Ruang Tunggu: oase
Showing posts with label oase. Show all posts
Showing posts with label oase. Show all posts

10/22/12

Kita dan Waktu Sisa


"Berapa banyak waktu yang kau gunakan secara efektif selama sehari, 24 jam?" Itu pertanyaan reflektif yang mampir di benak saya. Betapa tidak, waktu saya sebagian besar habis di dua tempat: bekerja di kantor dan istirahat di kos. Bekerja telah menyita 9 jam dari waktu saya, sementara istirahat di kos menyumbang kurang lebih angka yang sama, 8 jam. Sisanya habis di jalan, kuliah, aktivitas transisi, atau aktivitas pribadi lainnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, "Kapan waktu untuk belajar ilmu agama?". Ini pertanyaan yang susah dijawab. Aktivitas keseharian saja sudah menyita begitu banyak waktu, apalagi jika ditambah kuliah, tentu pulang tambah larut. Akhirnya aktivitas ini hanya mengandalkan waktu sisa. Ini pun kadang tak dengan baik terkelola sehingga akhirnya terlewat begitu saja.

Padahal sebenarnya wahana dan sarana untuk belajar ilmu agama, kini begitu banyak tersedia. Bukan saja ragam ilmunya, tetapi juga metodenya, bahkan tidak sedikit yang kemudian ditawarkan dengan gratis. Kemajuan teknologi telah mempermudah segalanya, kita bisa mengunduh mp3 kajian mulai dari tema aqidah sampai ibadah, dari kajian tafsir qur'an sampai kajian kitab-kitab karangan ulama klasik maupun kontemporer, semuanya gratis. Tetapi ternyata itu masih belum mampu mendongkrak kuantitas dan kualitas ilmu diniyah kita.

Bayangkan, bagaimana jika ternyata di sebuah tempat, di daerah minoritas muslim, sekelompok orang datang sepekan sekali untuk mengaji, tetapi bukan mengaji dari ustadz sebagaimana kita kajian di masjid, tetapi dari kaset. Kaset yang direkam tahun 90-an, tetapi semangat mereka sama semangatnya dengan kita ketika mengaji dari ustadz langsung, bahkan mungkin semangat kita kalah oleh mereka. Dan ternyata, ini memang ada, mereka adalah ibu-ibu minoritas yang tinggal di kampung, yang mayoritas warganya non-muslim, di kampung Bola Dangko, Kulawi, Palu-Sulawesi Tengah.

Ah, semakin malu saja saya. Betapa banyak waktu tersia tanpa bertambahnya ilmu atau amal. Padahal, bukankah setiap napas bisa menjadi dzikir? Kemacetan pun bisa menjadi ladang dzikir, perjalanan bisa digunakan untuk muraja'ah hafalan qur'an, waktu luang di kantor bisa dipakai mendengarkan kajian, browsing bisa sambil membaca artikel tentang ilmu syariah, dan masih banyak lagi.

Maka, sebetulnya tiada alasan lagi bagi kita untuk tidak bertambah ilmu dan amal setiap hari. Maka, wahai diri, amal dan ilmu apa yang sudah kau dapat hari ini?

Gambar diambil dari sini

10/6/12

Hidayah dan Panjangnya Perjalanan



Apakah hidayah itu? Pertanyaan itu seketika muncul dibenak saya. Sebabnya selama ini hidayah diidentikkan sebagai sesuatu yang bersifat gifted/granted, diberikan. Sesuatu yang hadir tanpa diduga dalam hidup, datang begitu saja sebagai sebuah kesadaran selepas mengalami masa “tak sadar” yang barangkali bisa dibilang lama. Betapa sering kita mendengar adanya penjahat atau orang yang dianggap tidak baik tiba-tiba berubah dari sifatnya yang tidak baik itu karena mengalami suatu kejadian tertentu. Kesadaran itu lantas mendorongnya untuk meninggalkan kebiasaan buruknya itu dan kemudian menuju arah yang lebih baik. Perubahan ini umumnya bersifat cepat dan keseluruhan. Inilah yang dimaksud hidayah oleh sebagian orang.

9/30/12

Kemudian Kalian Akan Benar-Benar Ditanya



Pada suatu malam, Rasulullah Saw keluar menuju suatu tempat. Di perjalanan, beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar, lalu beliau bertanya: “Apakah yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat seperti ini?”
Mereka berdua menjawab: “Kami keluar karena lapar, wahai Rasulullah.”

5/12/12

Sapaan Pengingat: Kecil Tapi Bermakna


sumber: syamatahari.com

Sore itu, selepas shalat Ashar, di mushalla kantor, seorang kawan berdiri. Tampaknya hendak mengerjakan shalat sunnah ba'diyah. Seorang teman senior di dekatnya lalu menjawilnya menanyakan, "Mau shalat apa?" Maka terjadilah diskusi kecil itu. Sang kawan yang hendak shalat sunnah ba'da Ashar tadi akhirnya tahu bahwa tidak ada shalat sunnah selepas 'Ashar. Tidak hanya itu, ia juga akhirnya mengerti kapan saja waktu yang diperbolehkan untuk melaksanakan shalat sunnah Rawatib. Sebuah pengingat kecil, tetapi mencerahkan. Menyelamatkan seorang Muslim dari kesalahan.

Di lain waktu, hari Jumat, menjelang shalat Jumat, saya melihat empat orang menggelar sajadah di bawah pohon. Letaknya sekitar 10an meter dari lokasi masjid tempat dilaksanakannya shalat Jumat, padahal di dalam masjid masih tersedia cukup tempat. Di samping itu, tidak ada jamaah yang meluber ke halaman. Hanya mereka saja yang memisahkan diri, mencari tempat teduh. Hati saya terusik meski tetap berjalan ke arah yang lain. Tetapi, nurani saya menang kali ini, saya berbalik, mendatangi mereka. Setelah meminta maaf terlebih dahulu, saya menjelaskan bahwa posisi mereka semacam itu sudah bukan lagi dalam kategori makmum. Sebabnya, selain jarak mereka yang agak jauh dari jamaah, juga tidak ada sambungan shaf di depan mereka. Saya pun berlalu ketika mereka terlihat mengerti maksud saya. Sebuah pengingat kecil, dan semoga mampu mencegah rusaknya amal dikarenakan ketidaktahuan.

Sementara itu, selepas salam shalat Maghrib itu, seorang bapak di samping saya berujar, mengingatkan untuk menutupi dengan tangan ketika menguap karena itu datangnya dari setan. Saya iyakan saja, meski saya lupa apakah tadi menguap atau tidak. Sebuah pengingat kecil, tetapi bermakna.

Mengingatkan, barangkali tidak harus pada hal-hal yang besar. Banyak hal kecil yang di dalamnya perlu dibudayakan semangat saling mengingatkan. Shalat misalnya, saya merasa beruntung karena selalu ada rekan kantor yang mengingatkan untuk shalat, jadilah kami saling mengingatkan. Dalam perjalanan menuju mushala, tak jarang rombongan kami bertambah banyak, juga karena saling mengingatkan.

Ya, mengingatkan. Bukankah mahallul khatha' wan nisyaan: manusia itu tempat salah dan lupa? Di samping itu, bukankah mengingatkan saudara muslim dalam kebaikan adalah kewajiban? Jika saja setiap kita bisa saling mengingatkan hal-hal dalam kebaikan, baik itu yang terlewat, yang belum diketahui, atau hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan, sekecil apa-pun, niscaya masyarakat kita akan menjadi masyarakat islami yang tidak ada kejahatan di dalamnya. Sebabnya, semua peduli dengan mengingatkan orang lain. Namun, semua itu tidak bisa terwujud kecuali dimulai dari diri kita, sekarang. Mari ingatkan diri dan saudara kita, semampu kita.  :)

5/7/12

Muslim tapi Muallaf

Sahabat, suatu ketika ada seorang yang mengaku sebagai pelukis. Ia mengklaim bahwa ia sudah menjadi pelukis selama berpuluh-puluh tahun. Anehnya ketika diminta untuk melukis ia tidak mampu, teknik mencampur warna dan beberapa teknik menggoreskan kuas di atas kanvas juga ia tidak bisa. Bahkan, ia juga tidak pernah menghasilkan karya meski hanya satu.

Sahabat, kira-kira terhadap orang semacam itu, apakah engkau percaya atas klaimnya yang menyatakan bahwa ia pelukis? Apakah engkau rela menyematkan gelar pelukis kepadanya, padahal ia sama sekali tidak memiliki kompetensi sebagai pelukis?

Saya kira, sebagai orang yang masih mempunyai akal sehat, engkau akan mengingkari klaimnya itu. Demikian pula diriku, Sahabat.

Kisah di atas hanyalah ilustrasi. Barangkali tidak pernah ada yang demikian di dunia ini, tetapi jika yang dimaksud adalah memiliki intisari yang sama, maka kita akan menemukan banyak hal yang kadang itu hanyalah klaim-klaim kosong tak bermakna. Sebuah pertanyaan sederhana misalnya, “Sudah berapa lama kita menjadi seorang Muslim?”

Sejak lahirkah? 15 tahun, 20 tahun, 25 tahun atau bahkan lebih? Lantas, apakah ketika kita mengklaim diri sebagai seorang Muslim, berikrar: “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim!” kita telah memiliki kriteria untuk disebut sebagai seorang Muslim?  Sudahkah kita menjalankan syarat-syarat keislaman kita?

Barangkali jawaban atas pertanyaan sudah berapa lama kita menjadi Muslim tidaklah terlalu penting untuk dibahas. Yang lebih penting sebenarnya adalah, sudah berapa lama kita sadar bahwa kita adalah seorang Muslim! Karena betapa banyak orang yang mengaku Muslim, tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka belum menjadi Muslim; mengaku Muslim padahal perilakunya sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang Muslim; atau mengaku Muslim, tapi ternyata mereka sudah tidak lagi menjadi Muslim.

Masih ingat peran yang diperankan Andre Stinky dalam film Kiamat Sudah Dekat? Dalam film itu digambarkan bahwa ia tidak tahu apakah ia sudah dikhitan atau belum. Sehingga untuk mengetahuinya Pak Haji harus mengeceknya secara langsung. Sesuatu yang ironis, tapi mungkin memang begitu kondisi nyata di masyarakat.

Barangkali kita mengakui bahwa Allah adalah tuhan semesta Alam. Secara umum, Islam itu terkandung dalam rukun Islam: syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji bila mampu. Kunci utamanya adalah syahadat. Sehingga seseorang disebut Muslim, jika ia telah bersyahadat.

Diterangkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim: Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa mengucapkan, 'Laa ilaaha illallaah,' kemudian meninggal, maka pasti masuk surga." Hadis semacam ini masih ada beberapa lagi. Intinya bahwa seorang yang sudah bersyahadat akan masuk surga. Maka beruntunglah mereka yang telah bersyahadat.
Ini adalah kabar gembira bagi kaum Muslimin, namun sayangnya hal ini seringkali dipahami secara salah bahwa kalau sudah berucap kalimat  Laa Ilaha Ilallaah (syahadat) maka otomatis masuk surga, meski ia berdosa. Sebuah pemahaman yang berbahaya dan berakibat fatal. Mengapa? Karena ternyata ikrar syahadat itu bisa batal, sebagaimana shalat dan puasa bisa batal.

Lihatlah sejarah! Tersebutlah kisah pasca perang Tabuk, tatkala beberapa orang berolok-olok tentang para shahabat dan rasul-Nya. Lantas hal ini disampaikan pada rasulullah, dan turunlah ayat:
Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman..” (Q.s. at-Taubah [9]: 65-66).

Ketika itu, mereka lantas berpegangan pada pelana unta Rasulullah dan mengatakan: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami hanya bersendau gurau dan bermain-main saja.”

Selain syahadat, masih banyak amal-amal lain yang barangkali ketika kita tinggalkan maka status keislaman kita bisa dicabut oleh Allah, dan akhirnya benar-benar hanya sebagai status di tanda pengenal. Sampai-sampai ada anekdot, “Yang islam itu orangnya atau KTP-nya? Kalau yang Islam itu KTP-nya maka yang masuk surga adalah KTP-nya.”

Banyak dalil yang menyebutkan hal itu.
“Pembeda antara seorang Muslim dengan seorang musyrik dan kafir adalah meninggalkan shalat” (H.r. Muslim dan lainnya).

“Tali Islam dan pilar agama itu ada tiga, semua itu merupakan dasar Islam, siapa yang meninggalkan salah satu dari ketiganya maka dia itu kafir dan halal darahnya, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, shalat fardhu, dan puasa Ramadhan” (H.r. Abu Ya’la dan Dailami, dishahihkan oleh adz-Dzahabi).

Lantas, bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim?
Banyak yang harus kita kerjakan. Sesungguhnya tugas manusia di dunia ini adalah untuk bertakwa. Dan bertakwa itu adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seorang Muslim yang ingin mengerjakan ketaatan, maka ia harus mengetahui bagaimana hakikat ketaatan dan perbuatan apa saja yang bisa mengantarnya pada ketaatan. Sementara seorang Muslim yang ingin menjauhi larangan-Nya, maka ia harus mengetahui apa saja yang dilarang oleh Allah. Dan dua hal ini bermuara pada ilmu. Karenanya islam mewajibkan pemeluknya untuk mencari ilmu, lantas mengamalkannya.
 
Wallahu A’lam.
*repost from my other blog

5/1/12

Berusahalah, Karena Tak Ada Hal yang Benar-Benar Bebas Usaha


Tidak ada yang benar-benar mudah di dunia ini. Segala sesuatu butuh perjuangan. Setidaknya, ada sedikit bagian yang mengharuskan kita mengorbankan sesuatu, entah itu waktu, entah itu jatah untuk bersantai, atau apa saja. Dalam proses mendapatkan makanan misalnya, kita akan bisa menikmati makanan dengan berbagai cara, tetapi pasti ada unsur usaha atau pengorbanan di sana. Bisa dengan cara membeli: datang ke restoran atau ke warteg, kita harus rela berjalan dari rumah kita ke sana, kadang harus pula mengantre, dan pada akhirnya kita harus membayar; atau bisa juga dengan memasak sendiri, membeli berbagai bahan makanan serta meramunya menjadi masakan pun juga butuh usaha. Artinya, tidak ada hal di dunia ini yang benar-benar bebas dari usaha. Maka benar kiranya pameo yang mengatakan, "Tidak ada yang gratis di dunia ini". Bahkan pada hal yang terlihat gratis sekalipun. Untuk bisa menikmatinya dibutuhkan usaha, yang membedakan adalah besar kecilnya usaha yang kita lakukan.

Usaha, juga perjuangan, selama ini hanya kita kenali pada orang-orang yang positif atau paling tidak menampakkan performa positif. Untuk lulus kuliah misalnya, tak sedikit yang dalam berjuang menyelesaikan skripsinya, harus melawan segala sifat malasnya. Bersabar diomeli dosen yang killer, dibantai di ujian pendadaran, hingga revisi yang banyaknya gak ketulungan. Itulah usaha, itulah perjuangan, yang atasnya semua hasil dibayarkan.

Namun demikian, usaha pun ternyata juga dilakukan oleh mereka yang melakukan performa negatif. Maling misalnya. Jangan dikira bahwa maling itu adalah usaha iseng dan seketika bisa langsung menangguk keuntungan segunung. Alkisah, dari sebuah rumah yang terkunci rapi, pada pagi harinya terdengar teriakan kehilangan dua buah mobil. Padahal tak satupun anggota keluarga yang mendengar suara mencurigakan. Bayangkan, bagaimana cara membawa dua buah mobil tanpa ada yang tahu sama sekali! Maling itu tentu tidak serta merta berniat iseng mencuri lalu mendapatkan mobil tersebut. Ia tentunya sudah mengamati secara periodik kapan saat yang paling baik untuk beraksi. Mungkin tak cukup satu dua hari, bisa jadi ia mengamatinya berminggu-minggu. Baru setelah mengenali kebiasaan si empunya rumah, ia melancarkan aksinya pada jam yang paling aman, yang biasanya adalah waktu dini hari. Waktu ketika orang-orang sedang terlelap, para maling itu melancarkan "perjuangannya" melawan kantuk dan dingin yang menusuk. Dan itu pun belum cukup, mereka masih dihantui risiko tertangkap dan dipukuli massa, bahkan mungkin risiko terancam jiwanya. Tetapi, mereka tetap melakukan usahanya, demi harta yang di mata kita haram itu.

Ya, usaha, juga perjuangan, bisa dilakukan siapa saja. Tua, muda, kaya, miskin. Ia bisa dilakukan dalam bidang apa saja, baik itu dalam hal kejahatan maupun kebaikan. Usaha bisa minimalis bisa pula maksimal. Dan jangan lupa, atas setiap usaha itu selalu disediakan hasil,entah di dunia ataupun di akhirat. Atas usaha yang baik, dengan cara dan niat yang baik, tentu ganjarannya juga baik; atas usaha yang buruk dengan niat dan cara yang buruk, tentu hasilnya pun juga tak jauh dari keburukan. Maka jika para pelaku keburukan saja butuh usaha, maka apalah lagi mereka yang mengaku melakukan perbaikan dan kebaikan, jauh lebih banyak usaha yang harus diperjuangkan. Kinilah saatnya untuk bertanya, sudahkah kita berusaha? sudah sampai mana?

Semoga usaha kita senantiasa diberkahi, perjuangan kita senantiasa mendapat jalan lurus, dan hasil yang digapai tak membuat kita tinggi hati, tetapi membuat kita lebih banyak bersyukur, sebab, kita hanya dititipi oleh Sang Maha Pemberi Rizqi.      

4/16/12

Shalat Dulu atau Ngaji Dulu?


Langkah saya menuruni tangga dari kontrakan lantai atas agak tergesa sore itu. Azan Ashar sudah berlalu sekitar 2-3 menit yang lalu. Agar tidak terlambat, saya berinisiatif shalat di mushala yang letaknya lebih dekat dengan kontrakan kami. Meski hanya mushala, tetapi ramainya jamaah kadang kala melebihi Masjid yang letaknya lebih jauh. Ketika jarak ke mushala tinggal lima meter lagi, seorang bapak menyapa, mengucap salam lalu bertanya, "Mau ke mana, Mas?"

Saya agak bingung, “Pakai sarung dan peci begini jelas mau shalatlah, Pak,” pikir saya. Sebelum saya sempat berkata-kata, pandang mata saya tak sengaja menangkap jamaah ibu-ibu masih ada di dalam. Rupanya mereka masih ada pengajian. Saya lalu duduk dan terlibat perbincangan dengan beberapa orang di situ termasuk bapak yang tadi. Ternyata mereka juga sedang menunggu pengajian ibu-ibu itu selesai. Yang mengherankan adalah bahwa pengajian itu masih berlangsung padahal jelas waktu Ashar sudah masuk sejak tadi. Akhirnya kami baru bisa shalat sekitar jam 15.30.

Saya jadi teringat waktu kecil dulu. Saya dan teman-teman setiap hari biasa mengaji di rumah seorang warga. Dan setiap kali azan Isya terdengar, aktivitas mengaji tidak pernah dihentikan, bahkan bisa berlanjut sampai pukul 21.00. Itu sudah termasuk ngobrol ngalor ngidulnya. Waktu itu ditekankan bahwa menuntut ilmu lebih utama dari ibadah yang lain. Maka saya dan teman-teman manut saja karena tidak tahu. Tapi setelah dewasa, ada yang salah saya rasakan dalam hal ini. Kewajiban menuntut ilmu dan shalat memang sama-sama wajib, tetapi tidak selayaknya kedua hal tersebut dibentur-benturkan atau dikalahkan satu atas yang lain. Bukankah akan lebih indah jika shalat dulu baru dilanjutkan ngaji lagi? Toh masih banyak waktu yang tersedia.

Bagi saya, barangkali ini adalah pengingat untuk selalu shalat tepat pada waktunya. Juga agar tidak hanya bersikap menyalahkan jika yang melakukan keterlambatan itu adalah orang lain, tetapi acapkali justru bersikap memaklumi jika diri sendiri yang melakukan keterlambatan. Ya, semoga kita bisa menjalankan shalat di awal waktu agar kita tidak termasuk orang yang disebutkan Rasulullah dalam hadis ini:

“Terus-menerus suatu kaum membiasakan diri untuk terlambat mendatangi shalatnya, sampai Allah juga akan mengundurkan mereka (untuk masuk ke dalam surga).” (HR. Muslim no. 662 dari Abu Said Al-Khudri ).

Wallahu a'lam

3/14/12

Makin Tinggi Pohon Makin Kencang Angin yang Menerpa

Kita mungkin pernah menghadapi saat-saat paling buruk dalam hidup kita, mungkin waktu itu kita merasa bahwa tidak akan lagi jalan keluar, atau paling tidak kita pernah mengalami momentum dalam hidup kita yang cukup membuat kita berhenti berpikir dan tidak tahu what to do next. Mungkin persoalan itu sangat besar, menyita banyak energi untuk mengatasinya, atau bisa jadi ia merupakan akumulasi dari persoalan-persoalan kecil yang belum terselesaikan dan muncul secara bersamaan.

Dalam keadaan seperti ini orang cenderung sulit untuk berpikir jernih, mereka akan mudah terjebak pada pemikiran-pemikiran instant, bahkan cara-cara penyelesaian masalah seperti bunuh diri sekalipun. Bila hal ini kita kaitkan dengan posisi kita sebagai seorang muslim, tentu kita paham betul bahwa apa yang kita alami adalah sebuah keniscayaan yang harus dijalani, hanya masalahnya adalah seberapa besar masalah itu, dan bagaimana cara menyelesaikan masalah itu. Sebenarnya persoalan pokok itu bukan pada permasalahannya tapi pada “bagaimana kita menyikapi masalah itu,” kata AA Gym.

Sebagaimana seorang mahasiswa yang mendapatkan pelajaran, orang hidup di dunia pun akan diukur kemampuannya dengan ujian, sejauh mana ia berhasil memahami ilmu yang diajarkan. Seperti itu pulalah manusia selalu diuji dengan berbagai persoalan yang bisa berbentuk apa saja. Hanya orang-orang pilihanlah yang bisa melewati ujian dan berhak melaju ke tingkatan yang lebih tinggi. Peribahasa mengatakan ‘makin tinggi pohon, maka makin kencang angin yang menerpanya”.

Dari hasil ujian itu kita bisa tahu seberapa kualitas pemahaman kita atas ilmu-NYa, juga seberapa dalam kualitas iman kita. Allah berfirman dalam  surat Al 'Ankabuut ayat 2-3: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

Akan selalu ada tuntutan untuk memaksimalkan waktu kita untuk berilmu, ilmu apa saja yang memungkinkan sebagai bekal kita dalam menghadapi ujian-NYa. Tentu setiap hari seiring waktu beranjak, masalah demi masalah akan terus menghiasai kehidupan kita. Bila ilmu kita tidak bertambah, bahkan sudah merasa cukup, ibarat seorang murid SMA yang merasa cukup dengan pelajaran aljabar dan tidak mau belajar aritmatika, maka ketika ia disodori persoalan aritmatika, tentu saja ia tidak dapat mengerjakannya. Atau ibarat antivirus yang akan mudah bobol oleh virus-virus baru bila tidak diupdate terus-menerus. Ilmu kita pun perlu diupdate setiap saat.

Bekal itu adalah iman. Ya, iman. Dengan iman yang kuat, benar dan istiqamah kita akan mampu menghadapi masalah apa pun. Bahkan ketika harus dihadapkan pada maut sekalipun. Bilal bin Rabbah adalah kisah nyata bagaimana kekuatan iman itu mampu menafikan masalah yang mungkin kita anggap sangat besar untuk dirinya, yaitu nyawanya. Bagaimana ia tahan disiksa di bawah terik matahari, ditimpa batu, dicambuk, dan diancam bunuh bila ia tidak melepaskan agamanya dan kembali pada agama nenek moyangnya. Itu semua ternyata bukanlah apa-apa. Justru bencana yang lebih besar baginya bukanlah tersiksa diterik matahari, atau dibunuh sekalipun, tetapi baginya bencana terbesar adalah ketika ia melepaskan agamanya, menanggalkan pakaian iman yang baru saja ia pakai. Begitulah kekuatan iman telah terbukti mampu bertahan di habitat seperti apa pun dan kapan pun.

Iman adalah landasan utama yang harus dimiliki seorang muslim. Tanpa itu ia bukanlah seorang muslim, karena mustahil orang mengaku Islam sementara ia tidak beriman. Iman juga adalah pondasi utama Agama Tauhid ini, yang kita ikrarkan ketika pertama masuk Islam “Aku bersaksi bahwa tiada illah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."

Di saat-saat seperti itulah kita membutuhkan teman untuk berbagi, untuk menyemangati, agar tetap melaju dijalur yang benar. Kita butuh seseorang untuk berbagi segala keluh kesah, yang mampu memberikan suntikan energi baru dalam menghadapi hidup ini. Itulah gunanya teman, komunitas, jamaah yang saling mengingatkan satu sama lain. Di sana kita akan menemukan kedamaian, keteduhan wajah saudara-saudara kita, taujih dari Ustadz-Ustadz kita yang mengalir menyegarkan kekeringan ruh kita. Tak lupa pula tilawah-tilawah dan shalat lail yang menjanjikan berjuta kenikmatan, maka tunggu apa lagi, kemenangan besar ada di depan kita, tingggal maukah kita merengkuhnya….

Semoga Allah menggolongkan kita ke dalam hamba-hambaNya yang beriman.

3/11/12

Apa Tema Hidupmu?


Dulu, barangkali kita pernah diajari tentang ilmu karang-mengarang. Pada waktu SMP, atau bahkan SD kita sudah mengenal ilmu ini. Bu Guru atau Pak Guru memberikan dasar-dasarnya. Namun pada waktu SD, mungkin kita masih terbiasa mengarang dengan tema yang telah ditentukan, tema yang tidak dapat kita tolak, tidak dapat kita protes. Saya masih ingat, ada beberapa gambar yang berangkaian, saling berhubungan, dengan disertai perintah: “Buatlah karangan berdasarkan gambar dibawah ini!” Itu terjadi ketika saya masih berada di bangku SD, mungkin sekitar kelas tiga atau empat.

Semakin tinggi kelasnya, tugasnya semakin bertambah. Ketika sudah di kelas enam, gambar yang ditampilkan sudah semakin rumit. Satu hal yang saya tangkap meski baru tersadar akhir-akhir ini: “bahwa kita sudah diajarkan untuk bermimpi, bercita-cita.” Atau paling tidak, sampai pada level ini kita sudah diajari bagaimana untuk mengembangkan karangan , meski dari gambar yang sudah ada.

Pada waktu kita SMP, kita sudah mulai lebih canggih. Saat itu kita sudah diajari mengarang dengan tanpa melihat gambar lagi. Gambar-gambar itu sudah dibuang sekarang. “Malu, nanti dikira anak SD!” Gambar-gambar itu menjadi semakin abstrak. Pada tingkatan ini, kita hanya disuguhi tulisan, sebuah tema yang berbentuk tulisan, rangkaian kata yang membentuk makna.

Sekali lagi, kita sukses mengembangkannya menjadi sebuah karangan, meskipun dengan usaha yang payah, namun kita dapat menyelesaikan jalan ceritanya. Meskipun, ketika dilihat, dicermati, jalan ceritanya kadang tidak menarik untuk disimak. Atau mungkin terlalu monoton atau bahkan terlalu naïf.

Namun ini masih wajar, pada masa ini memang terjadi perpindahan cara berfikir, dari visual menuju ke abstrak. Dari yang tadinya bergambar menjadi sekadar kata, meski kita masih bisa membayangkan. Di kelas tiga, kita mungkin sudah lebih canggih lagi. Kita sudah bisa membuat cerita dengan alur yang enak dibaca. Pada level ini, kita telah mencapai sebuah lompatan besar dalam mengembangkan tema. Karena kita masih saja disodori tema.

Pada tingkat selanjutnya kita sudah mulai dibiarkan mengalir, mulai diberikan arahan, kita hanya diberikan tema besarnya. Maka kita bisa menentukan tema kecil kita. Dari tema-tema besar itu kita dapat membuat tema yang lebih spesifik. Sampai pada suatu saat kita dibebaskan menentukan tema karangan kita. Yang kadang hal itu justru membuat kita kebingungan. Bahkan ada komentar dari seorang teman “Wah kenapa harus dibebaskan sih temanya? Kalau gini malah lama selesainya. Kan harus mikir dulu...”

Ya, ketika tema tidak ditentukan--kita diberikan kebebasan untuk menentukan tema--ada kemungkinan kita akan bingung. Apalagi kalau kita termasuk orang yang kuper, gaptek, ga melek informasi, ga melek politik, dll. Dijamin karangan yang kita buat akan membosankan, penuh asumsi, dan tidak ada inovasi karena miskin referensi dan informasi.

Namun akan berbeda bila kita sering baca referensi, menyaring informasi bahkan mengkaji kitab suci. Maka cukup banyak tema yang diangkat. Namun kita masih juga bisa melewati ujian ini. Kita berhasil memecahkan persoalan ini, mengarang dengan topik yang ditentukan oleh penilai/Guru. Pada level ini, kita telah mencapai tingkat imajinasi tinggi, “impian tingkat tinggi". Kita mulai bisa menangkap makna-makna abstrak yang tersembunyi di alam semesta ke dalam tulisan-tulisan kita. Inilah sebenarnya kemampuan yang harus kita miliki.

Jika kita tilik kembali, perjalanan ilmu karang-mengarang itu sangat melelahkan, namun, begitu kita lulus SMA atau kuliah kemudian bekerja, ilmu itu seakan kita lupakan. Padahal ilmu itulah yang akan tetap mengontrol kita, memengaruhi hidup kita. Lho, kok bisa? Jika dahulu kita diajarkan bahwa dalam menentukan tema haruslah spesifik. Sebenarnya begitu pula hidup, tema kita juga harus spesifik. Kita pun juga harus punya banyak referensi.

Nah, sampai di sini pun kita masih unggul. Kita punya referensi yang tidak akan pernah habis, sumber inspirasi yang terus menarik untuk digali: al-Qur`an. Dan tema kita telah ditentukan oleh Allah. Illa Liya’buduun..! Khalifatu fil ard! Maka tidak usah bingung. Kita tinggal mengembangkan pokok-pokok pikiran itu menjadi paragraf yang baik, menjaga struktur dan kesinambungannya dengan paragraf yang lain, serta menjaga koherensinya dengan ide utama, tema utama.

Boleh jadi banyak sekali lintasan-lintasan pikiran yang ingin kita tuangkan ke dalam kalimat, namun setelah ditulis, ternyata rasanya tidak senapas dengan tema kita, maka jika kita ingin mempertahankan keutuhan karangan, kita harus mencoretnya. Membuangnya dari paragraf kita. Begitupun hidup kita. Saat kita berbuat sesuatu yang keluar dari tema hidup kita, jika saja kita masih ingin mempertahankan koherensi dan struktur kehidupan kita, maka kita harus segera mengubahnya, membuang perilaku itu. Agar orang yang membaca, atau bahkan penilai karangan itu memberi kita nilai sempurna.

Maka dari itu, semenjak sekarang gunakanlah kembali ilmu itu, tentukan dengan segera apa tema hidupmu: apakah hidup bertema surga, ataukah hidup bertema neraka? Tentukan sekarang juga. Jangan sampai menyesal. Kemudian segera kembangkan tema itu ke dalam pokok-pokok pikiran. Dari pokok pikiran hidup itu buatlah kisah, paragraf kehidupan yang sejalan dengannya dan senapas dengan tema utama. Pertahankan susunan dan strukturnya agar terjaga koherensinya dengan tema utama hidup kita.jangan sampai ketika karangan sudah ditulis, asal jalan, kacau balau. Lalu, pada paragraf terakhir, kita baru tersadar belum menentukan tema. Saat semua sudah terlalu terlambat untuk memulai. Maka selagi masih ada kesempatan,  tentukan ia dari sekarang.

Jadi, apakah tema hidupmu?


*Repost dengan sedikit suntingan dari tulisan lama

3/1/12

Tentang Takdir dan Rela

Sejatinya takdir itu akan selalu mewarnai hidup kita, baik itu takdir baik maupun takdir buruk, maka jika itu menimpamu, tak perlu kiranya kau risaukan. Bukankah itu yang tersebut didalam rukun iman keenam? “Dan engkau beriman kepada takdir, yang baik dan yang buruk.”

Foto: Tumpukan Batu
Dalam setiap kejadian, selalu ada hikmah. Dan kita diharuskan untuk menggalinya. Maka saya sangat tersentuh ketika Tarbawi menurunkan pembahasan tentang belajar memahami. Rabb, ajarkan kami memahami semua ini. Bahwa dalam setiap takdir selalu ada rela yang harus kita jaga. Rela dengan ketetapan-Nya.

Maka tentang rela kita bisa belajar dari Urwah bin Zubair r.a. yang waktu itu kehilangan anaknya sekaligus kehilangan salah satu kakinya (kakinya patah). Beliau berujar, “Ya Allah, hanya untuk-Mu lah segala pujian. Engkau memberiku empat anggota badan, engkau ambil satu dan menyisakan tiga. Dan segala puji hanya untuk-Mu, sebelumnya aku mempunyai tujuh orang anak lalu engkau ambil seorang dan menyisakan enam yang lain, segala pujian atas apa yang Engkau berikan, segala pujian atas apa yang Engkau ambil. Aku persaksikan kepada kalian bahwa aku rela kepada Rabbku.”

Di sisi lain, seorang sahabat yang sangat terkenal dengan doanya yang makbul, Saad bin Abi Waqash r.a. yang kala itu mengunjungi Mekah. Maka para penduduk segera mengerumuninya untuk minta didoakan oleh sahabat yang telah tua dan buta ini. Ketika semua telah pergi, seorang anak berbicara padanya, “Engkau berdoa untuk kebaikan orang lain, andai saja engkau berdoa untuk kebaikan dirimu sendiri agar Allah mengembalikan penglihatanmu.” Maka ia pun tersenyum dan berkata, “Anakku, Ketetapan Allah atas diriku lebih baik bagiku dari penglihatanku.”

Oleh karenanya, jika sesuatu telah menimpa kita, tak perlu berlarut-larut menyalahkan diri, segera bangkitlah dan berbuat sesuatu, memperbaikinya. Karena menyesal dan berbuat lebih baik daripada hanya merutuki nasib. Karena sejatinya ia telah ditakdirkan oleh Allah. Maka usaha kita adalah memperbaiki takdir kita dengan menjemput takdir Allah yang lebih baik.

Sungguh indah perkataan Shalahudin al-Ayubi, “Bukan kita yang memilih takdir. Takdirlah yang memilih kita. Bagaimanapun takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat.”

Maka kejadian yang menimpa beberapa waktu ini setidaknya membuat saya belajar untuk lebih arif. Lebih hati-hati dalam bertindak, dalam berhubungan dengan sesama, dan dalam segala hal. Dan yang lebih penting lagi untuk memperbaiki diri.

*Terima kasih untuk saudaraku, terima kasih untuk kain pembersih kacamatanya, kacamataku yang buram sudah bisa dipakai melihat dengan lebih jelas. Karena dunia memanglah tidak sepicisan itu :D Hamasah!

** repost from my multiply blog here

2/23/12

Secangkir Nikmat yang Kerap Terlewat

Kadang, nikmat itu harus ditiadakan atau dikurangi terlebih dahulu agar kita bisa mensyukurinya. Begitulah manusia. Betapa banyak nikmat yang ia terima setiap hari, tetapi ia tidak pernah mensyukurinya. 


Namun sudah menjadi tabiat manusia itu sendiri, bahwa ia adalah makhluk yang mudah mengeluh. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir" (Al-Ma'aarij: 19). Maka seringkali nikmat yang banyak itu seolah tertutup hanya oleh secuil permasalahan yang ia hadapi. Padahal sekiranya ia hitung-hitung lagi, permasalahan yang ia derita tidaklah lebih besar dari karunia yang ia terima. 


Lihatlah, setiap kita bangun pagi, seharusnya selalu ada alasan bagi kita untuk bersyukur. Bahwa kita masih bernyawa, tidak sekadar bernyawa, kita juga masih sadar. Betapa banyak manusia yang hari ini masih bernyawa tapi mereka tergeletak tak tersadar di ruang ICU. Tidak sekadar sadar, kita pun masih bisa jalan-jalan. Lihatlah betapa banyak di antara kita yang sekadar sadar, sementara untuk menggerakkan tangannya saja tidak bisa. 


Perhatikan, kita masih bisa melihat, masih bisa bernapas dengan lega, tangan dan kaki kita masih bisa digerakkan, dan lain sebagainya. Nikmat-nikmat yang sangat banyak itu, yang jika dihitung seharian mungkin kita tak akan sanggup bersyukur atas semua itu. Atas nikmat yang banyak ini, tak pantas sebenarnya bagi kita untuk bersedih apalagi ingkar. 


Namun, sesuai sifatnya, manusia itu sering lalai atas karunia ini. Ia baru sadar ketika nikmat itu dicabut. Dan pagi tadi, ternyata saya merasakannya. Entah karena sudah uzur atau faktor yang lain, pompa air di kost saya rusak sehingga persediaan air di bak habis. Akibatnya air tidak cukup untuk mandi. Berbeda dengan saya masih kebagian air untuk mandi, ketika teman saya ingin mandi, air sudah habis. Maka jadilah pagi tadi kami berangkat pagi-pagi ke kantor buat numpang mandi. he...


Nikmat berupa air yang tersedia tiap hari ternyata luput dari rasa syukur kami. Dan kami baru disadarkan dengan hilangnya nikmat itu. Ya, banyak nikmat di sekitar kita, yang kita rasakan dan nikmati, tetapi karena sudah biasa kita dapatkan, seringkali kita lalai dari mensyukurinya. Melalui peristiwa ini, semoga ke depan bisa istiqamah untuk selalu bersyukur atas segala nikmat, meski itu terlihat sederhana.

2/18/12

Sesederhana Berbagi

Ahad malam itu, ba'da  shalat Isya' di masjid dekat kos, saya diingatkan kembali tentang sebuah hikmah, berbagi dalam maknanya yang paling sederhana. Berbagi ketulusan, berbagi dengan apa yang kita punya. Malam itu, terlihat seorang ustadz menghadapi sejumlah jama'ah memberikan materi pengajaran bahasa Inggris. Saya tidak tahu latar belakang pendidikan beliau, tetapi dari penampilannya, terlihat bahwa beliau lebih pantas menyampaikan materi pelajaran bahasa Arab. Terbukti, di tengah materi tidak jarang beliau menyepadankan sebuah kata dengan artinya dalam bahasa Arab.

 Meski tidak bisa dibilang banyak, tetapi jumlah peserta pengajaran bahasa Inggris di masjid ini   lumayan juga. Terdiri dari anak SD, anak SMA hingga bapak-bapak, serta tak lupa beberapa sarjana dan diploma. Barangkali karena peserta yang beragam inilah, materi yang disampaikan menjadi kurang terstruktur dan cenderung gado-gado. Barangkali sang ustadz tidak menyangka bahwa pesertanya akan seheterogen ini. 

 Di luar fakta bahwa terdapat sedikit kesalahan yang beliau lakukan ketika memberikan pelajaran sehingga mendorong saya melakukan koreksi, ada hal yang ingin saya garis bawahi di sini, bahwa berbagi itu ternyata tak harus mahal dan bahwa akan selalu ada yang bisa kita bagi, meski kita hanya punya sedikit. Tetapi prinsipnya memang untuk berbagi kita harus punya dulu. Bapak itu mungkin tidak terlalu jago untuk urusan bahasa Inggris, tetapi beliau mendedikasikan apa yang dipunya itu dengan berbagi, meski dengan materi yang sederhana. Tetapi itulah usaha beliau. 

 Saya pun tergelitik bertanya pada diri saya: “Bagaimana denganku? Bukankah kau juga punya hal yang bisa kau bagi, mungkin lebih banyak dari bapak itu, mengapa tidak kau lakukan?” Saya benar-benar merasa malu. Apalagi ketika kemudian sang ustadz bertanya latar belakang pendidikan saya, yang lantas dengan malu-malu saya jawab: “Sastra Inggris”.  Akhirnya beliau meminta saya untuk meluangkan waktu hadir dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya. Sebuah permintaan yang mungkin tak bisa saya penuhi secara maksimal. Pasalnya, seringkali saya berada di perjalanan antara Jogja-Jakarta pada saat pertemuan itu berlangsung. Tetapi dalam hati saya berjanji, jika saya tidak pulang, saya akan hadir, insya Allah. 

 Ya, malam itu saya belajar tentang sebuah hal, bahwa ternyata ada hal-hal kecil yang bisa dibagi. Ia tidak harus sesuatu yang muluk, ia bahkan bisa sangat sederhana. Semampu kita, yang penting tulus. Sesederhana dan setulus senyum dan wajah berseri yang kita tampakkan pada saudara kita.[] 

2/17/12

Karena yang Kita Butuhkan Bukan Sekadar Sadar

Lilin

Kesadaran kadang memang tidak datang bersamaan dengan langkah nyata. Ia seringkali datang layaknya seseorang yang terbangun di tengah malam, sejenak membuka mata, lalu terlelap kembali. Sayang sekali, kesadaran yang mahal harganya itu sering terlewat begitu saja. Padahal, ia tidak datang setiap kali. Bukankah tidak di setiap malam orang akan bangun dari mimpi, kecuali bagi mereka yang telah tebiasa mengisi malamnya dengan doa dan mengaliri matanya dengan air mata tobat? Ya, tidak setiap malam. Justru yang sering terjadi adalah kita terlelap sepanjang malam, bahkan meski banjir menggenang atau kebakaran melalap.


Kesadaran yang mengubah, bukan yang membuat seseorang sekadar tahu dan berkata “Ohh...”. Kesadaran yang menggerakkan, itulah yang akan mencegah pemiliknya dari kedunguan berpikir dan bertindak. Oleh karenanya menjadi urgen, tatkala sadar datang, segeralah beranjak dan langkahkan kaki menuju amal nyata, bukannya kembali terlelap meski tidurmu menjanjikan mimpi terindah sepanjang masa. Karena tentu saja kesadaran sebagaimana ia juga akrab disebut dengan hidayah, terdiri dari banyak pintu. Jika telah terbuka bagimu satu pintu, maka segeralah masuk lalu segera buka pintu-pintu selanjutnya. Jangan engkau berhenti di pintu tertentu, karena bisa saja engkau keluar darinya tanpa engkau sadari sehingga ketika engkau mencoba masuk lagi, pintu itu telah terkunci, sedangkan engkau tidak lagi memegang kuncinya.


Maka, selagi sadar, maksimalkan, jangan pernah tergoda oleh bisikan untuk berbalik ke belakang, bisikan untuk kembali terlelap, yang kelak pasti akan menghasil sesal karena hanya memberimu sebuah ruang masa depan yang gelap dan pengap.

2/15/12

Karena Semua Ada Qishasnya

Malam itu, di sebuah serambi milik Pak RW, seorang lelaki paruh baya terlihat duduk gelisah, dikelilingi beberapa orang yang sibuk menghalau warga yang ingin memukuli lelaki tersebut. Rupanya ia adalah maling yang tertangkap tangan mencuri HP lalu lari masuk ke kampung dan akhirnya tertangkap oleh warga. Tidak tanggung-tanggung, 4 HP ia gasak. Tentu saja ketika ditanya, dia mengaku bahwa semua HP itu adalah miliknya belaka. Terdorong oleh rasa kesal, tidak sedikit warga yang kemudian urun tangan menjotos muka orang itu. Beruntung para tokoh kampung kemudian berhasil menghalau warga yang terlanjur marah tersebut. 


Demi melihat kejadian tersebut, saya lalu mendekati seorang bapak-bapak muda, barangkali berusia sekitar 35 tahun. Setelah dijelaskan kronologi ceritanya, kami pun terlibat pembicaraan tentang perilaku main hakim sendiri oleh warga. Ia menyayangkan sikap warga yang melakukannya sebab setiap perbuatan sejatinya akan ada ada imbal baliknya, kalau tidak di dunia, pasti di akhirat, atau dalam istilah hukumnya disebut qishas. Jika seseorang tanpa hak memukuli atau menghakimi sendiri seorang maling, maka tunggu saja qishasnya, begitu tutur beliau. Qishasnya, lanjut beliau, bisa berupa kejadian apa saja, bisa kejedot pintu, jatuh, atau bahkan tertabrak kendaraan. “Makanya hati-hati, Dik, jangan berbuat sesuatu tanpa hak, wa man ya'mal mitsqaaladzarratin syarran yarah,” nasihat beliau. Diam-diam, saya mengiyakannya di dalam hati.


Perilaku main hakim sendiri agaknya sudah lazim terjadi di negeri ini. Bahkan tidak jarang terjadi salah sasaran. Jika sudah begini, tanggung jawab siapa? Orang-orang tanpa hak apa pun, dengan mengatasnamakan hukum bertindak mengadili seseorang, tanpa ada pembelaan, dan tak jarang berujung pada kematian. Ini adalah sebuah kezaliman. Padahal, sebuah perbuatan selalu menghasilkan akibat. Apalagi jika perbuatan itu adalah perbuatan yang tidak dibenarkan:“Akibat buruk perbuatan dosa hanya akan kembali kepada pelakunya sendiri. Maka, barang siapa berbuat dosa, berarti telah merugikan diri sendiri dan akan merasakan sendiri akibatnya” (Qs. An-Nisaa` [4]: 111).


Maka, tidak hanya aksi main hakim sendiri, segala sesuatu yang kita lakukan yang pada hakikatnya menyalahi kebenaran pastilah mendatangkan akibat bagi kita, entah segera ataupun nanti. “Seseorang yang cerdas,” kata Ibnu al-Jauzi, “wajib mewaspadai bahaya kemaksiatan, karena apinya tersembunyi di bawah abu. Mungkin hukumannya tidak didatangkan segera, namun kemudian ia ditimpakan secara tiba-tiba. Tidak menutup kemungkinan ia juga bisa didatangkan segera.” Berkaitan dengan hal ini, Ibnu Sirin rahimahullah menceritakan, “Saya menghina seseorang karena kemiskinannya, lalu saya sendiri jatuh miskin 40 tahun kemudian.”


Begitulah, semoga tulisan singkat ini mampu menyemangati kita, terutama diri saya sendiri untuk selalu memikirkan akibat dari suatu perbuatan, sehingga kita selalu waspada dan terhindar melakukan perbuatan dosa. Wallahu a'lam.

8/2/11

#2 Agar Kamu Bertakwa

#2 Agar Kamu Bertakwa

Alhamdulillah, sudah hari kedua

Apa saja yang telah kau kerja?

Ramadhan adalah sebuah momen yang berharga untuk mengumpulkan pundi-pundi amal. Momen yang sangat berharga, yang tak boleh sama sekali terlewat, karena entah tahun depan apakah kita masih bisa berjumpa dengannya. Di sini, di Ramadhan kita, ada kewajiban berpuasa, yang tidak seperti ibadah lainnya yang untuk kita sendiri, puasa adalah untuk Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman: “Puasa itu milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (H.r.  Bukhari ). Hadis tersebut menunjukkan keutamaan dan ketinggian nilai puasa di sisi Allah.

Ali ash-Shabuni di dalam kitabnya Rawa’i al-Bayan; Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an, mendefinisikan puasa sebagai, “Menahan diri dari makanan, minuman, dan berjimak, yang disertai dengan niat dari mulai terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Sempurnanya puasa adalah dengan menjauhi apa-apa yang dilarang dan tidak sampai melakukan apa-apa yang diharamkan.” Ada 3 kata kunci yang menarik untuk dicermati yaitu kata “menahan”, “terbit fajar” dan “tenggelamnya matahari”. Tiga kata tersebut dapat disederhanakan menjadi menahan, sahur dan buka. Ketiga kata ini sangat terkait satu sama lain ketika hubungkan dengan praktik puasa yang dilakukan oleh generasi salafush shaleh.

Kita diwajibkan untuk menahan ketika berpuasa, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa maupun membatalkan pahala puasa sebagaimana sebagiannya telah disebutkan di dalam definisi di atas. Dalam kitab Durrah an-Nashihin disebutkan, “Ada lima perkara yang bisa membatalkan pahala puasa. Pertama, berkata dusta (al-Kidzb). Kedua, menggunjing (al-Ghibah). Ketiga, mengadu domba (an-Namimah). Keempat,  bersumpah palsu (al-Yamin al-Ghamus). dan kelima, memandang penuh nafsu (an-Nadzar bi Syahwah).

Lantas, kiranya apa hubungan antara menahan dengan sahur dan buka? Ada sebuah fenomena menarik yang kiranya diamati, kita akan mendapatkan hikmah yang dalam. Rasulullah mensunnahkan ummatnya untuk makan sahur meskipun hanya dengan air putih. Sedangkan utamanya dalah dengan kurma.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sahur itu makanan yang barokah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.”

Dalam hal buka, Rasulullah juga mensunnahkan bahan tertentu yaitu kurma:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).

Sunnah berbuka dengan kurma ini, sesungguhnya sangat menarik. Seperti diketahui bahwa makan kurma, seberapa pun laparnya, seseorang tidak akan makan sepiring penuh kurma pada sekali waktu. Ia kemungkinan hanya akan makan beberapa buah kurma ditambah air putih dan sudah merasa cukup dengannya. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan yang ada dalam masyarakat kita yang makan banyak jenis makanan, seolah semua ingin dimakan. Makan sepuasnya setelah seharian menahan diri darinya. Motivasinya adalah motivasi pelampiasan. Motivasi balas dendam karena seharian menahan diri darinya.

Maka hasil dari dua hal bertolak belakang ini dapat kita amati hasilnya setelahnya. Mereka yang berbuka dengan memakan beberapa kurma dan air putih, akan tetap mampu meneruskan ibadah isya’ dan tarawih, sedangkan mereka yang berlebihan dalam berbuka kemungkinan besar akan kalah dan tidak kuat melakukan ibadah karena kekenyangan.

Puasa adalah menahan, sebagai latihan, bukan untuk kemudian melakukan pelampiasan setelahnya, tetapi agar setelahnya tetap mampu menahan. Barangkali ini yang banyak dilupakan orang. Sehingga barangkali karena inilah setelah lebaran seolah tidak ada perubahan dan perbaikan pada masyarakat kita, karena semangatnya adalah pelampiasan. Pelampiasan setelah sebulan menahan.

Maka hanya bagi orang-orang yang dapat menahan diri, dan tidak berlebihan ketika berbuka, maupun setelah usai ramadhan saja yang berpeluang mendapat gelar taqwa.

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa” (QS Al Baqarah: 183).

Wallahu a’lam

5/24/11

Membunuh Kepedulian

Membunuh Kepedulian

 Malam itu, perasaan saya benar-benar campur aduk tak menentu, ego bertarung dengan nurani, antara keinginan untuk tetap duduk dan keinginan untuk menolong. Malam itu, saya berada dalam perjalanan kereta kelas ekonomi menuju kota Yogyakarta. Alhamdulillah, saya mendapatkan tempat duduk. Di dekat saya ada dua gadis kakak beradik seumuran 8 dan 9 tahun, bersama entah ibu atau kakak mereka. Yang jelas, mereka tidak mendapatkan tempat duduk alias berdiri.

Kereta berangkat dari Stasiun Tanah Abang dan mereka akan turun di Stasiun Cirebon. Sempat tebersit keinginan untuk menawarkan tempat duduk saya kepada mereka berdua, tetapi akhirnya urung setelah gadis yang lebih kecil berpindah agak menjauh dari saya. Sementara anak yang lebih besar duduk berselonjor di jalan yang membelah kursi sisi kanan dan kiri. Saya pun mulai berusaha memejamkan mata agar esok hari tidak terlalu kelelahan.

Sampai suatu ketika sang adik mendekat pada kakaknya, saya melihat sesuatu yang membuat hati saya terenyuh. Tangan kiri sang adik ternyata dibebat perban dan memakai gendongan. Saya tidak tahu apakah itu karena tangannya retak, patah atau apa. Yang jelas, melihat tangannya digendong seperti itu sudah membuat saya merasa terenyuh. Berada di tengah jalan semacam itu bisa berbahaya bagi tangannya yang cedera. Sebab, meskipun jalan sudah dipenuhi oleh para penumpang yang duduk, tetapi para pedagang masih saja berlalu lalang setiap beberapa menit seka

li. Dan seringkali, dalam aktivitas berlalu lalang tersebut mereka menyenggol dan mengganggu para penumpang yang duduk di jalan di antara kursi sisi kanan dan kiri.

Sementara sang adik tertidur, sang kakak sesekali mengibaskan kertas koran yang ia pegang untuk mengusir gerah atau sekadar membenarkan letak kepala atau posisi tangan sang adik. Sebuah pemandangan yang sungguh mengharukan. Kemesraan kakak-adik yang membuat hati dan air mata saya semakin meleleh. Sang kakak akan berusaha menghalangi setiap kali ada pedagang yang lewat melangkahi mereka. Saya melihat kanan kiri dan berpikir mengapa tidak ada yang tergerak menawarkan kursinya. Apakah tidak ada yang kasihan melihat mereka berdua? Betapa inginnya saya menawarkan kursi saya, tetapi ternyata rasa ego saya lebih besar.

Setelah beberapa saat bertahan, saya pun memutuskan untuk menawarkan agar sang adik mau duduk di tempat saya. Namun, sepertinya adik itu sungkan menerima tawaran saya dan lebih memilih tidur dipangkuan sang kakak. Mungkin dia malu atau takut berada di dekat orang-orang yang tidak ia kenal.

Saya yakin bahwa tidak sedikit dari penumpang yang merasa iba melihat pemadangan itu, tetapi mengapa tidak satu pun yang menawarkan bantuan, sebuah pertanyaan masih mengganjal di benak saya. Saya juga sangat yakin bahwa tidak mungkin orang-orang di kereta itu berhati jahat, barangkali mereka hanya saling menunggu, atau semuanya berpikiran seperti saya, “Mengapa tidak ada yang menolong?”

Sebuah penelitian oleh Bibb Latane dan John Darley, yang dikemukakan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Tipping Point, di mana mereka mengatur agar seorang mahasiswa di sebuah apartemen berpura-pura mengalami epilepsi, ditemukan bahwa apabila tetangga mahasiswa itu hanya satu orang dan orang itu tahu tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, maka peluang orang tersebut untuk menolong adalah 85%. Namun jika orang itu tahu bahwa ada empat tetangga lain yang menurutnya mendengar gejala serangan epilepsi, maka peluang untuk menolong menjadi 31%. Dalam eksperimen lain, orang yang melihat asap mengepul dari bawah pintu mempunyai peluang 75% untuk melaporkkan kejadian itu ketika ia hanya sendirian, tetapi peluangnya berkurang menjadi 38% ketika saksi mata tahu bahwa ada saksi mata lain yang melihat bersamanya.

Penelitian di atas mungkin memang menampakkan kecenderungan manusia untuk saling menunggu, tetapi itu bukan berarti menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan. Karena kita tahu bahwa adanya kecenderungan tidak membolehkan kita meninggalkan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Sebab jika demikian, kecenderungan manusia untuk lalai akan mendominasi seluruh aspek hidup kita. Karenanya, sebagai seorang Muslim tidaklah layak kiranya bagi kita untuk saling menunggu untuk menolong saudaranya.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam Al-Iman Wal Hayah menceritakan sebuah kisah bahwa suatu ketika kaum muslimin sedang melawan kaum kafir dalam sebuah peperangan. Terbentang sebuah sungai di antara mereka. Panglima kaum muslimin memerintahkan pasukan untuk menyeberangi sungai. Namun tiba-tiba salah seorang berteriak, “Piringku, piringku!” Pasukan muslimin yang mendengarnya pun langsung menyelam dan mencari piring yang terjatuh itu. Banyak yang ikut menyelam mencari piring itu hingga akhirnya ditemukan.

Pasukan kafir yang berada di seberang sungai menyaksikan dengan terkagum-kagum. Dalam pikiran mereka, “Piring salah seorang dari mereka yang terjatuh saja mengundang reaksi sedemikian rupa. Bagaimana jika salah seorang dari mereka mati terbunuh?” Itulah yang tebersit di hati pasukan kaum kafir. Maka pasukan musuh pun menyerah sebelum berperang.

Kisah di atas menunjukkan jauhnya jarak antara apa yang seharusnya dilakukan dan kecenderungan yang biasa terjadi. Maka tidaklah layak bagi seorang Muslim untuk membunuh kepedulian terhadap saudaranya sesama Muslim, karena Rasul bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR  Muslim).

Malam itu, saya merasa sedih, sekaligus malu, karena baru di saat-saat terakhir saya tergerak untuk membangkitkan kepedulian yang sebelumnya hampir-hampir saya bunuh. Somoga Allah menguatkan hati dan amal kita agar lebih peduli terhadap sesama. Karena menjadi peduli adalah menjadi berarti. Padahal tiada hal yang lebih baik daripada memiliki hidup yang berarti.Khairunnas anfa’uhum linnas.

Wallahu a’lam bish-shawab

Artikel ini ditulis untuk fimadani.com. dan dimuat di http://www.fimadani.com/membunuh-kepedulian/

5/11/11

Jangan Biarkan Imanmu Merapuh

Saudaraku, suatu ketika dalam episode hidup ini, mungkin kita sampai pada momen yang membuat kita begitu terpuruk, sangat susah untuk bangkit. Sebuah kondisi di mana masalah mendera bertubi-tubi, tanpa jeda, tanpa ampun. Tak terlihat celah sedikitpun untuk membebaskan diri dari permasalahan-permasalahan itu.

Suatu ketika, mungkin, kita pernah mengalaminya. Dan pada saat itu, masalah-masalah yang mendera begitu berkuasa menghancurkan idealisme kita, menghancurkan harapan kita satu-satunya: asa. Kita sempurna terkena sindrom patah arang. Sebuah sindrom yang amat berbahaya bagi makhluk hidup bernama manusia.

Suatu ketika, mungkin ini nyata, banyak di antara kita mengalaminya. Kita sudah lelah, tak kuat lagi bertahan meski sejenak. Seolah kita tak pernah belajar untuk optimis, bahkan lupa sama sekali atau mulai menganggap bahwa optimisme sekadar hal basi yang sama sekali tidak ada gunanya. Kita hidup tapi tanpa asa, beraktivitas tapi tanpa ruh, menjadi semacam robot yang melakukan semuanya secara mekanik tanpa makna.

Namun sadarkah kita bahwa rapuh sejatinya tidaklah datang secara tiba-tiba. Ibarat sebuah bangunan, ia takkan ambruk begitu saja. Tetapi rapuh adalah proses yang terjadi secara halus dan terus menerus. Ketika beban yang dipikul oleh bangunan itu sudah tidak mampu lagi dipertahankan, maka bangunan itu akan roboh. Boleh jadi, bagi yang tidak tahu, bangunan itu terlihat roboh secara tiba-tiba, tetapi sejatinya, bangunan itu sudah mulai roboh sejak awal pengeroposan dimulai. Ketiadaan perawatan dan perbaikanlah yang membuatnya roboh.

Begitu pula, seseorang tidak mungkin tiba-tiba mengalami stres, tetapi hal itu terjadi secara pelan-pelan dan kian bertambah seiring bertambah lemahnya pondasi pertahanannya. Ketika permasalahan semakin menderanya bertubi-tubi, sementara pondasinya kian rapuh, maka stres tinggal menunggu waktu. Rapuh, sejatinya terjadi secara perlahan, sedikit demi sedikit. Yang diserang adalah pondasi utama, pondasi dari segala pondasi kita hidup di dunia ini. Pondasi yang mendasari segala tindakan kita. Pondasi yang dengannya kita memandang dunia, menghadapi kencangnya angin hidup dan guyuran badai cobaan. Ya, pondasi itu adalah iman.

Ketika iman mulai keropos, jika ia tidak segera mendapat perawatan atau perbaikan, maka jatuhnya pondasi hidup seseorang tinggalah menunggu waktu. Ia akan lebih rentan tertekan dan terkena depresi ketika menghadapi persoalan hidup. Ia boleh terlihat kaya raya, rupawan, tersohor, tapi tanpa iman ia rapuh. Serapuh sarang laba-laba yang putus sekali hempas. Ibarat pohon, ia adalah pohon yang tak mampu bertahan meski oleh tiupan angin yang tak terlalu kencang.

Maka iman, mau tidak mau, harus dirawat, dijaga dan dijauhkan dari berbagai hal yang merusaknya. Jagalah iman, dengan menambah pengetahuan kita tentang-Nya. Jagalah iman dengan senantiasa memikirkan ciptaan dan ayat-ayat-Nya yang dihamparkan pada kita. Jagalah iman dengan memperbanyak amal kepada-Nya dengan cara-cara yang dituntunkan-Nya. Jagalah iman, dengan berkumpul dengan orang-orang yang dicintai-Nya. Jagalah iman dengan berbagai cara yang sering bisa bisa kita lakukan tetapi kita abaikan.

Karena sejatinya, masalah adalah pewarna kehidupan, membuat hidup lebih dinamis, lebih menarik, tentunya dengan pengelolaan yang benar. Masalah adalah wahana bagi Sang Khalik untuk menaikkan derajat hamba-Nya yang bertakwa. Lihatlah pohon alpukat, sesekali waktu sebelum musim buah, dedaunnya habis dimakan ulat. Boleh jadi, habisnya daun itu adalah masalah tersendiri bagi sang pohon. Proses fotosintesis dan produksi zat-zat makanannya boleh jadi terganggu, tetapi ia tidak mati. Namun, perhatikanlah beberapa waktu setelahnya. Pohon alpukat akan kembali menumbuhkan daunnya, dan bahkan mengeluarkan buahnya. Ulat-ulat itu hanya berfungsi memberikan shock terapi berupa stres ringan, yang akibatnya justru positif, yaitu memicu peningkatan produksi buah.

Maka begitulah bagi orang yang beriman. Masalah adalah pemicu bagi dirinya untuk semakin produktif dan meningkatkan kapasitas. Karena ia yakin sepenuhnya pada janji Allah bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.s. al-Baqarah [2]: 286).

Maka jangan lupa untuk senantiasa berdoa:

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir” (Q.s. al-Baqarah [2]: 286).

Wallahu a’lam

2/27/11

Selalu Ada Orang Baik Yang Allah Kirimkan Pada Kita

Selalu Ada Orang Baik Yang Allah Kirimkan Pada Kita

 Akan selalu ada orang baik yang tulus mengulurkan tangan menolong sesama, di mana pun itu, itu yang saya yakini. Setidaknya pengalaman perjalanan saya ke Depok bersama tiga orang rekan beberapa waktu lalu membuktikan hal itu. Begitu banyak kejadian yang mengharuskan kami untuk bersyukur.

Kami adalah empat orang anak manusia yang demi sebuah harap mengikuti sebuah test di Fakultas Teknik UI. Kami berangkat menggunakan kereta api. Kebaikan itu bermula sejak kami belum berangkat. Ketika kami kebingungan tentang siapa yang harus membeli tiket kereta ke Jatinegara, ayah dari salah seorang dari kami mengajukan diri melakukannya. Kemudian ketika kami sampai di stasiun Jatinegara, kami bertemu seorang bapak yang berprofesi sebagai sopir di DPRD DKI Jakarta. Setelah ngobrol beberapa lama, beliau membelikan makanan kepada kami yang sedang kebingungan mencari rute. Beliau juga menunjukkan beberapa alternatif rute menuju Kampus UI.

Sedangkan di sudut lain di ibu kota, sepupu dari salah seorang kawan saya rela begadang semalaman hanya untuk menjawab sms-sms yang kami kirimkan, bertanya ini itu terkait tempat-tempat di mana kami harus turun dan naik apa, bayar berapa ke tempat tujuan kami. Bahkan pada saat pulang beliau juga yang membelikan kami tiket ke Jogja hingga mengantarkan kepulangan kami, belum ditambah traktiran makan di warung depan stasiun.

Tak hanya itu, ketika saya dan ketiga teman yang lain berpisah (ketiga kawan saya perempuan) untuk mencari tempat istirahat sementara di Jakarta, saya bertemu dengan seorang kawan lain yang senasib, lalu kami tinggal di masjid dekat kampus UI. Di dusun Kukusan. Entah bagaimana mulanya, kami lantas ditawarkan tinggal di rumah penduduk. Ketiga kawan saya bahkan tidak percaya, dan setengah bercanda mengatakan “Pasti kalian terlihat melas sehingga sang empunya rumah itu merasa kasihan!”

Kebaikan itu masih kami terima setelah sebelumnya sempat mengalami kebingungan menentukan pilihan naik KRL jurusan mana untuk sampai ke stasiun Jatinegara. Ketika kami akhirnya memutuskan untuk naik KRL menuju stasiun Manggarai, kami bertemu dengan seorang mahasiswa yang ingin menjemput kawannya di Jatinegara. Maka kami pun memintanya untuk memandu kami. Dengan kondisi KRL yang penuh sesak, ditambah ketidaktahuan kami tentang ciri-ciri stasiun stasiun di mana kami berhenti, kami merasa beruntung, sebab ada yang memandu kami.

Kebaikan yang kami terima bertubi-tubi ini membuat saya sangat bersyukur bahwa di mana pun akan selalu ada orang baik yang Allah kirimkan pada kita. Dan sebuah hikmah yang saya dapatkan, jika tidak ada seorang pun orang baik yang kau temui, maka jadilah orang baik itu sendiri, sehingga minimal akan ada satu orang baik yang engkau temukan. Karena sejatinya, apa yang kita terima adalah hasil dari apa yang kita berikan.

Maka berlaku sebuah hukum timbal balik, “Jika kau ingin memperoleh pertolongan dan keajaiban-keajaiban yang membahagiakanmu, maka tolonglah dan sebarkanlah kebahagiaan kepada orang-orang di sekelilingmu.”

Wallahu a’lam

7/26/09

Maafkan Aku, Kubengkalaikan Surat Cintamu

Maafkan Aku, Kubengkalaikan Surat Cintamu

Surat cinta itu telah sampai di tanganku. Surat cinta-Mu.. Ya, surat cinta yang untuk mengantarkannya padaku Kau minta utusan terbaik-Mu. Surat yang seharusnya kuterima dengan sepenuh kalbu. Surat yang harusnya kubaca di saat kurindu kepada-Mu; sebagai bukti cintaku.


Di sana Kau bertutur tentang negeri-negeri indah yang Kau janjikan padaku kelak akan mengajakku ke sana. Negeri yang luar biasa; tiada duanya. Kau gambarkan bahwa sungai-sungainya adalah aliran susu, aku tinggal menciduk untuk meminumnya, pohon-pohonnya sangat teduh, rumah-rumahnya begitu indah, sedangkan penduduknya memakai pula pakaian yang indah-indah.


Kau tahu, aku sangat ingin ke sana; segera malah.. Namun Kau melarangku. “Berbuat baiklah dulu buat sekitarmu,” pesan-Mu.


Dalam surat-Mu, Kau juga bercerita tentang orang-orang saleh jaman dulu. Orang-orang yang luar biasa istiqamah, seperti Ibrahim, Musa, Isa, Yusuf, Ayub, dan lainnya. Cerita-Mu itu selalu membuatku iri; begitu indahnya perangai dan tingkah laku mereka, hingga aku merasa takkan dapat untuk sekadar mendekatinya. Namun kau menghiburku, “Kisah itu Aku ceritakan agar kau dapat mengambil pelajaran.”


Yang aku suka dari surat-Mu adalah banyaknya hikmah yang aku dapatkan, Kau mengajariku bagaimana bersikap, bagaimana seharusnya menjalani hidup ini, meski kadang aku belum mampu seperti yang Kau gambarkan. Kadang aku tersesat, namun Kau selalu menghibur dan. menunjukkan jalan kepadaku. Tetapi seringkali petunjukmu itu tak kuturuti, sehingga aku tersesat lebih jauh lagi. Kau juga mengajariku bagaimana bersikap kala aku sedang kesusahan. “Bersama kesusahan itu selalu ada kemudahan,” pesan-Mu, yang akan kuingat slalu.


Namun Kau tahu, ada kalanya aku terperosok terlalu dalam, bahkan tak jarang aku melupakan-Mu. Seringkali di saat-saat sibukku, di saat-saat senangku, aku melupakan-Mu. Seolah  aku hanya kembali kepada-Mu saat aku sedang butuh, saat aku sedang memerlukan-Mu. Tapi Kau tidak marah, bahkan Kau selalu menyambutku dengan gembira dan memberikan pertolongan tulus-Mu, sesuai dengan porsi yang bisa kuraih.


Surat cinta-Mu begitu indah dan seharusnya bisa membuatku untuk sering membacanya kala rindu. Namun apa daya, kadang kesibukan membuatku tak bisa, bahkan untuk sekadar menyentuhnya. Tak jarang, aku lebih memedulikan SMS dari kawan-kawanku, dan mengesampingkan surat-Mu. Apakah rindu itu masih ada?  Kadang pertanyaan yang lebih mengerikan menyeruak dalam hatiku, pertanyaan yang membuatku khawatir, “Apakah aku mencintai-Mu dengan setulus hatiku?”


Pernah kudapati kau menyayangkanku yang seperti tak menghargai-Mu, “ Tidakkah engkau malu kepadaku? Engkau mendapatkan surat dari salah seorang saudaramu ketika berjalan di salah satu jalan, kemudian engkau minggir ke samping jalan untuk duduk membacanya, dan merenungkannya kata demi kata, hingga tidak ada satu kata pun yang terlewatkan darimu. Padahal ini adalah kitab-Ku yang Aku turunkan kepadamu. Lihatlah, bagaimana Aku merinci untukmu firman di dalamnya? Betapa seringnya Aku berkata berulang-ulang kepadamu agar engkau merenungkan panjangnya kitab-Ku, lebarnya, namun engkau malah berpaling daripadanya. Aku menjadi lebih hina bagimu daripada salah seorang saudaramu.  Wahai hambaku, salah seorang saudaramu duduk kepadamu, kemudian engkau menghadapkan seluruh wajahmu kepadanya, dan engkau mendengarkan seluruh perkataannya dengan hatimu. Jika seseorang berbicara, atau mengganggumu sehingga engkau tidak bisa mendengarkan perkataannya, engkau pasti member isyarat kepadanya agar ia menahan diri. Inilah, Aku datang kepadamu, dengan berfirman kepadamu, tragisnya engkau malah berpaling dengan seluruh hatimu daripada-Ku. Apakah engkau menjadikan-Ku lebih hina daripada salah seorang saudaramu?”*


Rabb, maafkan aku, jika selama ini lebih mengutamakan kawan-kawanku daripada diri-Mu—padahal masih terngiang dalam ingatanku akan sumpahku dahulu kepada-Mu, “Aku mencintai-Mu lebih dari segala apa pun di dunia ini.”  Semoga itu bukan tutur kosong yang tak bermutu.





Yang mengharapkan kasih-Mu





 ) *Firman Allah dalam taurat. dikutip dari Al-Jazairi, A. B. (2000). Ensiklopedi Muslim (Cet. 11). Jakarta: Darul Falah.

Intermezzo

Travel

Teknologi