3/27/12

Demo dan Indonesia Berharap

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Mengantisipasi demo yang kabarnya besar-besaran pada Rabu ini, pihak kantor kemarin menyampaikan beberapa himbauan. Dan agaknya, ini himbauan serius, meskipun hanya antisipasi saja. Maklum, gedung kami sangat dekat dengan gedung DPR. Meskipun yang didemo adalah DPR dan bukan institusi kami, tetapi yang namanya massa bisa berbuat apa saja. Maka antisipasi adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.

Jika pihak kantor melakukan antisipasi, maka saya dan beberapa orang teman juga melakukan antisipasi dengan gaya kami sendiri: khusus hari ini, kami tidak membawa motor. Tadi pagi saya berangkat mengendarai motor karena ada seorang kawan yang sakit dan tidak mungkin saya ajak naik angkot. Setelah sampai kantor dan presensi sidik jari, saya pulang dengan maksud menyimpan motor di kontrakan. Lebih aman dari demo. Begitu maksud saya. Tetapi begitu sampai di depan rumah, saya tersadar bahwa kunci rumah saya taruh di tas yang saya tinggal di kantor. Aduh, bagaimana ini? Setelah menimbang-nimbang berbagai kemungkinan, saya beranikan diri mengetuk pintu rumah Pak RW yang ada di sebelah kontrakan saya, menitipkan motor sampai saya pulang kembali nanti.

Setelah menitipkan motor, saya segera berangkat ke kantor. Penjagaan lumayan lebih ketat dari biasanya, ID card selalu ditanyakan setiap kali ada yang masuk (biasanya juga begitu, tetapi ini agak lebih ketat), tentara juga sudah terlihat bersiap.

Sebagai seorang warga negara, saya hanya berharap bahwa demo kali ini tidak justru membuat masalah baru yang menyeret bangsa ini menuju keterpurukan. Karena dalam pandangan obyektif saya, kenaikan BBM adalah hal yang wajar, hanya saja, mungkin karena salah pengaturan dan momentum, maka eksesnya begitu terasa.

Kita semua telah tahu bahwa BBM adalah barang yang mahal dan tidak bisa diperbaharui. Barangkali sudah saatnya pemerintah beralih pada sumber energi lain yang lebih efisien dan terbarukan. Maka saya menyambut baik digagasnya putra petir yang mencuat akhir-akhir ini. Semoga di tengah kehamilan tua itu, putra petir segera lahir. Sebab, jika ia sudah lahir dan berkembang dewasa, maka tidak akan ada lagi demo untuk kenaikan BBM, karena pada saat itu, kendaraan telah menggunakan energi yang lain: listrik.

Maafkan saya, sepertinya lanturan ini kurang nyambung satu sama lain, tetapi sedikit benang merah dalam dua peristiwa di atas adalah semoga momentum demo BBM mendorong pemerintah untuk segera membangun teknologi non-BBM yang lebih efisien dan murah: salah satunya adalah putra petir. Ya, karena harapan itu masih ada. Let's manufacture the hope!

Silakan meninggalkan komentar Anda di sini
Emoticon Emoticon

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- Melayang --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-1793065522891176" data-ad-slot="5011446128" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>