Ruang Tunggu: oase
Showing posts with label oase. Show all posts
Showing posts with label oase. Show all posts

10/22/12

Kita dan Waktu Sisa


"Berapa banyak waktu yang kau gunakan secara efektif selama sehari, 24 jam?" Itu pertanyaan reflektif yang mampir di benak saya. Betapa tidak, waktu saya sebagian besar habis di dua tempat: bekerja di kantor dan istirahat di kos. Bekerja telah menyita 9 jam dari waktu saya, sementara istirahat di kos menyumbang kurang lebih angka yang sama, 8 jam. Sisanya habis di jalan, kuliah, aktivitas transisi, atau aktivitas pribadi lainnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, "Kapan waktu untuk belajar ilmu agama?". Ini pertanyaan yang susah dijawab. Aktivitas keseharian saja sudah menyita begitu banyak waktu, apalagi jika ditambah kuliah, tentu pulang tambah larut. Akhirnya aktivitas ini hanya mengandalkan waktu sisa. Ini pun kadang tak dengan baik terkelola sehingga akhirnya terlewat begitu saja.

Padahal sebenarnya wahana dan sarana untuk belajar ilmu agama, kini begitu banyak tersedia. Bukan saja ragam ilmunya, tetapi juga metodenya, bahkan tidak sedikit yang kemudian ditawarkan dengan gratis. Kemajuan teknologi telah mempermudah segalanya, kita bisa mengunduh mp3 kajian mulai dari tema aqidah sampai ibadah, dari kajian tafsir qur'an sampai kajian kitab-kitab karangan ulama klasik maupun kontemporer, semuanya gratis. Tetapi ternyata itu masih belum mampu mendongkrak kuantitas dan kualitas ilmu diniyah kita.

Bayangkan, bagaimana jika ternyata di sebuah tempat, di daerah minoritas muslim, sekelompok orang datang sepekan sekali untuk mengaji, tetapi bukan mengaji dari ustadz sebagaimana kita kajian di masjid, tetapi dari kaset. Kaset yang direkam tahun 90-an, tetapi semangat mereka sama semangatnya dengan kita ketika mengaji dari ustadz langsung, bahkan mungkin semangat kita kalah oleh mereka. Dan ternyata, ini memang ada, mereka adalah ibu-ibu minoritas yang tinggal di kampung, yang mayoritas warganya non-muslim, di kampung Bola Dangko, Kulawi, Palu-Sulawesi Tengah.

Ah, semakin malu saja saya. Betapa banyak waktu tersia tanpa bertambahnya ilmu atau amal. Padahal, bukankah setiap napas bisa menjadi dzikir? Kemacetan pun bisa menjadi ladang dzikir, perjalanan bisa digunakan untuk muraja'ah hafalan qur'an, waktu luang di kantor bisa dipakai mendengarkan kajian, browsing bisa sambil membaca artikel tentang ilmu syariah, dan masih banyak lagi.

Maka, sebetulnya tiada alasan lagi bagi kita untuk tidak bertambah ilmu dan amal setiap hari. Maka, wahai diri, amal dan ilmu apa yang sudah kau dapat hari ini?

Gambar diambil dari sini

10/6/12

Hidayah dan Panjangnya Perjalanan



Apakah hidayah itu? Pertanyaan itu seketika muncul dibenak saya. Sebabnya selama ini hidayah diidentikkan sebagai sesuatu yang bersifat gifted/granted, diberikan. Sesuatu yang hadir tanpa diduga dalam hidup, datang begitu saja sebagai sebuah kesadaran selepas mengalami masa “tak sadar” yang barangkali bisa dibilang lama. Betapa sering kita mendengar adanya penjahat atau orang yang dianggap tidak baik tiba-tiba berubah dari sifatnya yang tidak baik itu karena mengalami suatu kejadian tertentu. Kesadaran itu lantas mendorongnya untuk meninggalkan kebiasaan buruknya itu dan kemudian menuju arah yang lebih baik. Perubahan ini umumnya bersifat cepat dan keseluruhan. Inilah yang dimaksud hidayah oleh sebagian orang.

9/30/12

Kemudian Kalian Akan Benar-Benar Ditanya



Pada suatu malam, Rasulullah Saw keluar menuju suatu tempat. Di perjalanan, beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar, lalu beliau bertanya: “Apakah yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat seperti ini?”
Mereka berdua menjawab: “Kami keluar karena lapar, wahai Rasulullah.”

5/12/12

Sapaan Pengingat: Kecil Tapi Bermakna


sumber: syamatahari.com

Sore itu, selepas shalat Ashar, di mushalla kantor, seorang kawan berdiri. Tampaknya hendak mengerjakan shalat sunnah ba'diyah. Seorang teman senior di dekatnya lalu menjawilnya menanyakan, "Mau shalat apa?" Maka terjadilah diskusi kecil itu. Sang kawan yang hendak shalat sunnah ba'da Ashar tadi akhirnya tahu bahwa tidak ada shalat sunnah selepas 'Ashar. Tidak hanya itu, ia juga akhirnya mengerti kapan saja waktu yang diperbolehkan untuk melaksanakan shalat sunnah Rawatib. Sebuah pengingat kecil, tetapi mencerahkan. Menyelamatkan seorang Muslim dari kesalahan.

Di lain waktu, hari Jumat, menjelang shalat Jumat, saya melihat empat orang menggelar sajadah di bawah pohon. Letaknya sekitar 10an meter dari lokasi masjid tempat dilaksanakannya shalat Jumat, padahal di dalam masjid masih tersedia cukup tempat. Di samping itu, tidak ada jamaah yang meluber ke halaman. Hanya mereka saja yang memisahkan diri, mencari tempat teduh. Hati saya terusik meski tetap berjalan ke arah yang lain. Tetapi, nurani saya menang kali ini, saya berbalik, mendatangi mereka. Setelah meminta maaf terlebih dahulu, saya menjelaskan bahwa posisi mereka semacam itu sudah bukan lagi dalam kategori makmum. Sebabnya, selain jarak mereka yang agak jauh dari jamaah, juga tidak ada sambungan shaf di depan mereka. Saya pun berlalu ketika mereka terlihat mengerti maksud saya. Sebuah pengingat kecil, dan semoga mampu mencegah rusaknya amal dikarenakan ketidaktahuan.

Sementara itu, selepas salam shalat Maghrib itu, seorang bapak di samping saya berujar, mengingatkan untuk menutupi dengan tangan ketika menguap karena itu datangnya dari setan. Saya iyakan saja, meski saya lupa apakah tadi menguap atau tidak. Sebuah pengingat kecil, tetapi bermakna.

Mengingatkan, barangkali tidak harus pada hal-hal yang besar. Banyak hal kecil yang di dalamnya perlu dibudayakan semangat saling mengingatkan. Shalat misalnya, saya merasa beruntung karena selalu ada rekan kantor yang mengingatkan untuk shalat, jadilah kami saling mengingatkan. Dalam perjalanan menuju mushala, tak jarang rombongan kami bertambah banyak, juga karena saling mengingatkan.

Ya, mengingatkan. Bukankah mahallul khatha' wan nisyaan: manusia itu tempat salah dan lupa? Di samping itu, bukankah mengingatkan saudara muslim dalam kebaikan adalah kewajiban? Jika saja setiap kita bisa saling mengingatkan hal-hal dalam kebaikan, baik itu yang terlewat, yang belum diketahui, atau hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan, sekecil apa-pun, niscaya masyarakat kita akan menjadi masyarakat islami yang tidak ada kejahatan di dalamnya. Sebabnya, semua peduli dengan mengingatkan orang lain. Namun, semua itu tidak bisa terwujud kecuali dimulai dari diri kita, sekarang. Mari ingatkan diri dan saudara kita, semampu kita.  :)

5/7/12

Muslim tapi Muallaf

Sahabat, suatu ketika ada seorang yang mengaku sebagai pelukis. Ia mengklaim bahwa ia sudah menjadi pelukis selama berpuluh-puluh tahun. Anehnya ketika diminta untuk melukis ia tidak mampu, teknik mencampur warna dan beberapa teknik menggoreskan kuas di atas kanvas juga ia tidak bisa. Bahkan, ia juga tidak pernah menghasilkan karya meski hanya satu.

Sahabat, kira-kira terhadap orang semacam itu, apakah engkau percaya atas klaimnya yang menyatakan bahwa ia pelukis? Apakah engkau rela menyematkan gelar pelukis kepadanya, padahal ia sama sekali tidak memiliki kompetensi sebagai pelukis?

Saya kira, sebagai orang yang masih mempunyai akal sehat, engkau akan mengingkari klaimnya itu. Demikian pula diriku, Sahabat.

Kisah di atas hanyalah ilustrasi. Barangkali tidak pernah ada yang demikian di dunia ini, tetapi jika yang dimaksud adalah memiliki intisari yang sama, maka kita akan menemukan banyak hal yang kadang itu hanyalah klaim-klaim kosong tak bermakna. Sebuah pertanyaan sederhana misalnya, “Sudah berapa lama kita menjadi seorang Muslim?”

Sejak lahirkah? 15 tahun, 20 tahun, 25 tahun atau bahkan lebih? Lantas, apakah ketika kita mengklaim diri sebagai seorang Muslim, berikrar: “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim!” kita telah memiliki kriteria untuk disebut sebagai seorang Muslim?  Sudahkah kita menjalankan syarat-syarat keislaman kita?

Barangkali jawaban atas pertanyaan sudah berapa lama kita menjadi Muslim tidaklah terlalu penting untuk dibahas. Yang lebih penting sebenarnya adalah, sudah berapa lama kita sadar bahwa kita adalah seorang Muslim! Karena betapa banyak orang yang mengaku Muslim, tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka belum menjadi Muslim; mengaku Muslim padahal perilakunya sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang Muslim; atau mengaku Muslim, tapi ternyata mereka sudah tidak lagi menjadi Muslim.

Masih ingat peran yang diperankan Andre Stinky dalam film Kiamat Sudah Dekat? Dalam film itu digambarkan bahwa ia tidak tahu apakah ia sudah dikhitan atau belum. Sehingga untuk mengetahuinya Pak Haji harus mengeceknya secara langsung. Sesuatu yang ironis, tapi mungkin memang begitu kondisi nyata di masyarakat.

Barangkali kita mengakui bahwa Allah adalah tuhan semesta Alam. Secara umum, Islam itu terkandung dalam rukun Islam: syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji bila mampu. Kunci utamanya adalah syahadat. Sehingga seseorang disebut Muslim, jika ia telah bersyahadat.

Diterangkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim: Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa mengucapkan, 'Laa ilaaha illallaah,' kemudian meninggal, maka pasti masuk surga." Hadis semacam ini masih ada beberapa lagi. Intinya bahwa seorang yang sudah bersyahadat akan masuk surga. Maka beruntunglah mereka yang telah bersyahadat.
Ini adalah kabar gembira bagi kaum Muslimin, namun sayangnya hal ini seringkali dipahami secara salah bahwa kalau sudah berucap kalimat  Laa Ilaha Ilallaah (syahadat) maka otomatis masuk surga, meski ia berdosa. Sebuah pemahaman yang berbahaya dan berakibat fatal. Mengapa? Karena ternyata ikrar syahadat itu bisa batal, sebagaimana shalat dan puasa bisa batal.

Lihatlah sejarah! Tersebutlah kisah pasca perang Tabuk, tatkala beberapa orang berolok-olok tentang para shahabat dan rasul-Nya. Lantas hal ini disampaikan pada rasulullah, dan turunlah ayat:
Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman..” (Q.s. at-Taubah [9]: 65-66).

Ketika itu, mereka lantas berpegangan pada pelana unta Rasulullah dan mengatakan: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami hanya bersendau gurau dan bermain-main saja.”

Selain syahadat, masih banyak amal-amal lain yang barangkali ketika kita tinggalkan maka status keislaman kita bisa dicabut oleh Allah, dan akhirnya benar-benar hanya sebagai status di tanda pengenal. Sampai-sampai ada anekdot, “Yang islam itu orangnya atau KTP-nya? Kalau yang Islam itu KTP-nya maka yang masuk surga adalah KTP-nya.”

Banyak dalil yang menyebutkan hal itu.
“Pembeda antara seorang Muslim dengan seorang musyrik dan kafir adalah meninggalkan shalat” (H.r. Muslim dan lainnya).

“Tali Islam dan pilar agama itu ada tiga, semua itu merupakan dasar Islam, siapa yang meninggalkan salah satu dari ketiganya maka dia itu kafir dan halal darahnya, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, shalat fardhu, dan puasa Ramadhan” (H.r. Abu Ya’la dan Dailami, dishahihkan oleh adz-Dzahabi).

Lantas, bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim?
Banyak yang harus kita kerjakan. Sesungguhnya tugas manusia di dunia ini adalah untuk bertakwa. Dan bertakwa itu adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seorang Muslim yang ingin mengerjakan ketaatan, maka ia harus mengetahui bagaimana hakikat ketaatan dan perbuatan apa saja yang bisa mengantarnya pada ketaatan. Sementara seorang Muslim yang ingin menjauhi larangan-Nya, maka ia harus mengetahui apa saja yang dilarang oleh Allah. Dan dua hal ini bermuara pada ilmu. Karenanya islam mewajibkan pemeluknya untuk mencari ilmu, lantas mengamalkannya.
 
Wallahu A’lam.
*repost from my other blog

5/1/12

Berusahalah, Karena Tak Ada Hal yang Benar-Benar Bebas Usaha


Tidak ada yang benar-benar mudah di dunia ini. Segala sesuatu butuh perjuangan. Setidaknya, ada sedikit bagian yang mengharuskan kita mengorbankan sesuatu, entah itu waktu, entah itu jatah untuk bersantai, atau apa saja. Dalam proses mendapatkan makanan misalnya, kita akan bisa menikmati makanan dengan berbagai cara, tetapi pasti ada unsur usaha atau pengorbanan di sana. Bisa dengan cara membeli: datang ke restoran atau ke warteg, kita harus rela berjalan dari rumah kita ke sana, kadang harus pula mengantre, dan pada akhirnya kita harus membayar; atau bisa juga dengan memasak sendiri, membeli berbagai bahan makanan serta meramunya menjadi masakan pun juga butuh usaha. Artinya, tidak ada hal di dunia ini yang benar-benar bebas dari usaha. Maka benar kiranya pameo yang mengatakan, "Tidak ada yang gratis di dunia ini". Bahkan pada hal yang terlihat gratis sekalipun. Untuk bisa menikmatinya dibutuhkan usaha, yang membedakan adalah besar kecilnya usaha yang kita lakukan.

Usaha, juga perjuangan, selama ini hanya kita kenali pada orang-orang yang positif atau paling tidak menampakkan performa positif. Untuk lulus kuliah misalnya, tak sedikit yang dalam berjuang menyelesaikan skripsinya, harus melawan segala sifat malasnya. Bersabar diomeli dosen yang killer, dibantai di ujian pendadaran, hingga revisi yang banyaknya gak ketulungan. Itulah usaha, itulah perjuangan, yang atasnya semua hasil dibayarkan.

Namun demikian, usaha pun ternyata juga dilakukan oleh mereka yang melakukan performa negatif. Maling misalnya. Jangan dikira bahwa maling itu adalah usaha iseng dan seketika bisa langsung menangguk keuntungan segunung. Alkisah, dari sebuah rumah yang terkunci rapi, pada pagi harinya terdengar teriakan kehilangan dua buah mobil. Padahal tak satupun anggota keluarga yang mendengar suara mencurigakan. Bayangkan, bagaimana cara membawa dua buah mobil tanpa ada yang tahu sama sekali! Maling itu tentu tidak serta merta berniat iseng mencuri lalu mendapatkan mobil tersebut. Ia tentunya sudah mengamati secara periodik kapan saat yang paling baik untuk beraksi. Mungkin tak cukup satu dua hari, bisa jadi ia mengamatinya berminggu-minggu. Baru setelah mengenali kebiasaan si empunya rumah, ia melancarkan aksinya pada jam yang paling aman, yang biasanya adalah waktu dini hari. Waktu ketika orang-orang sedang terlelap, para maling itu melancarkan "perjuangannya" melawan kantuk dan dingin yang menusuk. Dan itu pun belum cukup, mereka masih dihantui risiko tertangkap dan dipukuli massa, bahkan mungkin risiko terancam jiwanya. Tetapi, mereka tetap melakukan usahanya, demi harta yang di mata kita haram itu.

Ya, usaha, juga perjuangan, bisa dilakukan siapa saja. Tua, muda, kaya, miskin. Ia bisa dilakukan dalam bidang apa saja, baik itu dalam hal kejahatan maupun kebaikan. Usaha bisa minimalis bisa pula maksimal. Dan jangan lupa, atas setiap usaha itu selalu disediakan hasil,entah di dunia ataupun di akhirat. Atas usaha yang baik, dengan cara dan niat yang baik, tentu ganjarannya juga baik; atas usaha yang buruk dengan niat dan cara yang buruk, tentu hasilnya pun juga tak jauh dari keburukan. Maka jika para pelaku keburukan saja butuh usaha, maka apalah lagi mereka yang mengaku melakukan perbaikan dan kebaikan, jauh lebih banyak usaha yang harus diperjuangkan. Kinilah saatnya untuk bertanya, sudahkah kita berusaha? sudah sampai mana?

Semoga usaha kita senantiasa diberkahi, perjuangan kita senantiasa mendapat jalan lurus, dan hasil yang digapai tak membuat kita tinggi hati, tetapi membuat kita lebih banyak bersyukur, sebab, kita hanya dititipi oleh Sang Maha Pemberi Rizqi.      

4/16/12

Shalat Dulu atau Ngaji Dulu?


Langkah saya menuruni tangga dari kontrakan lantai atas agak tergesa sore itu. Azan Ashar sudah berlalu sekitar 2-3 menit yang lalu. Agar tidak terlambat, saya berinisiatif shalat di mushala yang letaknya lebih dekat dengan kontrakan kami. Meski hanya mushala, tetapi ramainya jamaah kadang kala melebihi Masjid yang letaknya lebih jauh. Ketika jarak ke mushala tinggal lima meter lagi, seorang bapak menyapa, mengucap salam lalu bertanya, "Mau ke mana, Mas?"

Saya agak bingung, “Pakai sarung dan peci begini jelas mau shalatlah, Pak,” pikir saya. Sebelum saya sempat berkata-kata, pandang mata saya tak sengaja menangkap jamaah ibu-ibu masih ada di dalam. Rupanya mereka masih ada pengajian. Saya lalu duduk dan terlibat perbincangan dengan beberapa orang di situ termasuk bapak yang tadi. Ternyata mereka juga sedang menunggu pengajian ibu-ibu itu selesai. Yang mengherankan adalah bahwa pengajian itu masih berlangsung padahal jelas waktu Ashar sudah masuk sejak tadi. Akhirnya kami baru bisa shalat sekitar jam 15.30.

Saya jadi teringat waktu kecil dulu. Saya dan teman-teman setiap hari biasa mengaji di rumah seorang warga. Dan setiap kali azan Isya terdengar, aktivitas mengaji tidak pernah dihentikan, bahkan bisa berlanjut sampai pukul 21.00. Itu sudah termasuk ngobrol ngalor ngidulnya. Waktu itu ditekankan bahwa menuntut ilmu lebih utama dari ibadah yang lain. Maka saya dan teman-teman manut saja karena tidak tahu. Tapi setelah dewasa, ada yang salah saya rasakan dalam hal ini. Kewajiban menuntut ilmu dan shalat memang sama-sama wajib, tetapi tidak selayaknya kedua hal tersebut dibentur-benturkan atau dikalahkan satu atas yang lain. Bukankah akan lebih indah jika shalat dulu baru dilanjutkan ngaji lagi? Toh masih banyak waktu yang tersedia.

Bagi saya, barangkali ini adalah pengingat untuk selalu shalat tepat pada waktunya. Juga agar tidak hanya bersikap menyalahkan jika yang melakukan keterlambatan itu adalah orang lain, tetapi acapkali justru bersikap memaklumi jika diri sendiri yang melakukan keterlambatan. Ya, semoga kita bisa menjalankan shalat di awal waktu agar kita tidak termasuk orang yang disebutkan Rasulullah dalam hadis ini:

“Terus-menerus suatu kaum membiasakan diri untuk terlambat mendatangi shalatnya, sampai Allah juga akan mengundurkan mereka (untuk masuk ke dalam surga).” (HR. Muslim no. 662 dari Abu Said Al-Khudri ).

Wallahu a'lam

3/14/12

Makin Tinggi Pohon Makin Kencang Angin yang Menerpa

Kita mungkin pernah menghadapi saat-saat paling buruk dalam hidup kita, mungkin waktu itu kita merasa bahwa tidak akan lagi jalan keluar, atau paling tidak kita pernah mengalami momentum dalam hidup kita yang cukup membuat kita berhenti berpikir dan tidak tahu what to do next. Mungkin persoalan itu sangat besar, menyita banyak energi untuk mengatasinya, atau bisa jadi ia merupakan akumulasi dari persoalan-persoalan kecil yang belum terselesaikan dan muncul secara bersamaan.

Dalam keadaan seperti ini orang cenderung sulit untuk berpikir jernih, mereka akan mudah terjebak pada pemikiran-pemikiran instant, bahkan cara-cara penyelesaian masalah seperti bunuh diri sekalipun. Bila hal ini kita kaitkan dengan posisi kita sebagai seorang muslim, tentu kita paham betul bahwa apa yang kita alami adalah sebuah keniscayaan yang harus dijalani, hanya masalahnya adalah seberapa besar masalah itu, dan bagaimana cara menyelesaikan masalah itu. Sebenarnya persoalan pokok itu bukan pada permasalahannya tapi pada “bagaimana kita menyikapi masalah itu,” kata AA Gym.

Sebagaimana seorang mahasiswa yang mendapatkan pelajaran, orang hidup di dunia pun akan diukur kemampuannya dengan ujian, sejauh mana ia berhasil memahami ilmu yang diajarkan. Seperti itu pulalah manusia selalu diuji dengan berbagai persoalan yang bisa berbentuk apa saja. Hanya orang-orang pilihanlah yang bisa melewati ujian dan berhak melaju ke tingkatan yang lebih tinggi. Peribahasa mengatakan ‘makin tinggi pohon, maka makin kencang angin yang menerpanya”.

Dari hasil ujian itu kita bisa tahu seberapa kualitas pemahaman kita atas ilmu-NYa, juga seberapa dalam kualitas iman kita. Allah berfirman dalam  surat Al 'Ankabuut ayat 2-3: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

Akan selalu ada tuntutan untuk memaksimalkan waktu kita untuk berilmu, ilmu apa saja yang memungkinkan sebagai bekal kita dalam menghadapi ujian-NYa. Tentu setiap hari seiring waktu beranjak, masalah demi masalah akan terus menghiasai kehidupan kita. Bila ilmu kita tidak bertambah, bahkan sudah merasa cukup, ibarat seorang murid SMA yang merasa cukup dengan pelajaran aljabar dan tidak mau belajar aritmatika, maka ketika ia disodori persoalan aritmatika, tentu saja ia tidak dapat mengerjakannya. Atau ibarat antivirus yang akan mudah bobol oleh virus-virus baru bila tidak diupdate terus-menerus. Ilmu kita pun perlu diupdate setiap saat.

Bekal itu adalah iman. Ya, iman. Dengan iman yang kuat, benar dan istiqamah kita akan mampu menghadapi masalah apa pun. Bahkan ketika harus dihadapkan pada maut sekalipun. Bilal bin Rabbah adalah kisah nyata bagaimana kekuatan iman itu mampu menafikan masalah yang mungkin kita anggap sangat besar untuk dirinya, yaitu nyawanya. Bagaimana ia tahan disiksa di bawah terik matahari, ditimpa batu, dicambuk, dan diancam bunuh bila ia tidak melepaskan agamanya dan kembali pada agama nenek moyangnya. Itu semua ternyata bukanlah apa-apa. Justru bencana yang lebih besar baginya bukanlah tersiksa diterik matahari, atau dibunuh sekalipun, tetapi baginya bencana terbesar adalah ketika ia melepaskan agamanya, menanggalkan pakaian iman yang baru saja ia pakai. Begitulah kekuatan iman telah terbukti mampu bertahan di habitat seperti apa pun dan kapan pun.

Iman adalah landasan utama yang harus dimiliki seorang muslim. Tanpa itu ia bukanlah seorang muslim, karena mustahil orang mengaku Islam sementara ia tidak beriman. Iman juga adalah pondasi utama Agama Tauhid ini, yang kita ikrarkan ketika pertama masuk Islam “Aku bersaksi bahwa tiada illah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."

Di saat-saat seperti itulah kita membutuhkan teman untuk berbagi, untuk menyemangati, agar tetap melaju dijalur yang benar. Kita butuh seseorang untuk berbagi segala keluh kesah, yang mampu memberikan suntikan energi baru dalam menghadapi hidup ini. Itulah gunanya teman, komunitas, jamaah yang saling mengingatkan satu sama lain. Di sana kita akan menemukan kedamaian, keteduhan wajah saudara-saudara kita, taujih dari Ustadz-Ustadz kita yang mengalir menyegarkan kekeringan ruh kita. Tak lupa pula tilawah-tilawah dan shalat lail yang menjanjikan berjuta kenikmatan, maka tunggu apa lagi, kemenangan besar ada di depan kita, tingggal maukah kita merengkuhnya….

Semoga Allah menggolongkan kita ke dalam hamba-hambaNya yang beriman.

3/11/12

Apa Tema Hidupmu?


Dulu, barangkali kita pernah diajari tentang ilmu karang-mengarang. Pada waktu SMP, atau bahkan SD kita sudah mengenal ilmu ini. Bu Guru atau Pak Guru memberikan dasar-dasarnya. Namun pada waktu SD, mungkin kita masih terbiasa mengarang dengan tema yang telah ditentukan, tema yang tidak dapat kita tolak, tidak dapat kita protes. Saya masih ingat, ada beberapa gambar yang berangkaian, saling berhubungan, dengan disertai perintah: “Buatlah karangan berdasarkan gambar dibawah ini!” Itu terjadi ketika saya masih berada di bangku SD, mungkin sekitar kelas tiga atau empat.

Semakin tinggi kelasnya, tugasnya semakin bertambah. Ketika sudah di kelas enam, gambar yang ditampilkan sudah semakin rumit. Satu hal yang saya tangkap meski baru tersadar akhir-akhir ini: “bahwa kita sudah diajarkan untuk bermimpi, bercita-cita.” Atau paling tidak, sampai pada level ini kita sudah diajari bagaimana untuk mengembangkan karangan , meski dari gambar yang sudah ada.

Pada waktu kita SMP, kita sudah mulai lebih canggih. Saat itu kita sudah diajari mengarang dengan tanpa melihat gambar lagi. Gambar-gambar itu sudah dibuang sekarang. “Malu, nanti dikira anak SD!” Gambar-gambar itu menjadi semakin abstrak. Pada tingkatan ini, kita hanya disuguhi tulisan, sebuah tema yang berbentuk tulisan, rangkaian kata yang membentuk makna.

Sekali lagi, kita sukses mengembangkannya menjadi sebuah karangan, meskipun dengan usaha yang payah, namun kita dapat menyelesaikan jalan ceritanya. Meskipun, ketika dilihat, dicermati, jalan ceritanya kadang tidak menarik untuk disimak. Atau mungkin terlalu monoton atau bahkan terlalu naïf.

Namun ini masih wajar, pada masa ini memang terjadi perpindahan cara berfikir, dari visual menuju ke abstrak. Dari yang tadinya bergambar menjadi sekadar kata, meski kita masih bisa membayangkan. Di kelas tiga, kita mungkin sudah lebih canggih lagi. Kita sudah bisa membuat cerita dengan alur yang enak dibaca. Pada level ini, kita telah mencapai sebuah lompatan besar dalam mengembangkan tema. Karena kita masih saja disodori tema.

Pada tingkat selanjutnya kita sudah mulai dibiarkan mengalir, mulai diberikan arahan, kita hanya diberikan tema besarnya. Maka kita bisa menentukan tema kecil kita. Dari tema-tema besar itu kita dapat membuat tema yang lebih spesifik. Sampai pada suatu saat kita dibebaskan menentukan tema karangan kita. Yang kadang hal itu justru membuat kita kebingungan. Bahkan ada komentar dari seorang teman “Wah kenapa harus dibebaskan sih temanya? Kalau gini malah lama selesainya. Kan harus mikir dulu...”

Ya, ketika tema tidak ditentukan--kita diberikan kebebasan untuk menentukan tema--ada kemungkinan kita akan bingung. Apalagi kalau kita termasuk orang yang kuper, gaptek, ga melek informasi, ga melek politik, dll. Dijamin karangan yang kita buat akan membosankan, penuh asumsi, dan tidak ada inovasi karena miskin referensi dan informasi.

Namun akan berbeda bila kita sering baca referensi, menyaring informasi bahkan mengkaji kitab suci. Maka cukup banyak tema yang diangkat. Namun kita masih juga bisa melewati ujian ini. Kita berhasil memecahkan persoalan ini, mengarang dengan topik yang ditentukan oleh penilai/Guru. Pada level ini, kita telah mencapai tingkat imajinasi tinggi, “impian tingkat tinggi". Kita mulai bisa menangkap makna-makna abstrak yang tersembunyi di alam semesta ke dalam tulisan-tulisan kita. Inilah sebenarnya kemampuan yang harus kita miliki.

Jika kita tilik kembali, perjalanan ilmu karang-mengarang itu sangat melelahkan, namun, begitu kita lulus SMA atau kuliah kemudian bekerja, ilmu itu seakan kita lupakan. Padahal ilmu itulah yang akan tetap mengontrol kita, memengaruhi hidup kita. Lho, kok bisa? Jika dahulu kita diajarkan bahwa dalam menentukan tema haruslah spesifik. Sebenarnya begitu pula hidup, tema kita juga harus spesifik. Kita pun juga harus punya banyak referensi.

Nah, sampai di sini pun kita masih unggul. Kita punya referensi yang tidak akan pernah habis, sumber inspirasi yang terus menarik untuk digali: al-Qur`an. Dan tema kita telah ditentukan oleh Allah. Illa Liya’buduun..! Khalifatu fil ard! Maka tidak usah bingung. Kita tinggal mengembangkan pokok-pokok pikiran itu menjadi paragraf yang baik, menjaga struktur dan kesinambungannya dengan paragraf yang lain, serta menjaga koherensinya dengan ide utama, tema utama.

Boleh jadi banyak sekali lintasan-lintasan pikiran yang ingin kita tuangkan ke dalam kalimat, namun setelah ditulis, ternyata rasanya tidak senapas dengan tema kita, maka jika kita ingin mempertahankan keutuhan karangan, kita harus mencoretnya. Membuangnya dari paragraf kita. Begitupun hidup kita. Saat kita berbuat sesuatu yang keluar dari tema hidup kita, jika saja kita masih ingin mempertahankan koherensi dan struktur kehidupan kita, maka kita harus segera mengubahnya, membuang perilaku itu. Agar orang yang membaca, atau bahkan penilai karangan itu memberi kita nilai sempurna.

Maka dari itu, semenjak sekarang gunakanlah kembali ilmu itu, tentukan dengan segera apa tema hidupmu: apakah hidup bertema surga, ataukah hidup bertema neraka? Tentukan sekarang juga. Jangan sampai menyesal. Kemudian segera kembangkan tema itu ke dalam pokok-pokok pikiran. Dari pokok pikiran hidup itu buatlah kisah, paragraf kehidupan yang sejalan dengannya dan senapas dengan tema utama. Pertahankan susunan dan strukturnya agar terjaga koherensinya dengan tema utama hidup kita.jangan sampai ketika karangan sudah ditulis, asal jalan, kacau balau. Lalu, pada paragraf terakhir, kita baru tersadar belum menentukan tema. Saat semua sudah terlalu terlambat untuk memulai. Maka selagi masih ada kesempatan,  tentukan ia dari sekarang.

Jadi, apakah tema hidupmu?


*Repost dengan sedikit suntingan dari tulisan lama

3/1/12

Tentang Takdir dan Rela

Sejatinya takdir itu akan selalu mewarnai hidup kita, baik itu takdir baik maupun takdir buruk, maka jika itu menimpamu, tak perlu kiranya kau risaukan. Bukankah itu yang tersebut didalam rukun iman keenam? “Dan engkau beriman kepada takdir, yang baik dan yang buruk.”

Foto: Tumpukan Batu
Dalam setiap kejadian, selalu ada hikmah. Dan kita diharuskan untuk menggalinya. Maka saya sangat tersentuh ketika Tarbawi menurunkan pembahasan tentang belajar memahami. Rabb, ajarkan kami memahami semua ini. Bahwa dalam setiap takdir selalu ada rela yang harus kita jaga. Rela dengan ketetapan-Nya.

Maka tentang rela kita bisa belajar dari Urwah bin Zubair r.a. yang waktu itu kehilangan anaknya sekaligus kehilangan salah satu kakinya (kakinya patah). Beliau berujar, “Ya Allah, hanya untuk-Mu lah segala pujian. Engkau memberiku empat anggota badan, engkau ambil satu dan menyisakan tiga. Dan segala puji hanya untuk-Mu, sebelumnya aku mempunyai tujuh orang anak lalu engkau ambil seorang dan menyisakan enam yang lain, segala pujian atas apa yang Engkau berikan, segala pujian atas apa yang Engkau ambil. Aku persaksikan kepada kalian bahwa aku rela kepada Rabbku.”

Di sisi lain, seorang sahabat yang sangat terkenal dengan doanya yang makbul, Saad bin Abi Waqash r.a. yang kala itu mengunjungi Mekah. Maka para penduduk segera mengerumuninya untuk minta didoakan oleh sahabat yang telah tua dan buta ini. Ketika semua telah pergi, seorang anak berbicara padanya, “Engkau berdoa untuk kebaikan orang lain, andai saja engkau berdoa untuk kebaikan dirimu sendiri agar Allah mengembalikan penglihatanmu.” Maka ia pun tersenyum dan berkata, “Anakku, Ketetapan Allah atas diriku lebih baik bagiku dari penglihatanku.”

Oleh karenanya, jika sesuatu telah menimpa kita, tak perlu berlarut-larut menyalahkan diri, segera bangkitlah dan berbuat sesuatu, memperbaikinya. Karena menyesal dan berbuat lebih baik daripada hanya merutuki nasib. Karena sejatinya ia telah ditakdirkan oleh Allah. Maka usaha kita adalah memperbaiki takdir kita dengan menjemput takdir Allah yang lebih baik.

Sungguh indah perkataan Shalahudin al-Ayubi, “Bukan kita yang memilih takdir. Takdirlah yang memilih kita. Bagaimanapun takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat.”

Maka kejadian yang menimpa beberapa waktu ini setidaknya membuat saya belajar untuk lebih arif. Lebih hati-hati dalam bertindak, dalam berhubungan dengan sesama, dan dalam segala hal. Dan yang lebih penting lagi untuk memperbaiki diri.

*Terima kasih untuk saudaraku, terima kasih untuk kain pembersih kacamatanya, kacamataku yang buram sudah bisa dipakai melihat dengan lebih jelas. Karena dunia memanglah tidak sepicisan itu :D Hamasah!

** repost from my multiply blog here

2/23/12

Secangkir Nikmat yang Kerap Terlewat

Kadang, nikmat itu harus ditiadakan atau dikurangi terlebih dahulu agar kita bisa mensyukurinya. Begitulah manusia. Betapa banyak nikmat yang ia terima setiap hari, tetapi ia tidak pernah mensyukurinya. 


Namun sudah menjadi tabiat manusia itu sendiri, bahwa ia adalah makhluk yang mudah mengeluh. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir" (Al-Ma'aarij: 19). Maka seringkali nikmat yang banyak itu seolah tertutup hanya oleh secuil permasalahan yang ia hadapi. Padahal sekiranya ia hitung-hitung lagi, permasalahan yang ia derita tidaklah lebih besar dari karunia yang ia terima. 


Lihatlah, setiap kita bangun pagi, seharusnya selalu ada alasan bagi kita untuk bersyukur. Bahwa kita masih bernyawa, tidak sekadar bernyawa, kita juga masih sadar. Betapa banyak manusia yang hari ini masih bernyawa tapi mereka tergeletak tak tersadar di ruang ICU. Tidak sekadar sadar, kita pun masih bisa jalan-jalan. Lihatlah betapa banyak di antara kita yang sekadar sadar, sementara untuk menggerakkan tangannya saja tidak bisa. 


Perhatikan, kita masih bisa melihat, masih bisa bernapas dengan lega, tangan dan kaki kita masih bisa digerakkan, dan lain sebagainya. Nikmat-nikmat yang sangat banyak itu, yang jika dihitung seharian mungkin kita tak akan sanggup bersyukur atas semua itu. Atas nikmat yang banyak ini, tak pantas sebenarnya bagi kita untuk bersedih apalagi ingkar. 


Namun, sesuai sifatnya, manusia itu sering lalai atas karunia ini. Ia baru sadar ketika nikmat itu dicabut. Dan pagi tadi, ternyata saya merasakannya. Entah karena sudah uzur atau faktor yang lain, pompa air di kost saya rusak sehingga persediaan air di bak habis. Akibatnya air tidak cukup untuk mandi. Berbeda dengan saya masih kebagian air untuk mandi, ketika teman saya ingin mandi, air sudah habis. Maka jadilah pagi tadi kami berangkat pagi-pagi ke kantor buat numpang mandi. he...


Nikmat berupa air yang tersedia tiap hari ternyata luput dari rasa syukur kami. Dan kami baru disadarkan dengan hilangnya nikmat itu. Ya, banyak nikmat di sekitar kita, yang kita rasakan dan nikmati, tetapi karena sudah biasa kita dapatkan, seringkali kita lalai dari mensyukurinya. Melalui peristiwa ini, semoga ke depan bisa istiqamah untuk selalu bersyukur atas segala nikmat, meski itu terlihat sederhana.

2/18/12

Sesederhana Berbagi

Ahad malam itu, ba'da  shalat Isya' di masjid dekat kos, saya diingatkan kembali tentang sebuah hikmah, berbagi dalam maknanya yang paling sederhana. Berbagi ketulusan, berbagi dengan apa yang kita punya. Malam itu, terlihat seorang ustadz menghadapi sejumlah jama'ah memberikan materi pengajaran bahasa Inggris. Saya tidak tahu latar belakang pendidikan beliau, tetapi dari penampilannya, terlihat bahwa beliau lebih pantas menyampaikan materi pelajaran bahasa Arab. Terbukti, di tengah materi tidak jarang beliau menyepadankan sebuah kata dengan artinya dalam bahasa Arab.

 Meski tidak bisa dibilang banyak, tetapi jumlah peserta pengajaran bahasa Inggris di masjid ini   lumayan juga. Terdiri dari anak SD, anak SMA hingga bapak-bapak, serta tak lupa beberapa sarjana dan diploma. Barangkali karena peserta yang beragam inilah, materi yang disampaikan menjadi kurang terstruktur dan cenderung gado-gado. Barangkali sang ustadz tidak menyangka bahwa pesertanya akan seheterogen ini. 

 Di luar fakta bahwa terdapat sedikit kesalahan yang beliau lakukan ketika memberikan pelajaran sehingga mendorong saya melakukan koreksi, ada hal yang ingin saya garis bawahi di sini, bahwa berbagi itu ternyata tak harus mahal dan bahwa akan selalu ada yang bisa kita bagi, meski kita hanya punya sedikit. Tetapi prinsipnya memang untuk berbagi kita harus punya dulu. Bapak itu mungkin tidak terlalu jago untuk urusan bahasa Inggris, tetapi beliau mendedikasikan apa yang dipunya itu dengan berbagi, meski dengan materi yang sederhana. Tetapi itulah usaha beliau. 

 Saya pun tergelitik bertanya pada diri saya: “Bagaimana denganku? Bukankah kau juga punya hal yang bisa kau bagi, mungkin lebih banyak dari bapak itu, mengapa tidak kau lakukan?” Saya benar-benar merasa malu. Apalagi ketika kemudian sang ustadz bertanya latar belakang pendidikan saya, yang lantas dengan malu-malu saya jawab: “Sastra Inggris”.  Akhirnya beliau meminta saya untuk meluangkan waktu hadir dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya. Sebuah permintaan yang mungkin tak bisa saya penuhi secara maksimal. Pasalnya, seringkali saya berada di perjalanan antara Jogja-Jakarta pada saat pertemuan itu berlangsung. Tetapi dalam hati saya berjanji, jika saya tidak pulang, saya akan hadir, insya Allah. 

 Ya, malam itu saya belajar tentang sebuah hal, bahwa ternyata ada hal-hal kecil yang bisa dibagi. Ia tidak harus sesuatu yang muluk, ia bahkan bisa sangat sederhana. Semampu kita, yang penting tulus. Sesederhana dan setulus senyum dan wajah berseri yang kita tampakkan pada saudara kita.[] 

Intermezzo

Travel

Teknologi