Ruang Tunggu: Majalah Tarbawi
Showing posts with label Majalah Tarbawi. Show all posts
Showing posts with label Majalah Tarbawi. Show all posts

1/29/14

Berani Menegur Itu Menggerakkan

Menegur adalah bagian dari interaksi kita dengan orang lain dalam kehidupan ini, yang ditujukan kepada orang tertertu, karena kita mengharapkan perbaikan pada dirinya.

Menegur untuk menyatakan kebenaran kepada orang lain, mungkin terlihat mudah. Tapi faktanya, tindakan tersebut begitu sulit dan berat dilakukan oleh sebagian besar dari kita.

Padahal semua kita yang mengetahui kesalahan itu pasti sepakat, bahwa kekeliruan harus diluruskan, kesalahan harus diperbaiki, kezaliman harus diakhiri. Teguran amat pentig, supaya kesalahan tidak berlanjut, dan tidak merusak lebih dalam serta lebih luas. Tentu dengan tidak mangabaikan etika dan prinsip didalam melakukannya. Karena itu, kita juga sepakat bahwa berani menegur itu menggerakkan, berani mengingatkan itu menghidupkan.

Tarbawi Edisi 313.

12/3/12

Tarbawi 287: Di Balik Kebiasaan Kita Memilih Kata

Tarbawi 287

Memilih kata itu adalah seni, rasa, dan sastra. Karena itu, pilihan kata seseorang dalam bicara, akan bisa mengangkat dan meninggikan kedudukannya. Dengan pilihan kata pula kita bisa menarik perhatian orang-orang di sekitar kita. Sehingga seorang bijak berkata, “kedudukan seseorang menjadi tinggi sesuai dengan pilihan katanya.”
Masing-masing kita memiliki pilihan kata dalam berbicara. Dan pilihan itu tentu tidak sekadar sesuatu yang biasa, sebab ia membawa pesan-pesan di baliknya. Kebiasaan kita memilih kata, ada hal-hal yang melatarinya. Bukan hanya itu, tetapi juga untuk mengingatkan kita betapa pilihan itu harus memiliki motivasi-motivasi yang baik dan bertanggung jawab. Ada bijak yang mengatakan, “Seseorang diukur dengan dua anggota tubuhnya yang kecil: hati dan lidahnya.”

Semoga keimanan kita lebih terjaga dengan pilihan kata, dan kita bisa lebih dalam sebuah persoalan sebelum mengambil sikap untuk bicara. Karena setiap kata ada pertanggungjawabannya.

11/6/12

[Tarbawi 285] Ada yang Layak Kita Nikmati dari Warna dan Tampilan


Warna dan tampilan hadir dalam kehidupan ini untuk mewujudkan sebagian kebahagiaan kita, juga untuk mewujudkan sebagian kebaikan yang kita harapkan. Sebagaimana ia juga hadir untuk menjauhkan kita dari keburukan dan aib. Ya, karena warna dan tampilan sesungguhnya ia adalah bagian dari keyakinan kita, ia adalah sebuah tradisi dalam kemusliman kita. kita mendengar, kita menyaksikan, kita berpikir, sesuai dengan keyakinan kita terhadap warna dan tampilan yang ada.

Dan setiap orang punya warna dan tampilannya sendiri yang dinikmatinya. Orang kaya punya warna dan tampilannya, seperti juga orang yang tak punya, memiliki warna dan tampilannya sendiri. Orang sukses punya warna dan tampilan yang dia nikmati, seperti juga orang yang gagal punya warna dan tampilan yang dia nikmati sendiri. Sebagai muslim, kita juga menikmati warna dan tampilan yang sah menurut keyakinan kita dan sesuai dengan kemusliman dan keimanan yang melekat dalam diri kita.


WIJHAT| (Bukan) Akhir Media Cetak

KEARIFAN KOMUNITAS| Komunitas Rhesus Indonesia (RNI)

LIQOAT| Prof. Dr. H. Edison Munaf, M.Eng, Pakar Kimia Lingkungan Hidup

DZIKROYAT| Sabar Gorky: Pendaki Satu Kaki

KHAZANAT| Empat Kota Bawah Tanah

JAULAT| Social Media Festival 2012: Dari Interaksi Menuju Kolaborasi

MUKJIZAT| Terapi Energi: Bagaimana Menurut AlQuran (1)

RUHANIYAT| Sudahkah Kita Berbakti pada Orangtua?



===========================cuplikan=================================

"Jika engkau tak lebih cantik dari bulan, engkau aku cerai tiga kali," kata Isa bin Musa, lelaki yang hidup dimasa Khalifah Al Manshur itu. Sedikitpun ia tak bermaksud menceraikan istrinya, karena yang ia maksud adalah bahwa istrinya tersebut jauh lebih cantik daripada bulan.

Tetapi lafaz cerai adalah hukum yang serius, tiada yang main-main di dalamnya. Maka demi mengetahui perkataan sang suami, sang istri pun menghindar dari suaminya. Ia merasa telah diceraikan oleh suaminya. Ini menjadi sesuatu yang buruk bagi Isa.

Keesokannya, ia menghadap Khalifah Al Manshur, "Wahai Amirul Mukminin, jika sampai akubercerai dari dia, makahatiku akan selalu dijejali gelap, dan mati lebih aku sukai daripada hidup."

Al Manshur pun gundah. Ia lantas mendatangkan beberapa ulama fikih. Semuanya sepakat bahwa cerainya telah jatuh kecuali satu orang yang sedari tadi diam. Maka Al Manshur heran, "Mengapa engkau tidak berbicara?"

Maka ulama itu membaca Firman Allah dalam surat at-Tiin, "Demi (buah)Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."

Ia lantas melanjutkan, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya manusia ituseindah-indahnya bentuk. Tidak ada sesuatu pun yang lebih indah dari manusia."

Akhirnya, AL Manshur berkata kepada Isa, "Hukumya seperti yang ia katakan. Jadi, kembalilah ke istrimu."

Berbicara soal cantik, indah, dan apa saja yang enak dipandang, jiwa kita memang menghajatkan apa yang terasa menentramkan dari apa yang kita pandang. Aslinya kita memang memiliki karakter bawaan yang memandang indah berbagai simbol keindahan itu sendiri. Ada yang layak kita nikmati dari warna dan tampilan. Sebagai fitrah dasar, itu bukan aib pada fungsi aslinya.

Jiwa kita menghajatkan warna, menyukainya, seperti juga menghajatkan desain dan bentuk, untuk disukai juga. Kebutuhan kita akan kadar tertentu dari menikmati tampilan, juga warna, adalah bagian dari keniscayaan. Itu memberi kita nafas keberlangsungan.

10/30/12

[Tarbawi 284] Sendiri itu Bisa Menjebak, Sebab Tak Ada yang Bebas Pengaruh

Tarbawi 284

"Sendiri itu, adalah ketika kita merasa mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan kita seorang diri, dan disitulah jebakannya."
"Sendiri itu, adalah saat kita merasa paling banyak tahu daripada yang diketahui orang lain."

Sendiri adalah fase yang pasti ada dalam hidup kita. Ya, karena kita mengawalinya dengan sendiri dan akan mengakhirinya juga dengan sendiri. Kita dilahirkan sendiri, dan kelak pada saat tiba, kita pun akan menghadap Allah sendiri serta berdiam di alam barzakh sendiri. Tapi meskipun kita datang dan pergi sendiri, kita tidak bisa bebas dari pengaruh orang lain.

Sendiri itu tidak selamanya buruk. Agama bahkan menyuruh kita untuk sesekali sendiri. Tujuannya adalah agar kita jauh dari tempat-tempat riya yang menghancurkan amal perbuatan. Orang yang duduk sendirian tidak akan menemukan orang yang akan memengaruhinya dan mendorongnya berbuat riya. Sedang dalam interaksi kita dengan banyak orang, terkadang muncul dorongan pada jiwa untuk menampakkan sikap yang dibuat-buat.

Menjadi sendiri, secara keliru, bukan lagi perkara baru hari ini. Ada pelajaran yang telah ada sejak dahulu. Meninggalkan untuk kita bimbingan yang sangat berharga. Itu bahkan ada pada kisah yang menyertai kehidupan para Rasul. Dalam spektrum luas, kita menemukan situasi-situasi itu menyentuh berbagai sisi kehidupan.

WIJHAT| Rasa Suka Mestinya Tak Membuat Buta

KEARIFAN KOMUNITAS| Koalisi Pejalan Kaki (KPK)

LIQOAT| Anggito Abimanyu, M.Sc., Ph.D., Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag

DZIKROYAT| Jejen Supandi, Mubaligh Pedesaan, 13 TAhun Menabung untuk Berhaji

JAULAT| Merenungi Indonesia dari Pameran Persenjataan TNI

MUKJIZAT| Dunia Medias Akui Kebenaran Al-Qur'an: Kulit Bisa Bicara.

RUHANIYAT| Manusia-Manusia Subuh

10/10/12

Memahami Kembali Arti Titip Salam


Tarbawi Edisi 283
Memahami Kembali Arti Titip Salam

Salam tak sekadar alat untuk menegur, tapi ia juga menyimpan makna yang kadang luput kita selami. Salam memiliki kekuatan yang kadang tak gampang kita sadari. Salam punya keistimewaan yang tak ada dalam ucapan sapa manusia mana pun. Setidaknya, seperti yang telah jelas Rasulullah Saw sampaikan kepada kita dalam beberapa hadisnya: salam menumbuhkan cinta, salam memberi keselamatan, salam membawa kita mewarisi surganya.

Titip salam juga menjelaskan dan mengukuhkan jejaring yang terbangun dalam relasi sosial kita. Dalam membangun relasi dengan seseorang, selalu ada pihak-pihak ketiga yang terkait. Kita sebetulnya saling terhubung, meski kadang tidak kita sadari. Banyak penelitian yang menunjukkan, betapa kecilnya dunia ini, karena kita sebetulnya saling terhubung. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa dunia ini memang selebar daun kelor.


WIJHAT| Kebaikan Katauntuk Kita

KEARIFAN KOMUNITAS| Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN)

UFUQIYAT| Masa Depan Asia PAsifik: KonflikEnergi dan Pasar Ekonomi Dunia

LIQOAT| Prof. dr. Umar Fahmi Achmad, Pakar Kesehatan Masyarakat

DZIKROYAT| Khilda Baiti Rohmah, Aktivis Pengelolaan Sampah

RUHANIYAT| Namanya Jembatan Keletihan

JAULAT| Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ)


MUKJIZAT| Kedokteran Modern Buktikan Kemukjizatan Khitan

Gambar: FB Tarbawi

8/2/12

[Tarbawi Edisi 280] Nyata dan Semu Dari Mudahnya Temukan Kawan Lama dan Baru

Perkembangan zaman yang terus melaju dengan berbagai kemajuan teknologi terus menciptakan kemudahan di banyak sisi dalam kehidupan manusia. Tidak hanya kemudahan-kemudahan dalam bekerja dan beraktivitas, berpindah dan berjelajah, tapi juga dalam berinteraksi  dan berkomunikasi. Internet yang menjadi teknologi jaringan paling popular, menjadikan kita sangat mudah terhubung satu sama lain, di mana saja dan kapan saja, menggunakan perangkat yang juga kian mudah dan terjangkau.

Dari pertemuan kita, tentu kita berharap lebih banyak lahir sesuatu yang nyata dari yang semu dan palsu. Lebih banyak menghasilkan manfaat daripada mudharat. Di mana pun kita menjalin pertemanan itu, dan dengan siapa pun kita berkawan. Namun untuk mewujudkan itu, tentu ada etika dan cara yang harus selalu kita perhatikan, khususnya etika yang menjadi dasar pertemanan yang telah digariskan agama, demi mengendalikan hubungan baik kita dengan kawan-kawan yang datang dan kita dapatkan begitu mudah lewat sarana-sarana yang ada.

WIJHAT| Puasa dan Pelajaran Komunikasi antar manusia

MUKJIZAT| Luar Biasanya Puasa (1)

KEARIFAN| Sedekah Rombongan

GALERI EKONOMI| Bisnis Makan Sehat Untuk Bayi

LIQOAT| Bachtiar Nasir Sekjen MIUMI

DZIKROYAT| Etty Lasmini, Membina Mantan Napi dan Pecandu Narkoba dengan Kerupuk Kulit

RUHANIYAT| Rindu dan Duka di Awal Pertemuan

7/3/12

[Tarbawi Edisi Khusus] "AYAH, IBU, AKU INGIN BERTEMU" Sepi dan RIndu Para Pencari Garis Keluarga


Ketika Islam mengatur dengan ketat pentingnya kepastian nasab, begitu banyak rahasia yang bisa kita temukan di baliknya. Tidak semata urusan gen. Tapi ada hukum-hukum yang sangat lekat dengan itu. Maka semua urusan perkawinan dalam peradaban apapun, selalu diafiliasikan atau bahkan diserahkan otoritasnya pada keyakinan agama pasangan yang menikah itu. Adalah hak setiap bayi, untuk lahir dari ayah dan ibu yang jelas secara hukum dan bertanggungjawab secara perilaku.

Menyadari bahwa ada orang tua kandung yang selama ini tak diketahui, bukanlah kenyataan yang ringan untuk diterima. Setidaknya pada detik hentakan pertamanya. Akan ada garis-garis yang tertarik dan saling beradu, tentang takdir dan penerimaan. Tentang protes dan kerelaan. Tidak mudah mengelola perasaan, bahwa ada pihakyang salah atas kondisi dirinya, tetapi tidak bisa dipersalahkan, karena bagaimanapun mereka adalah orang tua kandung.


  • Ibu, Ayah, dan Rasa Batin Kita
  • Harga Sebuah Silsilah:Merasakan Kasih Sayang Allah di Garis-garis Keluarga
  • Reza 'Ayu' Purwanti, Pencarian itu Berakhir di Pusara Ibu
  • Putri Herlina, Mencari Garis Keluarga dalam Penerimaan dan Doa
  • Muhammad Iswan, Lelaki yang Gagal Menemukan Ayahnya
  • Nanda Mutia Rahmawati, Menemukan Ayah, Wasiat Ibu yang Belum Tertunaikan
  • Nurfita Sari Nurdin, Menanti Haris Sakral, Dinikahkan Ayah Kandung Sebagai Wali
  • Nadia, Mencari Saudara Kandung, Sisi LainRindu pada Garis Keluarga
  • Endang Yuli Purwati dan Achmad Badawi, Kisah Bahagia Merawat Anakanak Asuh
  • Liqoat: Dr. Titik Sumarti, M.S., Pakar Sosiologi Keluarga
  • Mir'at, Kenangan Tak Terpisahkan Ayah dan Ibu
  • Rindu dan Ikatan Batin dengan Orangtua Kandung, Tak Akan Putus
  • Tak (Selalu) Mudah Menjadi Anak Adopsi
  • Ruhaniyat, Hidup yang Hidup


6/21/12

[Tarbawi 278] Masalahnya, Kita Sering Tidak Yakin

Keyakinan, dalam struktur kesadaran kita, merupakan unsur utama dan paling penting. Keyakinan jugamerupakan pilar asasi dalam hidup kita. Sebab dari sana kita menggerakkan diri dalam berbagai perjalanan. Bahkan seluruhnya. Tanpa keyakinan, kita akan mengisi hari-hari dengan ragu, coba-coba, dan akhirnya penuh dengan gelisa dan amarah.

Bagi kita seorang Muslim, keyakinan lebih dari sekadar apa yang terasa mantap di dalam hati. Sebab di tengah subyektifitas yang melekat pada kemanusiaan kita, keyakinan harus kita temukan dasar-dasarnya serta kerangkanya yang kuat, yang merujuk kepada sumber yang kuat pula. Itu Sebabnya, keyakinan harus dinisbahkan kepada nilai. Dan sumber dari nilai yang benar bagi kita adalah ajaran agama kita sendiri.

WIJHAT| Antara Retorika dan Hermeneutika

RUHANIYAT| Jangan Putus Asa Terhadap Dosa

MUKJIZAT| Alam Semesta Bergerak Semakin Luas? (1)

JAULAT| Museum Batik Danar Hadi

LIQOAT| Riad Ouarzazi, Instruktur di Almagrhib Institute

DZIKROYAT| Sarno Ikhwani "Dokter Kincir Angin Dari Banyumas"

================================================================

TARBAWI EDISI KHUSUS EDISI 29 JUNI 2012

"AYAH, IBU, AKU INGIN BERTEMU"
Sepi dan Rindu Para Pencari Garis Keluarga"


6/5/12

[Tarbawi 277] Belajar dari Ulama-ulama Tangguh di Ragam Pentas

DIROSAT|

"Sebagian manusia ada yang mengira bahwa nasibnya di tangan manusia. Tapi bagi orang yang benar-benar beriman, sungguh mereka kokoh dan tidak pernah takut dengan celaan orang." 
Syaikh Abdullah al Jalali

Tidak akan pernah berhenti. Keharusan kita belajar. Dari ulama-ulama tangguh di ragam pentas. Mereka tidak saja ulama dalam pengertian keilmuan. Tapi juga petarung di momen-momen krusial, inisiator solusi di saat-saat genting, pada saat yang sama mereka semuanya para pengabdi.

Para ulama-ulama tangguh itu mengabdikan dirinya untuk kemanfaatan yang sangat-sangat luas. Siapa tak kenal Umar bin Abdul Aziz, misalnya. Lelaki yang namanya terus menggema sepanjang masa itu adalah ulama besar. Orang mungkin lebih banyak mengenalnya sebagai peimpin yang adil, pemakmur yang menciptakan perubahan drastis. Melimpahkan kesejahteraan hingga tak ada lagi penerima zakat. Tapi di balik itu semua ia juga seorang ulama besar.


WIJHAT| Kesenjangan Informasi

RUHANIYAT| Selalulah Merujuk Kepada Allah

KEARIFAN| Keistimewaan Semut

JAULAT| Museum Pos Indonesia, Bandung

LIQOAT| Dra. Rahayu Chosdu, MM, APU; Peneliti Senior Batan

DZIKROYAT| Hj. Nurjannah Hulwani: Tembus Gaza, Bertemu Selaksa Keajaiban

5/21/12

[Tarbawi Edisi 276] Menakar Selera Kita dalam Saling Mengingatkan

Semangat saling mengingatkan, semangat saling memperbaiki. Bukan saling menjatuhkan. Apalagi menyakiti. Maka apa yang kita sampaikan kepada seseorang hendaknya diniatkan hanya untuk menciptakan perubahan dalam dirinya. Tidak ada selera yang lain.Maka saling mengingatkan adalah sebuah usaha untuk menjangkau hati dan menyentuh jiwa.

Namun saling mengingatkan tentu bukanlah perkara mudah, yang bisa kita lakukan hanya berdasar selera kita saja, tanpa memedulikan isi hati, watak,karakter, dan pikiran manusia-manusia yang kita hadapi. Ini penting, karena niat yang baik tidak selalu bisa diterima secara baik, jika kita yang menjalankannya hanya tahu selera kita saja. Tapi buta atau tak mau tahutentang yang lain, dan tentang hakikat mengingatkan itu sendiri.



WIJHAT| Hasrat Komunikasi

RUHANIYAT| Jangan Takut Jika Harus Lewati Ujian

KEARIFAN| Komunitas Sindikat KUliner

JAULAT| Menelusuri Malam di Jakarta Historical Place

LIQOAT| Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie: Menata Ulang Konstitusi Indonesia

DZIKROYAT| Galuh Sukmara Hafeez: Aktivitas Pendidikan Bagi Tunarungu

4/9/12

[Tarbawi] Mereka Jadi Besar Karena Iringi Mau dengan Kemantapan


Edisi 273

Ada baiknya sesekali kita berkaca ulang. Menimbang kembali apa yang sedari dulu kita mau, apakah kini sudah terjadi. Atau apa yang kita mau di masa mendatang, bagaimanakah cara kita membuatnya nyata. Maka semua diawali dari seperti apa definisi kemauan kita.

Tidak mudah mendefinisikan apa yang kita mau. Sebab, itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Semua itu akan sangat mempengaruhi bagaimana kita memilih untuk menjadi apa.

Tidak sederhana menciptakan itu, memang. Karena selalu ada rintangan di depan mau. Tapi beberapa hal berikut, seringkali menjadi sarana bagi pendahulu kita dalam menstabilkan mau mereka, sehingga mereka bisa terus melangkah, bisa sampai pada titik yang mereka harapkan.

Mendefinisikan apa yang kita mau artinya menjelaskan kepada diri kita apa yang sesungguhnya inginnkita capai. Ini bisa sebuah profesi, atau prestasi di luar profesi, pencapaian yang prasastif, atau bahkan sesuatu yang akhirnya kita jalani secara rutin dan berulang-ulang.


KEARIFAN
Komunitas Muslimah Back Packer

JAULAT
Mall Rongsok: Peluang Emas Pecinta Barang Bekas

MUKJIZAT AL-QUR`AN

Hafalan Al-Qur`an Tingkatkan Kecerdasan dan Keseimbangan Mental

RUHANIYAT
Tetaplah Berbaik Sangka pada Allah SWT

WIJHAT
Skeptik Itu Baik

ALAMIYAT
Laporan Perjalanan Global March to Jerusalem

Intermezzo

Travel

Teknologi