2001 butuh 258gr emas untuk bisa naik haji, sedangkan pada tahun 2011 hanya dibutuhkan 62 gr emas. Jumlah gram emas yang dibutuhkan untuk naik haji justru menurun dari tahun 2001, padahal dilihat dari nilai rupiahnya mengalami peningkatan.

Gambaran ini kemudian membawa saya untuk menjadikan logam mulia/dinar sebagai alat saving. Saya sempat berdiskusi dengan beberapa orang soal apakah akan mengambil dinar atau logam mulia. Setelah  menimbang-nimbang akhirnya saya memutuskan untuk mengambil dinar sebagai saving. Prinsipnya sama dengan emas batangan, tidak ada yang berbeda. Hanya, metode yang saya pakai ini tidak mengharuskan kita untuk menyimpan emasnya, karena ada layanan purna jual dinar yang melayani penyimpanan dinar dengan sistem online. Lain kali barangkali akan saya tuliskan pengalaman saya. Tapi sementara, silakan mengunjungi situsnya di sini.



Gambar dari sini

9/6/12

Di Sinilah Kami Saling Mengenal


Mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti, "Kalian kenal di mana? Temen kuliah ya? Temen kerja?" sebelum dan selepas menikah, seringkali membuat kami terdiam. Bukan karena kami tak tahu jawabannya atau jawabannya merupakan hal yang memalukan, tetapi karena jawaban yang kami berikan akan menuntut penjelasan lain. Dan penjelasan itu belum tentu mereka pahami sehingga kami khawatir mereka yang bertanya itu akan menyimpulkan secara salah. Maka berikhtiar menjawab pertanyaan itu, kami akan menyampaikannya di sini, bahwa kami mengenal satu sama-lain lewat ta'aruf.

9/3/12

Daftar Impian
Target
Deskripsi






























8/16/12

Alhamdulillah


Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya” 
(QS. Ibrahim: 34).

Alhamdulillah, malam ini aku sangat merasa perlu bersyukur. Bahkan wajib untuk bersyukur. Berbagai nikmat serasa berkumpul menjadi satu. Ya, sejak memutuskan untuk meminangmu 3 bulan lalu, nikmat demi nikmat datang silih berganti. Pada bulan yang sama dengan aku meminangmu, aku diangkat menjadi PNS.

8/13/12

11 Poin Perbaikan Layanan Kereta Api Jarak Jauh


Reformasi birokrasi dan perbaikan layanan yang dilakukan oleh PT KAI agaknya mulai memperlihatkan hasil meski di sana-sini masih tampak beberapa kekeurangan. Tapi setidaknya, perbaikan itu patut diapresiasi, khususnya saya sebagai pengguna moda transportasi kereta api. Nah berikut ini adalah 11 hal yang patut diketahui para calon pengguna kereta api, mungkin sudah pada tahu, tapi mungkin ada yang belum tahu.

1. Tidak ada tiket berdiri ----> terealisasi dengan baik. Meski pada KA kelas Bisnis dan Ekonomi banyak penumpang yang memiliki tiket (dapat jatah kursi) tapi memilih tidur di lantai (ngolong).
Gambar: http://www.kereta-api.co.id/

8/1/12

Kenapa Aku Memilihmu



Jika kau tanya, kenapa aku memilihmu
Itu Karena Allah memberikan cinta yang ditujukan kepadamu
(Asma Nadia)


Aku sangat sadar, ada yang berbeda dalam kisah kita. Kita memang baru bertemu pagi itu, dan sejak itu pula peristiwa demi peristiwa terjadi laksana bola salju yang terus menggelinding, membesar dan berujung pada sebuah kata: pernikahan. 

Kita memang baru sempat bersua, pagi itu. Ya, pagi itu. Tapi sesungguhnya kita sudah saling tahu, sebab hati kita telah bersatu, berpadu dan berhimpun, sebagaimana doa yang biasa kita panjatkan: 

"Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihi al-quluuba qadijtama'at 'alaa mahabbatika waltaqat 'alaa thaa'atika watawahhadat 'alaa da'watika wa ta'aahadat 'alaa nushrati syarii'atika fawassiq allahumma raabithhaa wa adim wuddahaa."

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan kecintaan hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari'at-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya Ya Allah, abadikan kasih sayangnya."

Kita memang baru berjumpa, sekali saja, tapi aku telah mengenalmu, lewat aksara, juga tutur yang kuterima, hingga akhirnya dapat kusimpulkan engkau pribadi yang seperti apa.

Kita memang baru bertemu, bertemu saat ta'aruf itu, tapi bukankah engkau juga aku telah meminta kepada Allah Rabbul Izzati, pasangan penyejuk jiwa, penentram hati, teman tempat berbagi suka dan duka. Ya, dan Allah telah memilihkan kita, menjawab setiap pinta kita lewat begitu banyak cara, kita telah menempuhnya lewat jalan yang panjang, yang tidak seketika, dan akhirnya konfirmasi itu kita terima lewat kemantapan hati yang mengemuka pasca istikharah kita. Maka aku rela, Allah memilihkanmu untukku, tidakkah juga engkau?

Ya, kita baru bertemu, dan pertemuan ini adalah pertemuan dalam cinta karena-nya, maka sungguh aku rela dijodohkan dengan engkau oleh Allah Lillahi Ta'ala.

6/19/12

I Love You


Terbiasa dengan lingkungan Jogja di mana orang-orangnya saling menyapa (ngruruhi) ketika bertemu meski antar mereka tidak saling kenal, membuat saya ingin melakukan hal yang sama di lingkungan baru saya tinggal: Jakarta. Namun agaknya, beberapa kali saya harus merasa nggonduk karena sapaan saya ternyata dicuekin. Lain kali malah dibalas dengan tatapan tak bersahabat, yang kalau itu dilakukan di Jogja dan sekitarnya bisa direspons dengan "Ngopo Mas, ra trimo? Ngejak gelut?". Singkat kata, tatapan yang seolah mengajak berkelahi. Entahlah, mungkin ini dalam perspektif orang Jawa saja, atau memang demikian adanya.

Tetapi untungnya tidak semua bersikap demikian. Ada pula yang membalas sapaan saya itu meski hanya dengan senyum. Tapi itu sangat berarti bagi saya. Berarti bahwa saya tidak sendiri di sini. Ada mereka bersama saya. Meski itu hanya perasaan saya saja.

Maka ketika saya pulang ke Jogja, saya jadi bisa lebih merasakan betapa "ramahnya" orang Jogja--sebuah hal yang dulu tidak pernah saya sadari. Bahkan keramahan itu bisa saya temui sebelum saya sampai Jogja itu sendiri: ketika kereta yang saya tumpangi telah mendekati Jogja, saya merasakan para pedagang asongannya lebih ramah daripada pedagang dari daerah-daerah sebelumnya. Apalagi jika sudah sampai lempunyangan. Para pedagang akan bersikap lebih ramah lagi.

Saya tak hendak memuji orang Jogja atau Jogja sebagai wilayah, tetapi bahwa karakter tepa selira dan keramahan itu ada di sana itu adalah sebuah fakta. Bukan berarti pula bahwa di sana tak ada yang bersikap tidak semestinya. Tak pula saya menyesali nasib saya di perantauan. Justru saya mensyukuri perantauan ini, karena dari sana saya bisa lebih banyak belajar. Belajar tentang bagaimana menghadapi tipe-tipe orang dengan karakter yang berbeda. Dan itu memperkaya khazanah saya. Di sini, saya hanya hendak menuliskan sebuah kerinduan. Sebuah kerinduan pada kota kelahiran tercinta. Ya, Jogja memang tak tergantikan. I love you Jogjakarta...

Gambar dari sini

6/16/12

Haruskah Langit Mesir Kembali Gelap?

"Kami berada dalam kekacauan total, sebuah proses membingungkan yang-meski diharapkan berakhir baik-tak membawa kita kemanapun selain ke tempat kita berada 18 bulan lalu, tetapi dengan kondisi yang lebih buruk," 
Mohamed ElBaradei 
(Warga negara Mesir yang pernah mendapat Nobel dan menjadi Kepala Badan Pengawas Nuklir PBB) 

Mahkamah Konstitusi Mesir pada hari Kamis lalu (14/6) mengeluarkan dua keputusan yang kontroversial, yaitu membatalkan Undang-Undang tentang pencekalan para pejabat dari rezim Mubarak yang disahkan oleh Parlemen Mesir dan membubarkan Parlemen Mesir yang mengesahkannya.
Penganuliran Undang-Undang Pencekalan itu tidak saja berimplikasi pada menguatnya kembali Rezim Militer, tetapi juga memberikan legitimasi kepada Syafiq yang beberapa waktu lalu sempat akan didiskualifikasi dari ajang pencalonan presiden Mesir. Tidak hanya itu, Mahkamah Konstitusi Mesir juga mengembalikan wewenang militer untuk melakukan penangkapan dan interogasi terhadap warga. Sebuah kemunduran besar.

Sementara itu, menurut MK Mesir anggota parlemen harus berasal dari partai politik, sedangkan pada pemilu parlemen kemarin, sekitar 1/3 dari jumlah anggota parlemen adalah calon independen, maka keanggotaan mereka tidak sah. Dan karena parlemen kehilangan 1/3 anggotanya, maka parlemen dinyatakan dibubarkan. Konsekuensi dari pembuabaran ini tentu saja adalah pemenang pemilu presiden tidak akan bisa dikontrol oleh parlemen, dan dengan demikian, Mesir terancam kembali ke dalam sistem pemerintahan diktator.

Pemungutan suara di 13.000 TPS yang tersebar di 27 Distrik dilaksanakan selama Sabtu dan Minggu, dari jam 8.00 (06:00 GMT) di 20:00 (18:00 GMT). Voting pada hari Sabtu telah diperpanjang sampai 21:00. Sekitar 400.000 tentara dan polisi telah dikerahkan. (BBC/16/6) Tidak ada yang menjamin bahwa pemilu presiden putaran kedua ini bebas dari intimidasi mengingat geliat kekuatan militer yang kembali ingin berkuasa, sebagaimana terlihat bahwa antrean pemilih pada pemilu kali ini tidak sebanyak pada putaran pertama. Hasil akhir pemilu direncanakan akan diumumkan tanggal 21 Juni, tetapi diharapkan dapat dilakukan lebih awal.

Ya, kita hanya bisa berharap, semoga "kegelapan" tidak malah menyelimuti Mesir kembali. Sebab Mesir adalah kancah pertarungan, bukan saja antara islam dan barat, tetapi juga ada nasib keterkaitan dengan saudara-saudara kita di Palestina. Israel yang sempat gigit jari dan bersungut-sungut saat rezim Mubarak tumbang lalu banyak kepentingannya tidak terpenuhi oleh pemerintahan baru Mesir, tentu tidak ingin mengalami kehilangan lebih dalam. Mereka akan berusaha sekuat tenaga agar kekuatan harakah Islam tidak menguasai Mesir.

Saudaraku, mari berdoa untuk Mesir, untuk Palestina, untuk Dunia Islam...

6/8/12

Seragam Biru Dongker

Kamis pagi, saya datang ke Stasiun Tanah Abang. Tujuan utamanya adalah mengantarkan seorang teman untuk membeli tiket untuk kamis pekan depan sekalian menukarkan tiket untuk tanggal 2 September 2012 tujuan Jakarta yang sebelumnya sudah saya beli di Alfamart. Begitu datang ke loket, saya langsung dilayani dan memperoleh tiket dimaksud, tetapi berbeda dengan teman saya, dia harus mengantre cukup panjang untuk mendapatkan tiket Kereta Bengawan untuk Kamis depan itu.

Sembari menunggu, saya duduk di dekat pintu masuk (boarding gate) stasiun. Sekilas, mata saya memandang petugas penjaga pintu masuk dan mendapati bahwa seragam mereka itu benar-benar mirip dengan seragam yang saya kenakan. Bedanya hanya seragam saya sedikit lebih gelap dan tidak ada atribut tambahan di atas kantong saku baju seperti mereka. Sampai di sini, saya cuma bisa tersenyum, dan dalam hati teringat apa yang diceritakan salah seorang teman tentang seragam kami yang mirip petugas pemeriksa karcis di KRL. "Mungkin, kita bisa gratis naik KRL, pakai seragam ini," candanya.

Menunggu agak lama, ternyata membuat saya agak kegerahan. Akhirnya saya pun melepas jaket yang sedari tadi saya pakai. Saya duduk santai di belakang antrean yang sudah mulai surut. Belum lama kepikiran tentang seragam itu, tiba-tiba ada bapak-bapak yang duduk di sebelah saya lalu bertanya, "Mas, tiket untuk tanggal 12 Juni masih ada nggak ya?" Wah, bapak ini.. Saya kan bukan petugas, Pak... Tapi karena saya memang tahu, saya jawab juga, "Tanggal 12 untuk yang ke Solo sudah habis, Pak, tapi kalau untuk yang ke Jakarta saya kurang tahu, coba tanya ke Costumer Service di sebelah ini, Pak." Setelah berterima kasih, beliau segera masuk ke ruang costumer service.

Setelah beberapa saat menunggu, saya lihat kawan saya sudah hampir mendekati loket. Saya pun segera berjalan ke arah loket. Kebetulan waktu itu ada bapak-bapak yang baru saja dapat tiket. Bermaksud ramah, saya bertanya, "Dapat gerbong berapa, Pak? Maksud saya adalah mengetahui kira-kira teman saya dapat gerbong berapa, mengingat jarak antrean bapak itu dan teman saya tidak terlalu jauh. Setelah menjawab ini itu, bapak itu segera pamit, dan mengucapkan terima kasih. Entah untuk apa. Padahal, seharusnya sayalah yang mengucapkan terima kasih. Hhh.. mungkin, seragam yang saya pakai itulah membuat bapak tersebut berterima kasih.

Saya hanya bisa tersenyum. Alhamdulillah, ada yang mirip dengan seragam kami. :)

Keterangan: gambar seragam hanya ilustrasi. diambil dari sini

6/5/12

Ngolong

Ngolong di KA Ekonomi


Salah satu ciri khas kereta ekonomi (K3) selain karena keserbaadaanya (terdapat berbagai macam barang dari makanan, baju, dompet, stiker, sampai jasa pijit yang ditawarkan oleh pedagang asongan yang lalu lalang sepanjang waktu) adalah kebiasaan para penumpangnya untuk tidur ngolong (pada kereta yang beroperasi malam hari). Ya, ngolong, tidur di kolong di bawah kursi; beralaskan koran seharga ribuan rupiah; dengan bantal sewaan dengan tarif empat ribu rupiah. Bagi yang belum biasa barangkali ini adalah sesuatu yang aneh, ajaib, atau malah tercengang, "kok bisa?"

Ritual tidur ngolong biasanya dimulai selepas isya' dan hampir bisa ditemui di setiap kereta ekonomi (K3). Meskipun dilakukan selepas isya, atau bahkan ada yang baru memulai pukul 21.00 ke atas, tetapi rata-rata persiapan dan pengaplingan tempat "tidur" sudah dilakukan sejak sebelum isya'. Pada beberapa kali perjalanan, bahkan saya menjumpai ada yang menggelar alas tidur sejak kereta berangkat.

Selain bisa ditemui di kereta ekonomi (K3), aktivitas ngolong ini juga bisa dijumpai di kereta bisnis (K2) yang melakukan perjalanan di malam hari. Namun demikian, ada ciri yang membedakan kolongers K3 dan K2. Jika pada K3 posisi tidurnya tepat di bawah kursi, maka pada K2 biasanya kolongers tidur di depan kursi membujur searah dengan kursi. Meskipun untuk tempatnya, bisa dilakukan di mana saja, ada yang di bordes (sambungan gerbong), di jalan (jarak yang tersedia antara kursi sisi kanan dan sisi kiri), di bawah kursi, atau bahkan di toilet (dulu terjadi kala masih diberlakukan tiket berdiri).

Mungkin ada yang bertanya iseng, "Memang enak tidur di kolong gitu? Apa nggak pengap?" Sampai sekarang saya masih sering melihat fenomena ini, dan bahkan semakin lama saya lihat semakin banyak yang melakukannya (termasuk saya yang akhirnya bergabung :D), maka saya simpulkan ini adalah pilihan paling masuk akal untuk bisa tidur dengan lebih nyenyak. Ya, lebih nyenyak jika dibandingkan dengan tidur sambil duduk. Saya merasakan enak-enak saja, dan orang-orang di sekitar saya juga tidak mempermasalahkan, bahkan mendukung, sebab dengan saya tidur ngolong, satu kursi menjadi kosong dan itu bisa mereka gunakan untuk menyelonjorkan kaki yang pegal.

Biasanya, alasan untuk memilih ngolong rata-rata adalah agar esok paginya tidak terlalu kecapekan atau mengantuk di kantor, sebab mereka sudah "cukup" tidur dengan "layak". Ya, inilah uniknya Indonesia. Mau mencoba?
gambar dari sini

6/1/12

Jayalah Calo Kereta Api Indonesia

Mulai 8 Maret 2012, PT KAI memberlakukan kebijakan baru berupa 'kemudahan' akses pembelian tiket KA Eksekutif, Bisnis dan Ekonomi AC bisa dilakukan H-90 sebelum keberangkatan. Konsekuensi dari pemberlakuan kebijakan baru ini adalah penumpang harus merencanakan perjalanan jauh-jauh hari jika tidak ingin kehabisan tiket. Tujuan pemberlakuan kebijakan baru ini katanya adalah "pemberantasan calo". Tapi saya tidak tahu, calo yang mana yang diberantas dan dipersempit geraknya oleh PT KAI. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketika tiket yang di jual di loket sudah dinyatakan habis, di luar sana tidak sedikit calo yang bergentayangan menawarkan tiket dengan bebasnya. Kalau tidak percaya, cobalah berpenampilan layaknya mau mudik, menenteng tas besar, kelihatan bingung dan memasang muka memelas di stasiun Pasar Senen, pasti Anda akan segera didekati seseorang dan ditanya-tanya butuh tiket kapan dan ke mana?

Belum selesai urusan calo, mulai 1 Juni 2012 PT KAI kembali mengeluarkan kebijakan yang "menarik", yaitu bahwa nama yang tertera di tiket harus sesuai dengan nama pemegang tiket. Jika tidak, maka bersiaplah untuk diturunkan di stasiun terdekat. Kebijakan ini tidak kalah menarik menurut saya, sebab, dari beberapa laporan informasi yang masuk ke saya, tiket lebaran untuk tanggal 17-25 Agustus 2012 yang notabene sudah habis di loket, masih bisa didapatkan dari para calo. Tentu dengan harga selangit. Jadi saya heran, yang mau diberantas itu penumpangnya atau calonya?

Penumpang agaknya akan masih menjadi pihak yang dirugikan. Pertama, mereka harus mengeluarkan biaya untuk tiga bulan ke depan. Bayangkan jika seseorang rutin tiap pekan mudik, maka berapa jumlah yang harus dia keluarkan untuk mengcover tiket 3 bulan ke depan agar tetap dapat tiket di loket (baca: tidak harus membeli dari calo)? Belum lagi kebijakan penurunan penumpang yang namanya tidak sesuai dengan yang tertera di tiket, selama calo tidak bisa diberantas, maka penumpanglah yang akan kena berantas.

Para calo tentu tenang-tenang saja, misalnya untuk lebaran ini akan ada banyak orang yang butuh tiket. Dan karena alasan butuh, para penumpang tentu akan membeli tiket tersebut, meski dengan berat hati. Lalu bagaimana nasib mereka jika kebijakan penurunan itu dilakukan? Mereka sudah membeli, dengan lebih mahal pula, eh, malah diturunin. Kasian amat...! Lalu PT KAI tersenyum puas, "Kami sudah memberantas penumpang calo!"

Maka, teriakan kata merdeka yang disampaikan Bung Karno dalam pidatonya di hadapan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai 1 Juni 67 Tahun yang lalu itu, agaknya masih menjadi isapan jempol bagi penumpang kereta api.

5/14/12

Jabatan Itu Anugerah atau Musibah?


Lelaki itu terguncang. Tak pernah terpikir dalam benaknya menerima amanah ini. Maka di tengah gejolak hatinya itu ia bangkit lantas berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada di leher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki."

Penolakan ia sampaikan, tetapi orang-orang tetap memilihnya. Ia pun akhirnya menerima dengan berat hati, rasa takut kepada Allah, dan tangisan. Segala keistimewaan yang merupakan fasilitas atas kedudukannya ia tolak. Ia pun lantas pulang ke rumah berniat untuk tidur. Letih setelah mengurus jenazah seorang sahabat yang kedudukannya kini ia gantikan.

Pada saat itulah anaknya yang berumur 15 tahun masuk, menanyakan apa gerangan yang sedang diperbuatnya. Maka ia pun menjawab, "Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini".

"Jadi apa yang akan engkau lakukan, wahai ayah?" tanya anaknya ingin tahu.

"Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zhuhur, kemudian ayah akan keluar untuk salat bersama orang-orang."

Bukannya mengiayakan, sang anak justru berkata, “Ayah, siapakah yang menjamin ayah masih hidup hingga waktu zhuhur nanti sedangkan sekarang adalah tanggungjawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi...” Umar ibn Abdul Aziz terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau memanggil anaknya untuk mendekat sambil berkata “Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku.”

Ya, dialah khalifah yang diberi julukan sebagai khalifah kelima. Umar bin Abdul Azis r.a. Ia hidup dengan sederhana. Jabatan tidak menjadikannya sok kuasa dan semena-mena terhadap rakyat. Jabatan baginya adalah ujian yang akan lebih banyak tanggung jawab dan tuntutannya. Suatu waktu, beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isterinya “Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” Beliau mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya banyak, rezekinya sedikit; aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan menuntutku di akhirat kelak dan aku khawatir tidak dapat menjawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah karana aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah Saw." Maka tak heran dalam waktu kurang dari 3 tahun, tidak ada lagi orang miskin dari kalangan rakyatnya, sehingga tak ada lagi yang berhak menerima zakat pada masa itu. Subhanallah.

Rabb... kami rindu pemimpin seperti beliau, ya Rabb... Jadikan kami mewarisi apa yang beliau miliki, dari keimanan, keindahan akhlak dan keutamaan ibadahnya kepada-Mu.


#sebuah renungan diri, yang esok hari insya Allah kan secara resmi diangkat menjadi pengabdi bagi negara ini. Ya Allah… aku tak tahu ini anugerah atau musibah. Aku hanya berprasangka baik padaMu…

B 140512

5/13/12

Berbagi dengan Menulis


“Tetapi kata dapat mengubah jiwa manusia dan sesungguhnya, pada jiwa yang berubah terletak perubahan yang niscaya bagi dunia dan kehidupan” (M.Fauzil ‘Adhim, Inspiring Words for Writers)
Menulis adalah hak semua orang, dan apa saja bisa dituliskan. Bahkan saking banyaknya hal yang bisa dituliskan, kita takkan pernah mampu menuangkan semuanya ke dalam tulisan. Menulis, sejatinya merupakan panggilan jiwa. Ya, sebuah panggilan jiwa untuk berbagi. Panggilan jiwa ini, boleh jadi, pada sebagian orang diwujudkan dengan media lisan, ada pula yang mengungkapnya lewat tulisan. Namun, apa pun kemudian medianya, substansinya sama: berbagi.
Seseorang yang ingin berbagi, tentu saja harus memiliki sesuatu untuk dibagi. Sebagaimana ungkapan, “Teko berisi teh hanya akan mengeluarkan teh dan tidak akan mengeluarkan selainnya,”  maka seseorang tidak akan pernah berbagi sesuatu yang tidak pernah ia punyai. Bagaimana mau memberi jika ia tidak punya?
Hal yang sama agaknya juga berlaku dalam berbagi dengan menulis. Kita tidak akan bisa menuliskan sesuatu yang tidak kita punya konsepnya, sesuatu yang masih samar bagi pikiran kita. Jika pun kemudian kita paksakan, maka hasilnya akan hambar, kering dan tidak enak dibaca, meskipun ia berisi kata berbunga-bunga.
Maka, seringkali selepas membaca sesuatu, baik majalah, artikel atau buku, di benak kita muncul ide-ide yang menanti dituangkan ke dalam tulisan atau sekadar pikiran-pikiran untuk didiskusikan. Terasa tangan kita sudah gatal untuk mengambil pena dan kertas atau duduk di depan komputer mengetikkan kata demi kata. Sesuatu yang wajar dan sangat normal. Pikiran kita baru saja menerima informasi, dan ia menuntut agar informasi itu dibagi.
Barangkali hal itu tidak berbeda dengan ketika kita menyaksikan kejadian-kejadian istimewa, kecelakaan beruntun, binatang ajaib, dan lain-lain yang menurut kita di luar kebiasaan. Selepasnya, tentu kita ingin menceritakannya kepada orang lain. Kita ingin membagi pengalaman kita, merangkai kalimat demi kalimat meski keluarannya hanya melalui lisan. Maka begitu pulalah menulis. Hanya medianya saja yang berbeda.
Itulah fitrah manusia untuk berbagi. Berbagi adalah sesuatu yang menyenangkan, kecuali bagi jiwa yang sudah tidak memiliki kepedulian selain kepada dirinya sendiri. Bahkan jiwa yang semacam itu pun tetap punya hasrat berbagi, meski dengan maksud lain. Agar dipuji, agar dikatakan baik hati, dermawan dan sebagainya.
Berbagi, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Kemajuan teknologi telah memudahkan langkah kita untuk berbagi. Dengan kemajuan teknologi, kita bisa terhubung dengan banyak orang secara massal melalui email, jejaring sosial, blog, microblogging dan sebagainya yang memungkinkan berbagi menjadi lebih efektif dan efisien. Seseorang bisa menulis sebuah artikel, lalu mempublishnya ke blog, jejaring sosial dan media lainnya dan bisa segera dibaca oleh orang banyak.
Ya, menulis adalah berbagi. Namun demikian, berbagi punya dimensi-dimensi tersendiri. Ada jenis-jenis berbagi. Ada banyak hal yang bisa kita bagi, tapi tidak semuanya perlu kita bagi, bahkan sebagiannya wajib kita tutup rapat dari kemungkinan dibagi. Apa misalnya?
Misalnya adalah aib. Kita tidak boleh membagi aib. Bahkan harus ditutup rapat-rapat. Jika aib sendiri saja diperintahkan untuk ditutupi, maka apatah lagi aib orang lain. Apakah seseorang bisa menyebarkan aibnya sendiri? Jawabnya bisa, bahkan sangat mungkin. Dengan kemajuan teknologi, sangat mudah menyebarkan aib sendiri. Misalnya menuliskannya pada status FB atau mengunggah foto atau video yang memuat aib kita ke internet.
Ada pula informasi yang lebih baik tidak dibagi kepada umum karena sifatnya yang rawan untuk disalahtafsirkan, atau informasi yang tidak penting untuk diketahui oleh orang banyak. Nah, informasi-informasi semacam ini sebaiknya tidak perlu dibagi, kecuali pada pihak yang tepat. Karena ia hanya akan menjadi beban informasi, dengan kata lain sampah informasi.
Jika demikian, lantas apa yang harus kita tuliskan? Tentu saja ada banyak hal. Tetapi sebagai gambaran, ada koridor tentang hal-hal apa yang bisa kita tuliskan dan bagikan kepada orang lain:
  1. Tulislah sesuatu yang bermanfaat. Ia bisa bersifat informatif, langkah-langkah mengerjakan sesuatu atau hal lain yang dibutuhkan oleh orang lain. Tidak ada batasan tema dalam hal ini. Tema tulisan kita bisa berkisar soal pengalaman sehari-hari, tips-tips melakukan suatu pekerjaan, tentang teknologi atau apa saja. Yang utama adalah informasi itu berguna dan tidak menyesatkan.
  2. Tulislah sesuatu yang engkau kuasai. Bisa seputar persoalan yang seringkali kita hadapi atau solusi atas suatu masalah yang mungkin engkau ketahui. Barangkali di antara pembaca ada yang mengalami persoalan yang sama. Apa saja, meski tak jarang ia terlihat sederhana. Karena solusi yang terlihat sederhana itu mungkin bisa sangat berarti bagi orang yang mengalami.
  3. Tulislah sesuatu yang menginspirasi, membangun semangat, membuat orang yang membacanya menemukan makna-makna baru, baik atas kejadian atau hal baru, atau atas kejadian lama tetapi dengan makna baru, sehingga ia dapat menjalani rutinitas hidupnya dengan lebih dinamis.
  4. Tulislah sesuatu yang mendekatkan diri kepada-Nya. Karena bukankah kita berawal dari-Nya dan berpulang kepada-Nya? Dan untuk ini, tidak ada satu kalimat yang lebih baik dari nasihat, dan nasihat terbaik adalah apa yang kita dapati dalam al-Qur`an.
Asas manfaat adalah poin utama yang perlu diperhatikan. Sebab, buat apa kita menulis jika ternyata tidak membawa manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Apalagi jika tulisan itu hanya akan membuat rantai keburukan yang baru untuk generasi setelah kita. Na’udzubillahi min dzalik.
Tetapi jika dengan tulisan itu ada orang yang merasakan manfaat serta memberikan nilai tambah baginya, maka itulah hakikat berbagi yang sebenarnya. Ada manfaat yang kita semaikan. Dan bukankah manusia terbaik itu adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?
Ibnu Al-Jauzi memberikan sebuah petuah bijak, “Dengan lisan aku hanya bisa menyampaikan ilmu hanya kepada sejumlah orang, sedangkan dengan tulisan aku dapat menyampaikanya kepada orang yang tidak terbatas yang hidup sesudahku.” Ini artinya, jika kita menampilkan tulisan yang baik, yang bermanfaat, yang mengarahkan manusia pada kebaikan dan kedekatan kepada Rabbnya, bukankah ini salah satu aset jariyah yang senantiasa mengalir pahalanya?
“Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR. Muslim, No. 2674).
Menulis, adalah upaya untuk membangun diri. Menulis menuntut kita lebih banyak memikirkan dan merenungkan, juga mentadabbur segala hal yang terjadi. Karenanya, ia bisa menjadi salah satu upaya kita untuk menghidupkan hati. Karena hati hanya bisa disentuh oleh hati, maka tulisan yang menyentuh, yang menggugah dan memotivasi hanya bersumber dari hati yang sudah hidup, bukan hati yang mati. Maka, memotivasi diri sendiri terlebih dahulu adalah salah satu kunci keistiqamahan dalam berbagi kebaikan. Jadilah teladan, setidaknya untuk cermin diri. Agar diri pun dimampukan dalam berbagi kata. Dengan berbagi, waktu pun tak berlalu sia-sia. Karena, setiap waktu penuh dengan kemanfaatan untuk sesama dan semesta.
Ketika kebaikan sudah diujung jari, jangan ragu untuk menuangkannya ke dalam lembar kehidupan.Karena kebaikan bukan hanya milik kita sendiri. Ya, menulis adalah berbagi. Maka menulislah…
Wallahu a’lam
*Sebuah diskusi aksara antara Farid Ikhsan Asbani dan Fayza Sari, dimuat di fimadani.com

3/27/12

Demo dan Indonesia Berharap

Mengantisipasi demo yang kabarnya besar-besaran pada Rabu ini, pihak kantor kemarin menyampaikan beberapa himbauan. Dan agaknya, ini himbauan serius, meskipun hanya antisipasi saja. Maklum, gedung kami sangat dekat dengan gedung DPR. Meskipun yang didemo adalah DPR dan bukan institusi kami, tetapi yang namanya massa bisa berbuat apa saja. Maka antisipasi adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.

Jika pihak kantor melakukan antisipasi, maka saya dan beberapa orang teman juga melakukan antisipasi dengan gaya kami sendiri: khusus hari ini, kami tidak membawa motor. Tadi pagi saya berangkat mengendarai motor karena ada seorang kawan yang sakit dan tidak mungkin saya ajak naik angkot. Setelah sampai kantor dan presensi sidik jari, saya pulang dengan maksud menyimpan motor di kontrakan. Lebih aman dari demo. Begitu maksud saya. Tetapi begitu sampai di depan rumah, saya tersadar bahwa kunci rumah saya taruh di tas yang saya tinggal di kantor. Aduh, bagaimana ini? Setelah menimbang-nimbang berbagai kemungkinan, saya beranikan diri mengetuk pintu rumah Pak RW yang ada di sebelah kontrakan saya, menitipkan motor sampai saya pulang kembali nanti.

Setelah menitipkan motor, saya segera berangkat ke kantor. Penjagaan lumayan lebih ketat dari biasanya, ID card selalu ditanyakan setiap kali ada yang masuk (biasanya juga begitu, tetapi ini agak lebih ketat), tentara juga sudah terlihat bersiap.

Sebagai seorang warga negara, saya hanya berharap bahwa demo kali ini tidak justru membuat masalah baru yang menyeret bangsa ini menuju keterpurukan. Karena dalam pandangan obyektif saya, kenaikan BBM adalah hal yang wajar, hanya saja, mungkin karena salah pengaturan dan momentum, maka eksesnya begitu terasa.

Kita semua telah tahu bahwa BBM adalah barang yang mahal dan tidak bisa diperbaharui. Barangkali sudah saatnya pemerintah beralih pada sumber energi lain yang lebih efisien dan terbarukan. Maka saya menyambut baik digagasnya putra petir yang mencuat akhir-akhir ini. Semoga di tengah kehamilan tua itu, putra petir segera lahir. Sebab, jika ia sudah lahir dan berkembang dewasa, maka tidak akan ada lagi demo untuk kenaikan BBM, karena pada saat itu, kendaraan telah menggunakan energi yang lain: listrik.

Maafkan saya, sepertinya lanturan ini kurang nyambung satu sama lain, tetapi sedikit benang merah dalam dua peristiwa di atas adalah semoga momentum demo BBM mendorong pemerintah untuk segera membangun teknologi non-BBM yang lebih efisien dan murah: salah satunya adalah putra petir. Ya, karena harapan itu masih ada. Let's manufacture the hope!

3/20/12

Jarak dan Calon, eh... Calo

Entah ini kabar baik atau kabar buruk, mulai Kamis, 8 Maret 2012 lalu, PT KAI memberlakukan reservasi pemesanan tiket H-90. Berita di beberapa media menyebutnya kabar baik. Namun, ternyata tidak bagi saya, setidaknya belum untuk saat ini. Sebabnya, saya baru tahu kabar ini Senin, 11 Maret 2012, selisih 4 hari dari waktu pemberlakuan kebijakan baru tersebut. Dan ketika mengecek ketersediaan tiket untuk kepulangan tanggal 16 Mei 2012 (ada long weekend 4 hari), ternyata sudah tidak ada lagi yang tersisa (di loket resmi). Akhirnya, harapan beralih pada tiket ekonomi yang belum dijual (biasanya saya memang memakai kereta ekonomi, tetapi karena susah dapatnya, jadi mencoba alternatif kereta bisnis).

Kebijakan baru PT KAI sudah sepatutnya diapresiasi dengan baik. Sejak 1 Oktober 2011 lalu sudah tidak akan ada lagi tiket berdiri, okupansi kursi hanya sebesar 100%, tidak 150% sebagaimana pernah berlaku dahulu. Tiket juga bisa sudah bisa dipesan jauh hari sebelum keberangkatan. Namun demikian, kebijakan baru PT KAI di mana tiket bisa dibeli H-90 (untuk kereta bisnis dan eksekutif) dan H-40 (untuk kereta api ekonomi-mulai 1 April 2012), di sisi lain menyimpan potensi merugikan bagi penumpang. Bagaimana tidak, perjalanan dengan menggunakan kereta api harus direncanakan paling tidak 3 bulan sebelumnya. Sudah jamak diketahui bahwa pada 2 hari pertama penjualan biasanya tiket sudah habis. Kemudahan yang ditawarkan PT KAI seperti pembelian via online, Kantor Pos atau Indomaret agaknya juga tidak bisa maksimal diandalkan. Maka, harapan bagi mereka yang kepergiannya tentative atau dadakan untuk mendapatkan tiket sekarang beralih dari loket resmi kepada calo.

Calo selama ini telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari dunia perkeretaapian di Indonesia. Betapa tidak, hampir di setiap akhir pekan, tidak sedikit penumpang yang tidak kebagian tiket di loket resmi baru bisa mendapatkannya dari calo. Tentu dengan harga yang berlipat dari harga normalnya. Bagi yang belum tahu apa itu calo, KBBI menyebutnya sebagai “Orang yg menjadi perantara dan memberikan jasanya berdasarkan upah.” Namun, pada praktiknya, calo telah berubah makna sebagaimana yang dikemukakan Akhmad Jamal Yuliarto, “Orang yang mampu mendapatkan tiket dengan mudah dan membuat orang lain terpaksa membeli tiket melalui mereka dengan harga yang lebih tinggi daripada harga resminya” (Akhmad Jamal Yuliarto, Calo Kereta Api: 2004). Bukannya mempermudah sebagaimana definisinya di KBBI, calo justru membuat keresahan dengan mempermainkan harga tiket demi keuntungan sendiri.

Permasalahan calo memang sudah ada sejak lama dan barangkali akan terus ada hingga entah kapan. Pasalnya, sampai saat ini belum ada payung hukum yang bisa menjadi dasar bagi pihak berwenang untuk mengatasi persoalan calo. Sementara itu, pihak stasiun terkesan cuci tangan dalam masalah ini. Yang penting tiket habis, lalu mereka tidak mau tahu apa yang terjadi selanjutnya. Maka anggapan bahwa para calo memiliki akses langsung kepada tiket barangkali memang bukan sekadar isapan jempol. Ada petugas yang ikut terlibat, atau jika tidak, ada semacam pembiaran.

Pemberlakuan kebijakan baru ini perlu dikawal agar calo tidak lagi merajalela atau bahkan malah semakin berjaya. Sudah saatnya PT KAI peduli kepada kesulitan konsumen mendapatkan tiket dengan tindakan nyata. Bukan sekadar kata-kata. Saya, sebagai pengguna tidak bisa berharap banyak selain hanya menyesuaikan diri dengan kebijakan baru ini. Pulang kampung sekarang benar-benar menjadi pemikiran tersendiri, benar-benar harus direncanakan jauh-jauh hari, di samping soal harga tiket yang pada akhir pekan lebih mahal dari hari biasa.  Namun sekali lagi, sebagai pengguna saya hanya bisa menyesuaikan diri, sambil terus berharap, perbaikan di PT KAI berjalan lebih cepat dan efisien.

021-20032012

Di tengah jarak Jogja-Jakarta yang kian terasa jauhnya

Intermezzo

Travel

Teknologi